Syndicate content

Indonesia

Masyarakat bersatu membangun pasca bencana alam

George Soraya's picture
Also available in: English



Setelah gempa bumi besar di Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 2006, kawasan kota dan sekitarnya harus membangun kembali atau memperbaiki sekitar 300 ribu rumah.
 
Pemerintah punya pilihan menyewa 1.000 kontraktor yang masing-masing akan membangun 300 rumah, atau mengerahkan 300 ribu anggota masyarakat untuk masing-masing membangun satu rumah, rumah mereka sendiri.
 
Dengan pemerintah sebagai pemimpin proses rekonstruksi, mengambil pilihan kedua dalam mendukung program pemerintah. Ini adalah cara kerja REKOMPAK.
 

Indonesia: Turning to unity for rebuilding communities after natural disasters

George Soraya's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Following the massive earthquake in Jogjakarta, Indonesia, in 2006, the city and surrounding areas were faced with having to build or rehabilitate about 300-thousand homes.

The government had the option of hiring 1,000 contractors to build 300 houses each.  Or we could have 300 thousand people working to build one house each - their own homes. 

With the Government of Indonesia in the lead, we took the latter approach in supporting Indonesia’s efforts to rebuild communities. This is the REKOMPAK way.

Transformasi struktural Indonesia beri petunjuk di mana lapangan kerja yang bagus

Maria Monica Wihardja's picture
Also available in: English



Pepatah mengatakan “Hidup bagaikan roda – kadang di atas, kadang di bawah”.

Era ‘booming komoditas’ ketika harga minyak mentah, kelapa sawit dan batu bara melambung tinggi sudah berakhir. Sudah seyogyanya hal ini ini menjadi lampu kuning bagi Indonesia, karena peralihan ekonomi ini telah mempengaruhi pertumbuhan lapangan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Lalu, bagaimana Indonesia bisa terus menciptakan lapangan kerja baru untuk pencari tenaga kerjanya yang terus bertambah?

Jawabannya ada di sektor manufaktur dan jasa, seperti yang sudah terindikasi oleh pola sejarah yang ada.

Dalam waktu 20 tahun terakhir (di luar era krisis ekonomi di tahun 1997-1999), sektor manufaktur dan jasa menjadi sumber penting lapangan kerja baru di tengah menurunnya jumlah pekerjaan di sektor pertanian. Dari tahun 1999-2015, proporsi pekerjaan di bidang pertanian turun menjadi 34% dari 56%, dari total lapangan kerja, sedangkan sektor jasa mengalami kenaikan menjadi 54% dari 34% dan sektor manufaktur naik dari 10% menjadi 13%. 

Indonesia’s structural transformation offers clues on where to find good jobs

Maria Monica Wihardja's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



What goes up must come down.

The end of the commodities boom is a wake-up call for Indonesia, as the reversal in economic transformation has adversely impacted employment growth in recent years. How can Indonesia continue to create jobs for its growing labor force?

Jobs in manufacturing and services offer a solution, as historical patterns of job creation have shown.

In the past 20 years (excluding the economic crisis of 1997-1999), manufacturing and services have been important sources of job creation, while employment in agriculture continues to decline. From 1990 to 2015, jobs in agriculture fell to 34% from 56% of all employment, while service sector work has surged to 53% from 34%, and manufacturing jobs have increased from 10% to 13%.

Dari bukti ke dampak: Menjangkau masyarakat termiskin Indonesia dengan sasaran lebih baik

Maura Leary's picture
Also available in: English



Bukti dan analisis, ketika dipakai dengan baik, bisa menjadi dasar membuat kebijakan yang efektif. Namun,  apa yang terjadi ketika sebuah laporan analitis dipublikasikan dan temuannya disebarluaskan? Pada kasus terburuk, sebuah laporan bisa saja hanya tersimpan sampai berdebu di lemari.
 
Sebaliknya, pada kasus terbaik, bukti yang kuat dan yang disiapkan dengan baik bisa membawa dampak nyata bagi mereka yang kurang beruntung. Belum lama ini kami berusaha mencari tahu bagaimana mempraktikkannya untuk kasus di Indonesia.
 
Bantuan sosial yang efektif merupakan sesuatu yang bukan saja penting untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, tapi juga untuk menjaga agar mereka tidak jatuh miskin. Namun sering kali program-program dengan tujuan yang baik tidak menjangkau mereka yang paling memerlukannya. Masyarakat miskin tetap miskin, masyarakat rentan tetap berisiko jatuh ke dalam kemiskinan karena guncangan,, dan ruang fiskal terbuang untuk program-program yang tidak mencapai tujuannya.

