The World Bank - Working for a world free of poverty

Views menu

Syndicate content
Making development work for all

About us

About us

East Asia & Pacific is facing some great development challenges today: urbanization, protection of the environment, the need to find renewable energy sources and many others. This site wants to create a conversation around those important issues. More »

Indonesia

Indonesia: A return to Aceh amidst hopes for peace and prosperity

Juga tersedia di Bahasa

My first trip to Aceh was in August 1998, four months after the resignation of former President Soeharto. It was the height of Indonesia's pro-democracy Reformasi movement, and many journalists thought that travel permits were still required, as it had been for decades. My friend and I were venturing as 'tourists'. In many villages, the legacy of repression remained: razed houses, shuttered schools, and households run by widows. Poverty was unavoidable; violence and economic growth are often incompatible.

Indonesia: Kembali ke Aceh di tengah harapan bagi perdamaian dan kesejahteraan

Available in English

Saya pertama kali berkunjung ke Aceh pada Agustus 1998, empat bulan setelah mantan Presiden Soeharto meletakkan jabatannya. Saat itu adalah puncak gerakan Reformasi di Indonesia, dan banyak wartawan yang mengira bahwa masih dibutuhkan izin kunjungan untuk pergi ke Aceh, seperti yang memang dibutuhkan selama beberapa dekade. Saya dan rekan saya berkunjung sebagai “wisatawan”. Warisan penindasan memang masih banyak tersisa di banyak desa: runtuhan rumah-rumah, sekolah-sekolah yang tutup dan rumah tangga yang dikepalai oleh janda-janda. Kemiskinan tidak dapat dihindari: kekerasan dan pertumbuhan ekonomi hampir tidak pernah berjalan bersama.

Perlu pencarian terobosan inovasi, kirim ide anda sekarang

Available in English

Henry Ford pernah berkata, ketika ia bertanya kepada para konsumen apa yang mereka mau, mereka menjawab kuda yang lebih cepat. Andai saja ia mendengar permintaan konsumennya, mungkin saja Ford Motor Company tidak akan pernah ada, atau ada tetapi dengan nama Ford Faster Horse Company. Pada saat itu mobil menjadi apa yang disebut “pencarian terobosan inovasi”, yang berarti secara radikal menggantikan teknologi yang ada (kuda dan kereta kuda), tidak dengan mendengar permintaan sebagian besar konsumen tapi mencoba mencari tahu kebutuhan mereka yang sebenarnya.

Menjawab Tantangan Reformasi: Melakukan Bisnis di Indonesia

Available in English

Ambisius dan naik pesat – kata-kata ini secara tepat menggambarkan Indonesia yang modern. Di tengah melambatnya ekonomi global, pada tahun 2009 Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ketiga di antara negara G-20 dan terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 6,4% pada tahun 2012. Meningkatkan daya saing ekonomi dengan menciptakan iklim bisnis yang lebih kondusif merupakan salah satu prioritas Indonesia untuk tahun 2010-2014.

Like other cities in Indonesia, Banda Aceh has made strides in many areas measured.

Tujuh tahun kemudian: Mengingat tsunami di Aceh

Juga tersedia di English

Jumlahnya terus meningkat. Pada awalnya dilaporkan 13.000 jiwa. Keesokan harinya menjadi 25.000. Lalu dilaporkan kembali 58.000. Di penghujung minggu, pada tanggal 1 Januari 2005, jumlah korban tsunami di Asia telah mencapai 122.000. Dan jumlah tersebut terus meningkat, tidak ada satu orang pun yang tahu kapan jumlah tersebut akan berhenti meningkat.

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

 
 

Seven years on: Remembering the tsunami in Aceh, Indonesia

Also available in Bahasa

The number just kept getting bigger and bigger. At first it was a staggering 13,000. The next day, over 25,000. And then, 58,000. By the end of the week, on January 1st, 2005, the death toll of the Asian Tsunami had reached 122,000. Yet the number kept climbing, and nobody knew when it would stop. 

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

 
 

Shoe molds and scuba divers: How natural disasters affect our supply chains

Photo courtesy of ianmyles through a Creative Commons license

Available in ภาษาไทย

Like the massive earthquake in Japan earlier this year, the floods in Thailand are again exposing the vulnerabilities of fragmented global supply chains.

Last month, a team of economists from the World Bank’s International Trade Department encountered some flooding side-effects during a visit to the Indonesian production site for ECCO, a Danish company that manufactures footwear. In order to transfer production to the factory in Indonesia, the workers needed the specific shoe molds used in the Thai factory. But there was a problem: The Thai factory was under three meters of water.

แม่พิมพ์รองเท้ากับนักประดาน้ำ: ผลกระทบจากภัยพิบัติทางธรรมชาติต่อห่วงโซ่อุปทาน

ภาพภ่ายโดย iamyles ผ่านการใช้ลิขสิทธิ์จากครีเอทีฟคอมมอนส์

ยังมีอีกที่: English

เช่นเดียวกับแผ่นดินไหวครั้งรุนแรงที่ญี่ปุ่นเมื่อต้นปี ภาวะน้ำท่วมในประเทศไทยได้ตอกย้ำให้เห็นอีกครั้งถึงความเปราะบางของห่วงโซ่อุปทานสินค้าของโลกที่แบ่งกระจัดกระจายอยู่ตามประเทศหรือภูมิภาคต่างๆ

เมื่อเดือนที่แล้ว ทีมนักเศรษฐศาสตร์จากแผนกการค้าระหว่างประเทศ (International Trade Department) ของธนาคารโลกได้พบเห็นปัญหาบางประการอันเป็นผลข้างเคียงจากภาวะน้ำท่วมดังกล่าวในระหว่างการเยือนโรงงานผลิตรองเท้าที่ประเทศอินโดนีเซียของบริษัทเอ็คโคจากเดนมาร์ก ในการที่จะย้ายการผลิตไปยังโรงงานที่อินโดนีเซียนั้น คนงานจำเป็นต้องใช้แม่พิมพ์รองเท้าแบบเฉพาะที่ใช้ในโรงงานที่ประเทศไทย แต่ปัญหาคือ โรงงานไทยกำลังจมอยู่ใต้น้ำระดับสามเมตร

Our home, our village, we shall rebuild it

Available in Bahasa

In September this year I visited a number of communities in Yogyakarta, in Java, Indonesia, who were rebuilding their lives and homes after experiencing a series of natural disasters. The reconstruction process which I saw is perhaps in example of post-disaster community participation at their best.

Our home, our village, we shall rebuild it

Rumah kami, desa kami, kami akan bangun kembali

Juga tersedia di English

Pada bulan September tahun ini, saya mengungjungi masyarakat beberapa desa di Yogyakarta yang tengah membangun kembali rumah dan kehidupan mereka setelah mengalami serangkaian bencana alam. Pembangunan kembali yang saya lihat merupakan contoh bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi dalam situasi pasca bencana.

Rumah kami, desa kami, kami akan bangun kembali