Syndicate content

Indonesia

Pameran Pasang Surut Urbanisasi Indonesia

Gauri Gadgil's picture
Also available in: English
Photo Credit: Andres Sevtsuk, Harvard City Form Lab

Minggu lalu saya berkunjung ke Bogor, 60 kilometer dari Jakarta dan hanya perlu satu jam lima belas menit untuk menuju kesana. Namun, diperlukan waktu tiga kali lebih lama untuk kembali ke Jakarta, karena macet akibat hujan deras.

Di lokasi lain di Jakarta, banjir terjadi di beberapa tempat. Mobil-mobil terjebak semalaman di basement tempat parkir café dan restoran di Kemang – sebuah kawasan terkenal yang sering kebanjiran akibat sistem drainase yang buruk dan kurangnya ruang hijau.

Inilah secuplik kehidupan di Jakarta yang tumbuh pesat, sebuah kawasan metropolitan yang di tahun 2028 bisa menggantikan Tokyo sebagai kota Asia dengan penduduk terbanyak.
 

On Display: The Highs and Lows of Indonesia’s Urbanization

Gauri Gadgil's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
Photo Credit: Andres Sevtsuk, Harvard City Form Lab


Last weekend I visited Bogor, 60 km (37 miles) outside of Jakarta. It only took an hour and fifteen minutes to leave the city. Due to traffic caused by heavy rains, the drive back was almost three times as long.                
Elsewhere in Indonesia’s capital, neighborhoods were flooding. Cars were trapped overnight in basement parking lots of the cafes and restaurants of Kemang, a chic neighborhood where a poorly designed drainage system and lack of green space causes recurrent flooding.

Such is life in fast-growing Jakarta, a bustling metropolitan area that looks set to displace Tokyo in 2028 as Asia’s largest city by population.

Mengelola kebakaran: Upaya Indonesia untuk mencegah krisis kebakaran hutan dan lahan

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: English



Berita kebakaran hutan dan lahan bukan hal baru di Indonesia. Tapi drama penyenderaan di tengah “musim kebakaran”? Ini sesuatu yang baru, dan mendominasi deretan tajuk utama pemberitaan di awal September. Setelah mengumpulkan bukti lahan yang terbakar di area konsesi kebun sawit di Rokan Hulu, Riau, tujuh petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) disandera dan dipaksa menyerahkan atau menghapus bukti yang mereka kumpulkan.

Controlling the burn: Indonesia’s efforts to prevent forest and land fire crisis

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Forest and land fires making the news in Indonesia is nothing new. But a hostage drama in the middle of “fire season”? That’s a new twist, and indeed dominated headlines in early September. After collecting evidence of burned land within a palm oil concession in Rokan Hulu, Riau, seven inspectors from the Ministry of Environment and Forestry (MOEF) were taken captive and violently threatened to handover or delete the gathered evidence.

The logical next step toward gender equality: Generating evidence on what works

Sudhir Shetty's picture
© World Bank
College students in Vietnam. © World Bank


As in much of the rest of the developing world, developing countries in East Asia and the Pacific (EAP) have made progress in closing many gender disparities, particularly in areas such as education and health outcomes. Even on the gender gaps that still remain significant, more is now known about why these have remained “sticky” despite rapid economic progress. 

Ensuring that women and girls are on a level playing field with men and boys is both the right thing to do and the smart thing to do. It is right because gender equality is a core objective of development. And it is smart because gender equality can spur development. It has been estimated, for instance, that labor productivity in developing East Asia and Pacific could be 7-18% higher if women had equal access to productive resources and worked in the same sectors and types of jobs as men.

Masyarakat bersatu membangun pasca bencana alam

George Soraya's picture
Also available in: English



Setelah gempa bumi besar di Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 2006, kawasan kota dan sekitarnya harus membangun kembali atau memperbaiki sekitar 300 ribu rumah.
 
Pemerintah punya pilihan menyewa 1.000 kontraktor yang masing-masing akan membangun 300 rumah, atau mengerahkan 300 ribu anggota masyarakat untuk masing-masing membangun satu rumah, rumah mereka sendiri.
 
