Syndicate content

Indonesia

Penyedotan tangki septik di Indonesia

Maraita Listyasari's picture
Also available in: English
Umumnya di masyarakat Indonesia terdapat anggapan: “jamban yang baik adalah yang memiliki tangki septik besar dan tidak kedap sehingga, jadi tidak perlu disedot”. Oleh karenanya, sebagian besar tangki septik ditutup permanen dengan beton, dan seringkali berada di dalam rumah atau langsung di bawah jamban tanpa dilengkapi penutup yang mudah diakses.

Emptying Indonesia’s toilets

Maraita Listyasari's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
Communities in Indonesia have a saying about toilets: “a good sanitation system is a large leaking tank that will never need emptying.”  That is because most septic tanks are built under a concrete tank cover, often inside the house or directly under the toilet, without access to lids or manholes.  They often do not require emptying for many years.

Menyediakan dana yang cukup bagi sekolah di Indonesia

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: English



Tahun ini Indonesia merayakan satu dekade pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah. Program ini bertujuan untuk memastikan agar sekolah memiliki dana yang cukup untuk beroperasi, mengurangi biaya pendidikan yang ditanggung oleh rumah tangga, serta meningkatkan manajemen berbasis sekolah. Program hibah sekolah ini berukuran sangat besar dan mencakup sekitar 43 juta siswa sekolah dasar dan sekolah menengah di seluruh Indonesia. Tiap tahun, sebuah sekolah menerima Rp 580.000 untuk tiap siswa sekolah dasar dan Rp 710.000 untuk tiap sekolah menengah pertama[1]. Secara total rata-rata jumlah hibah per tahun menjadi sekitar Rp 230 juta untuk tiap sekolah menengah tingkat pertama.

Sejak saya datang ke Indonesia, saya telah mengunjungi banyak sekolah secara teratur untuk melihat perkembangan BOS. Saya mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan orangtua dari keluarga miskin tentang bagaimana program ini telah membantu menurunkan biaya pendidikan yang harus mereka keluarkan. Para kepala sekolah juga berbagi dengan saya tentang bagaimana BOS membantu mereka dalam banyak hal untuk memberikan peluang pelatihan yang diperlukan guru untuk meningkatkan proses belajar-mengajar di kelas.

Providing schools with the money they need

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



This year, Indonesia celebrates the first decade of its school grant scheme BOS (Bantuan Operasional Sekolah). The program aims to ensure that schools have sufficient funds to operate, reduce the education costs faced by households and improve school based management. The program is huge and covers approximately 43 million primary and secondary school students across Indonesia. Every year, schools receive $50 for each primary and $60 for each junior secondary school student[1]. This translates into an annual grant of about $20,000 for the average junior secondary school.  
 
Since I arrived in Indonesia we have visited schools regularly to check on the progress of BOS. I have talked with poor parents about how the program has helped to lower the education costs they face. School Principals have shared with me the many ways BOS has enabled them to provide the training opportunities their teachers need to improve classroom practice. School visits have also highlighted some of the challenges the program has faced in ensuring funds are used transparently. In one school, the necessary public noticeboard displaying information on the use of BOS funds was pulled out from behind a cupboard and contained information that was a year out of date.

ถึงเวลาที่ต้องสร้างความแข็งแกร่งให้กับการลดความเสี่ยงจากภัยพิบัติในเอเชียตะวันออกและแปซิฟิก

Axel van Trotsenburg's picture
ใน PDF: Korean | Khmer

ทุกครั้งที่ผมทราบข่าวว่ามีภัยพิบัติทางธรรมชาติเกิดขึ้น ผู้คนบาดเจ็บเสียชีวิต บ้านเรือนพังเสียหาย ชีวิตความเป็นอยู่ของผู้คนที่ประสบภัยต้องเปลี่ยนแปลงไป ผมรู้ว่าเราต้องทำอะไรสักอย่างเพื่อช่วยลดผลกระทบอันน่าสลดใจนี้ แทนที่จะรอให้มันเกิดขึ้นอีก

