Syndicate content

Indonesia

Di Indonesia, Mengatasi Ketidaksetaraan Pendidikan Melalui Tata Kelola yang Lebih Baik

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in English

Sejak Panel Tingkat Tinggi PBB mengumumkan visinya untuk agenda pembangunan pasca-2015 pada bulan Mei, banyak perdebatan berpusat pada tidak adanya tujuan terkait ketidaksetaraan diantara 15 tujuan yang diusulkan dalam daftar panel. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengomentari tentang tujuan ini di Jakarta bulan Juni yang lalu, menekankan bahwa prinsip “tanpa meninggalkan siapa pun” adalah inti dari visi Panel, dan masing-masing tujuan PBB berfokus untuk mengatasi ketidaksetaraan. Pada kenyataannya, tujuan pendidikan yang diusulkan termasuk komitmen ‘memastikan setiap anak, dalam kondisi apapun, menyelesaikan pendidikan dasar sehingga dapat membaca, menulis, dan berhitung dengan cukup baik untuk memenuhi standar pembelajaran minimal’.

OpenStreetMap volunteers map Typhoon Haiyan-affected areas to support Philippines relief and recovery efforts

Zuzana Stanton-Geddes's picture


Mapping impact on houses in Tacloban

In the aftermath of a disaster, lack of information about the affected areas can hamper relief and recovery efforts. Open-source mapping tools provide a much-needed low-cost high-tech opportunity to bridge this gap and provide localized information that can be freely used and further developed.

A week ago, devastating typhoon Haiyan hit the Philippines. As the images of the horrifying destruction emerge, there is a clear need in accessing localized high-resolution information that can guide communities’ recovery and reconstruction. Responding to this challenge, over 766 volunteers have been activated by the Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) to create baseline geographic data which can be freely used by the Philippine government, donors and partner organizations to support all phases of disaster recovery.

Membangkitkan Generasi Emas Indonesia: Memperluas Wajib Belajar dari 9 Menjadi 12 Tahun

Samer Al-Samarrai's picture

Available in English | Cette page en Français



Belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan perpanjangan program wajib belajar dari 9 ke 12 tahun. Dibalik pengumuman ini tersirat keinginan untuk meraup keuntungan dari bonus demografi ini secara maksimal.
 
Beda dengan negara-negara sekawasannya, Indonesia adalah bangsa yang relatif muda; sepertiga dari populasinya dibawah usia 14 tahun. Jika program perpanjangan wajib belajar ini diterapkan dengan sukses, maka penduduk muda tersebut akan mendapat manfaat dari peningkatan akses pendidikan. Anak-anak ini membawa  peluang yang sangat besar. Ketika mereka bergerak menuju pasar tenaga kerja, mereka memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan per-kapita nasional sebelum usia penduduk mengalami penuaan  dan tingkat ketergantungan meningkat. Untuk meraih keuntungan dari bonus demografi ini, generasi yang disebut-sebut “generasi emas” oleh Mendikbud ini harus diberi pendidikan yang lebih baik, dan kesempatan belajar hingga sekolah menengah.

 

Infrastruktur Baru Aceh yang Menakjubkan

David Lawrence's picture

Available in English

Bandar udara baru di Banda Aceh seindah Taj Mahal – terang, dengan lantai marmer yang luas dan kubah yang indah. Kita bisa membayangkan ada sebuah kolam yang indah atau taman…OK, mungkin saya mulai berlebihan. Tapi bagi yang pernah merasakan bandar udara yang lama – mirip terminal bis di kota tua yang ditempeli landasan – pasti bisa mengerti kenapa saya sangat antusias.

Kapal tsunami: Wisata unik di Aceh

David Lawrence's picture

Available in English

Apa yang Anda lakukan kalau ada kapal seberat 2.600 ton mendarat di dekat rumah? Percaya atau tidak, ada beberapa orang yang bingung menjawab pertanyaan ini.

Tsunami yang menyapu Lautan Hindia pada 26 Desember 2004 tidak hanya membawa kerusakan dan korban jiwa. Kejadian tersebut juga menyapu PLTD Apung 1, kapal pembangkit listrik yang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh, naik ke darat. Seharusnya kapal ini menghasilkan listrik untuk beberapa dekade lagi untuk mengurangi keterbatasan listrik di Indonesia.

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

 

Tetapi kapal tersebut terangkat oleh tsunami hingga beberapa kilometer ke darat, tepat di tengah-tengah perumahan. Ketika saya pertama kali tiba di Banda Aceh pada tahun 2006, penduduk masih tinggal di beberapa rumah tepat di samping kapal itu. Sebuah jalan sementara dibuat mengelilingi benda besar tersebut. Di dekatnya ada kotak yang diletakkan di atas sebuah kursi, dengan tulisan tangan untuk meminta sumbangan bagi para korban tsunami. Pertanyaan yang ada di benak kami semua adalah: Apa yang akan mereka lakukan dengan sumbangan itu?

The tsunami ship: Offbeat tourism in Aceh, Indonesia

David Lawrence's picture
What do you do when a 2,600 ton ship ends up in your neighborhood? Believe it or not, there are people who’ve had to struggle with this question.

 

The tsunami that swept across the Indian Ocean on December 26, 2004, didn’t only leave behind wreckage and corpses. It also left behind the PLTD Apung 1, a power-generating barge that was docked in Banda Aceh’s Ulee Lheue port when the disaster struck.  It might have pumped out electricity for a few more decades, easing electricity shortages throughout Indonesia, before heading to the scrap heap.

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

Instead, it was lifted by the tsunami and deposited several kilometers inland, smack in the middle of a residential neighborhood. When I first arrived in Banda Aceh in 2006, people were living in houses right next to it. A makeshift road worked its way around the massive obstacle. A box sat on a chair nearby, with a hand-written sign asking for donations for tsunami victims. The question we all had was: What on earth are they going to do with it?

Pages