Dengan pemerintah sebagai pemimpin proses rekonstruksi, mengambil pilihan kedua dalam mendukung program pemerintah. Ini adalah cara kerja REKOMPAK.
 

Indonesia: Turning to unity for rebuilding communities after natural disasters

George Soraya's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Following the massive earthquake in Jogjakarta, Indonesia, in 2006, the city and surrounding areas were faced with having to build or rehabilitate about 300-thousand homes.

The government had the option of hiring 1,000 contractors to build 300 houses each.  Or we could have 300 thousand people working to build one house each - their own homes. 

With the Government of Indonesia in the lead, we took the latter approach in supporting Indonesia’s efforts to rebuild communities. This is the REKOMPAK way.

Transformasi struktural Indonesia beri petunjuk di mana lapangan kerja yang bagus

Maria Monica Wihardja's picture
Also available in: English



Pepatah mengatakan “Hidup bagaikan roda – kadang di atas, kadang di bawah”.

Era ‘booming komoditas’ ketika harga minyak mentah, kelapa sawit dan batu bara melambung tinggi sudah berakhir. Sudah seyogyanya hal ini ini menjadi lampu kuning bagi Indonesia, karena peralihan ekonomi ini telah mempengaruhi pertumbuhan lapangan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Lalu, bagaimana Indonesia bisa terus menciptakan lapangan kerja baru untuk pencari tenaga kerjanya yang terus bertambah?

Jawabannya ada di sektor manufaktur dan jasa, seperti yang sudah terindikasi oleh pola sejarah yang ada.

Dalam waktu 20 tahun terakhir (di luar era krisis ekonomi di tahun 1997-1999), sektor manufaktur dan jasa menjadi sumber penting lapangan kerja baru di tengah menurunnya jumlah pekerjaan di sektor pertanian. Dari tahun 1999-2015, proporsi pekerjaan di bidang pertanian turun menjadi 34% dari 56%, dari total lapangan kerja, sedangkan sektor jasa mengalami kenaikan menjadi 54% dari 34% dan sektor manufaktur naik dari 10% menjadi 13%. 

Indonesia’s structural transformation offers clues on where to find good jobs

Maria Monica Wihardja's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



What goes up must come down.

The end of the commodities boom is a wake-up call for Indonesia, as the reversal in economic transformation has adversely impacted employment growth in recent years. How can Indonesia continue to create jobs for its growing labor force?

Jobs in manufacturing and services offer a solution, as historical patterns of job creation have shown.

In the past 20 years (excluding the economic crisis of 1997-1999), manufacturing and services have been important sources of job creation, while employment in agriculture continues to decline. From 1990 to 2015, jobs in agriculture fell to 34% from 56% of all employment, while service sector work has surged to 53% from 34%, and manufacturing jobs have increased from 10% to 13%.

Dari bukti ke dampak: Menjangkau masyarakat termiskin Indonesia dengan sasaran lebih baik

Maura Leary's picture
Also available in: English



Bukti dan analisis, ketika dipakai dengan baik, bisa menjadi dasar membuat kebijakan yang efektif. Namun,  apa yang terjadi ketika sebuah laporan analitis dipublikasikan dan temuannya disebarluaskan? Pada kasus terburuk, sebuah laporan bisa saja hanya tersimpan sampai berdebu di lemari.
 
Sebaliknya, pada kasus terbaik, bukti yang kuat dan yang disiapkan dengan baik bisa membawa dampak nyata bagi mereka yang kurang beruntung. Belum lama ini kami berusaha mencari tahu bagaimana mempraktikkannya untuk kasus di Indonesia.
 
Bantuan sosial yang efektif merupakan sesuatu yang bukan saja penting untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, tapi juga untuk menjaga agar mereka tidak jatuh miskin. Namun sering kali program-program dengan tujuan yang baik tidak menjangkau mereka yang paling memerlukannya. Masyarakat miskin tetap miskin, masyarakat rentan tetap berisiko jatuh ke dalam kemiskinan karena guncangan,, dan ruang fiskal terbuang untuk program-program yang tidak mencapai tujuannya.

Pages