เรามีโอกาสจะผลักดันเรื่องนี้ในการประชุมนานาชาติเรื่องการลดความเสี่ยงจากภัยพิบัติที่จัดขึ้นปีนี้ ณ เมืองเซนได ประเทศญี่ปุ่น เพื่อสรุปแนวทางการดำเนินงานกรอบการดำเนินงานเฮียวโกะ ระยะที่ 2 (Hyogo Framework for Action-HFA2) ซึ่งเป็นแนวทางในการบริหารจัดการความเสี่ยงจากภัยพิบัติแก่ผู้กำหนดนโยบายและผู้มีส่วนเกี่ยวข้องในระดับนานาชาติ การประชุมครั้งนี้ถือเป็นโอกาสที่จะตั้งเป้าหมายในการลดความเสี่ยงจากภัยพิบัติและต่อสู้กับความยากจนอีกด้วย

ภัยพิบัติจากธรรมชาติมีมูลค่าความเสียหายมหาศาล ในรอบ 30 ปีที่ผ่านมา มีผู้เสียชีวิตไปแล้ว 2 ล้าน 5 แสนคน และสร้างความสูญเสียเป็นมูลค่า 4 ล้านล้านเหรียญสหรัฐฯ นอกจากนี้ยังส่งผลกระทบให้การพัฒนาชะงักลง

ในภูมิภาคเอเชีย การพัฒนาเขตเมืองอย่างรวดเร็วผนวกกับการวางผังเมืองยังไม่มีคุณภาพได้เพิ่มความเสี่ยงให้เมืองต่าง ๆ เป็นอย่างมาก โดยเฉพาะเมืองที่ตั้งอยู่แถบชายฝั่งและลุ่มแม่น้ำที่มีประชากรอาศัยอยู่หนาแน่น พายุไต้ฝุ่นไห่เยี่ยนได้คร่าชีวิตผู้คนกว่า 7,350 คนในฟิลิปปินส์ เมื่อปี 2556 แล้วยังส่งผลโดยตรงให้ความยากจนเพิ่มขึ้นร้อยละ 1.2

Sekaranglah waktunya memperkuat pengendalian risiko bencana di Asia Timur dan Pasifik

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Setiap kali saya diberitahu terjadinya kembali sebuah bencana alam – tentang korban jiwa masyarakat, rumah-rumah yang hancur, matapencaharian yang hilang – saya teringat bagaimana pentingnya kita perlu bertindak guna mengurangi dampak tragedi tersebut. Kita  tidak bisa menunggu sampai bencana kembali terjadi.

Pada World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, yang akan berupaya mencari penerus Hyogo Framework for Action (HFA2) -- panduan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan internasional dalam bidang manajemen risiko bencana – peluang itu ada di tangan kita. Konferensi ini adalah peluang untuk menjadi tonggak penting dalam hal pengendalian risiko bencana dan pengentasan kemiskinan.

Biaya akibat bencana alam sudah sangat tinggi. Dalam periode 30 tahu, sekitar 2,5 juta korban jiwa dan $4 triliun hilang akibat bencana, dan hal ini berdampak pada upaya pembangunan.

Di Asia, urbanisasi yang pesat serta perencanaan yang kurang baik telah secara signifikan mempertajam kerentanan kota, khususnya perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terletak di pesisir atau tepi sungai. Lebih dari 7.350 korban jiwa jatuh akibat Badai Haiyan  di Filipina pada tahun 2013, dan bencana tersebut secara langsung mengakibatkan naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,2 persen.

加强东亚太平洋地区减少灾害风险的时候到了

Axel van Trotsenburg's picture
每当我听说又发生了自然灾害——人员伤亡,家园被毁,生计丧失——我就知道我们必须要减少这些悲惨后果,而不是坐等灾害再次来袭。

今年在日本仙台举办的世界减少灾害风险大会将给我们这个机会。此次大会寻求落实《兵库行动框架》后续框架,为政策制定者和国际利益攸关方管理灾害风险提供指导。此次大会是为减少灾害风险和战胜贫困设立新的里程碑的一个契机。

自然灾害的代价已经十分高昂——在过去30年里人员和财产损失高达4万亿美元,对发展努力造成了巨大的打击。
 

Now is the time to strengthen disaster risk reduction in East Asia and the Pacific

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Every time I learn of another natural disaster – the people killed and injured, homes destroyed, livelihoods lost – I know we must act to reduce the tragic impact instead of waiting for the next disaster strikes.