From Evidence to Impact: reaching Indonesia’s poorest through better targeting

Maura Leary's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Evidence and analysis, when used well, can form the foundation for effective policymaking. But what happens once an analytical report is published, and the findings are shared? In the worst case, these reports sit collecting dust on a few lucky office shelves.

In the best cases, however, smart, rigorous, and timely evidence leads to real impact for the least well off. We set out recently to find out a bit more about how this can work in practice, looking at the case of Indonesia.
Effective social assistance is crucial not only for helping people move out of poverty, but also keeping people from falling into poverty. Too often, however, well-meaning programs do not reach those who need them the most. The poor stay poor, shocks push the vulnerable into poverty, and fiscal space is wasted on programs that are not doing what they need to do.

Naiknya kesenjangan: Mengapa ketimpangan di Indonesia naik dan apa yang perlu dilakukan?

Matthew Wai-Poi's picture
Also available in: English
In 2014, the richest 10 per cent of Indonesian households consumed as much as the poorest 54 per cent. Image by Google Maps.


Sejak tahun 1990an, ketimpangan di Indonesia naik lebih pesat dibanding negara Asia Timur manapun selain Tiongkok. Pada tahun 2002, konsumsi 10% rumahtangga terkaya setara dengan konsumsi 42% rumahtangga termiskin. Bahkan pada tahun 2014, naik menjadi 54%. Mengapa kita perlu khawatir mengenai tren ini? Apa penyebabnya, dan bagaimana pemerintah yang sekarang bisa mengatasi naiknya ketimpangan? Apa saja yang perlu dilakukan?
 
Ketimpangan tidak selalu buruk;  ketimpangan bisa memberi penghargaan bagi mereka yang bekerja keras dan berani mengambil risiko. Tetapi ketimpangan yang tinggi itu mengkhawatirkan dan bukan hanya karena alasan keadilan. Ketimpangan tinggi bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi, memperparah konflik, dan menghambat potensi generasi sekarang dan masa depan. Contohnya, riset baru mengindikasikan bahwa secara rata-rata, ketika porsi besar pendapatan nasional dinikmati oleh seperlima rumahtangga terkaya, pertumbuhan ekonomi melambat – sementara negara bisa tumbuh lebih cepat ketika seperlima rumahtangga termiskin menerima lebih banyak.

Rising divide: why inequality is increasing and what needs to be done

Matthew Wai-Poi's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
In 2014, the richest 10 per cent of Indonesian households consumed as much as the poorest 54 per cent. Image by Google Maps.




Since the 1990s, inequality has risen faster in Indonesia than in any other East Asian country apart from China. In 2002, the richest 10 per cent of households consumed as much as the poorest 42 per cent. By 2014, they consumed as much as the poorest 54 per cent. Why should we be worried about this trend? What is causing it, and how is the current administration addressing rising inequality? And what still needs to be done?

Inequality is not always bad; it can provide rewards for those who work hard and take risks. But high inequality is worrying for reasons beyond fairness. High inequality can impact economic growth, exacerbate conflict, and curb the potential of current and future generations. For example, recent research indicates that, on average, when a higher share of national income goes to the richest fifth of households, economic growth slows—whereas countries grow more quickly when the poorest two-fifths receive more.

Steak, fries and air pollution

Garo Batmanian's picture
 Guangqing Liu
Photo © : Guangqing Liu

While most people link air pollution only to burning fossil fuels, other activities such as agriculture and biomass burning also contribute to it. The complexity of air pollution can be explained by analyzing the composition of the PM2.5, one the most important air pollution indicators. 
 

Ungkapkan suaramu Indonesia! Mengusung akuntabilitas sosial layanan kesehatan

Ali Winoto Subandoro's picture
Also available in: English

 

Untuk mengetahui bagaimana akuntabilitias sosial bisa memperbaiki kualitas layanan kesehatan di Indonesia, silakan kunjungi kawasan perbatasaan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kejadian ini berlangsung di suatu siang yang panas pada bulan Agustus 2015 di kelurahan Bijaepasu, sekitar enam jam perjalanan darat dari ibukota provinsi NTT, Kupang. Di tengah panasnya udara yang mencapai 40 derajat celcius, antrian manusia melingkari sebuah puskesmas.

Sekelompok ibu dengan bayi mereka juga para manula berdiri sepanjang dinding yang hampir roboh. Antrian panjang bergerak dengan lambat. Petugas kesehatan terlihat kewalahan melayani pasien dan hampir tidak ada peralatan medis yang memadai di puskesmas tersebut.

Pages