Syndicate content

Indonesia

Education user committee improves teacher service performance in a remote Indonesian village

Dewi Susanti's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
Chair and members of the Education User Committee announce the teachers’ performance scores in a meeting attended by the representatives from the Ministry of Education and Culture, the sub-district education department, the village government staff, the school staff, and community members.

Kelompok Pengguna Layanan tingkatkan kinerja layanan guru di desa terpencil di NTT

Dewi Susanti's picture
Also available in: English
Ketua dan anggota Kelompok Pengguna Layanan mengumumkan nilai kinerja guru dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dinas pendidikan tingkat kabupaten, perangkat desa dan pihak sekolah, serta anggota masyarakat.

Membangun potensi UU Desa Indonesia untuk meningkatkan mutu Pendidikan Anak Usia Dini

Thomas Brown's picture
Also available in: English



Indonesia terus membuat langkah maju dalam memperluas akses pendidikan anak usia dini (PAUD) di seluruh nusantara yang sekarang mencapai sekitar  70.1% dari anak usia 3-6 tahun.  Meskipun ketersediaannya meningkat, mutu layanan masih rendah, terutama di daerah pedesaan dan daerah dengan pendapatan rendah.  Selain itu, masih ada ketergantungan pada guru yang kurang memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, serta banyaknya  guru yang memperoleh pelatihan formal yang tidak memadai, atau bahkan sama sekali tidak mendapat pelatihan.

Tapping the potential of Indonesia’s Village Law to increase quality of Early Childhood Education

Thomas Brown's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Indonesia continues to make strides in expanding access to early childhood education (ECE) across its vast archipelago, now reaching some 70.1% of 3-6 year olds. Yet despite this increased availability, quality of services continue to be poor, especially in rural and low-income areas. In particular, there continues to be reliance on under-qualified teachers, with many having received inadequate formal training, or none at all.

Partnerships, cornerstone to achieve Indonesia’s sustainable peatland restoration targets

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
Peatland. Photo: Tempo


“Peatlands are sexy!” They aren’t words you would normally associate with peatlands, but judging from the large audience that participated in the lively discussion on financing peatland restoration in Indonesia at the “Global Landscapes Forum: Peatlands Matter” conference, held May 18 in Jakarta, it seems to be true. The observation was made by Erwin Widodo, one of the speakers in the World Bank-hosted panel discussion at the event.

For me, it was a great honor to moderate a panel comprised of several of the leading voices in the space: Kindy Syahrir (Deputy Director for Climate Finance and International Policy, Finance Ministry), Agus Purnomo (Managing Director for Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement, Golden Agri-Resources), Erwin Widodo (Regional Coordinator, Tropical Forest Alliance 2020), Christoffer Gronstad (Climate Change Counsellor, Royal Norwegian Embassy), and Ernest Bethe (Principal Operations Officer, IFC).

It was the right mix of expertise to address the formidable challenges in securing resources to finance sustainable peatland restoration in Indonesia. These include finding solutions to plug the financing gap, and identifying instruments and the regulatory framework necessary to strengthen the business case for peatland restoration. A significant amount of finance has been pledged. But one of the key issues the panel needed to address was how to redirect available finance towards more efficient and effective outcomes to reach sustainable restoration targets.

Jalinan permitraan, fondasi mencapai sasaran restorasi gambut berkesinambungan di Indonesia

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: English
Lahan Gambut. Foto: Tempo

“Gambut itu seksi!” Tentu bukan rangkaian kata yang lazim dikaitkan dengan lahan gambut. Namun dari besarnya animo peserta yang berpartisipasi dalam diskusi tentang pendanaan restorasi gambut di Indonesia pada konferensi “Global Landscapes Forum: Peatlands Matter,” di Jakarta pada 18 Mei lalu, tampaknya cetusan tersebut benar. Pengamatan jitu tersebut dicetuskan Erwin Widodo, salah satu pembicara dalam sesi diskusi yang dipandu Bank Dunia.

Bagi saya, sungguh merupakan kehormatan dapat menjadi moderator bagi panel yang terdiri dari tokoh-tokoh utama dalam bidang ini: Kindy Syahrir (Wakil Direktur Pendanaan Lingkungan Hidup dan Kebijakan Internasional, Kementerian Keuangan), Agus Purnomo (Managing Director for Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement, Golden Agri-Resources), Erwin Widodo (Koordinator Regional, Tropical Forest Alliance 2020), Christoffer Gronstad (Climate Change Counsellor, Kedutaan Besar Norwegia), dan Ernest Bethe (Principal Operations Officer, IFC).