We have that chance with this year’s World Conference on Disaster Risk Reduction in Sendai, which seeks to finalize the successor to the Hyogo Framework for Action (HFA2) that guides policymakers and international stakeholders in managing disaster risk. The conference is an opportunity to set new milestones in disaster risk reduction and fighting poverty.

The cost of natural disasters already is high – 2.5 million people and $4 trillion lost over the past 30 years with a corresponding blow to development efforts.

In Asia, rapid urbanization combined with poor planning dramatically increases the exposure of cities, particularly those along densely populated coasts and river basins. Typhoon Haiyan, which killed more than 7,350 people in the Philippines in 2013, directly contributed to a 1.2 percent rise in poverty.
 

Kenapa kita perlu #Get2Equal

Sri Mulyani Indrawati's picture
Gaji perempuan sering lebih rendah dari pada laki-laki, sementara perempuan juga mengerjakan sebagian besar pekerjaan yang tidak dibayar. © Mariana Ceratti/World Bank

Halaman ini dalam: English | Español | Français | العربية | 中文

​​Perempuan kian mengemuka sebagai suatu kekuatan besar dalam mendorong perubahan. Negara-negara yang telah berinvestasi dalam pendidikan bagi perempuan muda serta meniadakan batasan hukum yang selama ini menghalangi perempuan dalam mewujudkan potensial mereka, kini mulai merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.

Ambillah, misalnya, di negara-negara Amerika Latin. Lebih dari 70 juta perempuan telah memasuki dunia kerja dalam beberapa tahun belakangan. Dua pertiga dari peningkatan kesertaan perempuan di dunia kerja dalam dua dekade terakhir dapat diatribusikan kepada ketersediaan pendidikan yang lebih tinggi dan kenyataan bahwa perempuan menikah lebih lambat dan memiliki jumlah anak yang lebih sedikit. Sebagai akibatnya, antara tahun 2000 dan 2010, pendapatan perempuan menyumbangkan sekitar 30 persen penurunan kemiskinan ekstrem di kawasan tersebut.

Revisi PDB Indonesia: Potret yang Lebih Tepat

Alex Sienaert's picture
Also available in: English



Badan Pusat Statistik telah mengeluarkan statistik triwulan nasional pada 5 Februari 2015. Biasanya data yang diterbitkan secara triwulanan akan mengundang keingintahuan yang besar (setidaknya bagi para ekonom makro dan pengamat ekonomi yang selalu haus akan perkembangan data terbaru tren pertumbuhan jangka pendek). Namun data yang dihasilkan BPS kali ini mempunyai kekhususan karena selain memberikan data triwulan  tahun 2014, juga terdapat dua revisi signifikan terhadap statistik PDB Indonesia yaitu: (1) menggeser tahun dasar perhitungan PDB dari tahun 2000 menjadi 2010, dan (2) mengadopsi metodologi dan presentasi statisik yang jauh lebih baru (yaitu memperbaharui perhitungan neraca nasional dari Sistem SNA 1993 menjadi SNA 2008).[1]

Dengan adanya revisi ini, hal baru apa yang bisa diketahui tentang perkembangan ekonomi Indonesia yang tidak kita ketahui sebelumnya? Satu perubahan yang langsung terlihat adalah: output total dengan harga nominal saat ini menjadi sekitar 4,4 persen lebih besar dibanding estimasi pada tahun 2014 (dan rata-rata 5,2 persen lebih besar pada periode 2010-2014). Hal ini merupakan perubahan yang signifikan menambah Rp 448 triliun, atau sekitar USD 35,3 milyar pada besaran estimasi ekonomi Indonesia pada tahun 2014. Menurut BPS, sekitar sepertiga output tambahan tersebut adalah hasil penyertaan beberapa aktivitas ekonomi baru di bawah SNA 2008, dan sekitar dua-pertiga berasal dari perbaikan pengukuran.

Pages