Melihat pengalaman masing-masing, komposisi pembicara merupakan kombinasi yang tepat untuk membahas berbagai tantangan luar biasa dalam mengakses pendanaan bagi restorasi gambut berkesinambungan di Indonesia. Tantangan tersebut termasuk mencari solusi untuk menutup kesenjangan dalam pendanaan, serta mengidentifikasi instrumen dan kerangka kebijakan yang akan memperkuat dorongan dunia usaha terjun dalam restorasi gambut. Dana yang telah dijanjikan untuk restorasi gambut sesungguhnya cukup besar. Namun salah satu isu utama yang harus diurai pembicara adalah bagaimana mengarahkan pendanaan tersebut guna mencapai hasil yang lebih efisien dan tepat guna, menuju sasaran-sasaran restorasi yang berkesinambungan.

Semua perlu terlibat: bukti baru perlunya pendekatan multi sektoral untuk mengurangi stunting pada anak

Emmanuel Skoufias's picture
Also available in: English



Di Indonesia, malnutrisi kronis meluas dengan lebih dari sepertiga anak-anak mengalami stunting atau pertumbuhan yang terhambat. Meskipun tingkat kemiskinan menurun dari 16,6% menjadi 11,4% dari tahun 2007 hingga 2013, tingkat stunting pada anak-anak di bawah usia lima tahun tetap sangat tinggi, di atas 37% pada tahun 2013, meskipun angka tersebut telah menurun dalam dua tahun terakhir. Stunting memiliki konsekuensi seumur hidup yang penting bagi kesehatan, juga untuk pengembangan kognitif, pendidikan, akumulasi sumberdaya manusia, dan pada akhirnya juga produktivitas ekonomi.
 
Namun, untuk mengurangi stunting, tidak cukup hanya memberi fokus pada sektor kesehatan. Perlu juga perbaikan di sektor lain seperti pertanian, pendidikan, perlindungan sosial, air, sanitasi, dan kebersihan. Seperti yang semula ditekankan dalam kerangka konseptual UNICEF, untuk memastikan bahwa seorang anak menerima nutrisi yang cukup bergantung pada empat faktor penting: asuh, kesehatan, lingkungan, dan ketahanan pangan, bidang-bidang yang mencakup beberapa sektor.

All hands on deck: new evidence on the need for a multi-sectoral approach to reducing childhood stunting

Emmanuel Skoufias's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



In Indonesia, chronic malnutrition is widespread with more than one-third of young children being stunted. Despite the reduction of the poverty rate from 16.6% to 11.4% from 2007 to 2013, the rate of stunting amongst children under the age of five has remained alarmingly high, exceeding 37% in 2013, although that figure has declined in the last two years. Stunting has important lifelong consequences for health, as well as for cognitive development, education, human capital accumulation, and ultimately for economic productivity.

However, to reduce stunting it’s not only important to focus on the health sector. It also requires improvements in other sectors such as agriculture, education, social protection, and water, sanitation, and hygiene (WASH). As originally emphasized by the UNICEF conceptual framework, to ensure that a child receives adequate nutrition depends on four critical factors: care, health, environment, and food security, areas that straddle multiple sectors.

Learning for all: shared principles for equitable and excellent basic education systems

Raja Bentaouet Kattan's picture
More than 200 participants – including government officials, policymakers and education experts from over 20 countries gathered in Jakarta, Indonesia, for the global conference Learning for All: Shared Principles for Equitable and Excellent Basic Education Systems.

The conference addressed themes related to improving learning outcomes for all students, including how to support effective teaching and early childhood development, balancing school autonomy and accountability, and how education systems can build the skills needed for the 21st century.   
 



For the host country, Indonesia, the forum provided a valuable chance to look more closely at issues facing its education system.

Festival Desa Inovatif Tampilkan Ide-ide Segar Penggunaan Dana Desa

Hera Diani's picture
Also available in: English


Di siang hari yang terik itu, sejumlah jambang jongkok menyambut pengunjung Taman Budaya di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
 
Para pengunjung tersebut tidak sedang mencari jamban baru, bukan pula sedang melakukan proyek perbaikan rumah. Mereka termasuk dari 350 warga desa yang ‘berbelanja’ ide-ide dan inovasi-inovasi untuk meningkatkan layanan dan infrastruktur dasar di desa-desa asal mereka.
 
Festival Desa Inovatif 2017 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, bekerja sama dengan Program Generasi Cerdas dan Sehat dari Kementerian Desa. Festival tersebut menampilkan solusi-solusi inovatif untuk menanggulangi beberapa kendala pembangunan yang mendesak yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat desa.

Pages