Syndicate content

Indonesia

Kenapa kita perlu #Get2Equal

Sri Mulyani Indrawati's picture
Gaji perempuan sering lebih rendah dari pada laki-laki, sementara perempuan juga mengerjakan sebagian besar pekerjaan yang tidak dibayar. © Mariana Ceratti/World Bank

Halaman ini dalam: English | Español | Français | العربية | 中文

​​Perempuan kian mengemuka sebagai suatu kekuatan besar dalam mendorong perubahan. Negara-negara yang telah berinvestasi dalam pendidikan bagi perempuan muda serta meniadakan batasan hukum yang selama ini menghalangi perempuan dalam mewujudkan potensial mereka, kini mulai merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.

Ambillah, misalnya, di negara-negara Amerika Latin. Lebih dari 70 juta perempuan telah memasuki dunia kerja dalam beberapa tahun belakangan. Dua pertiga dari peningkatan kesertaan perempuan di dunia kerja dalam dua dekade terakhir dapat diatribusikan kepada ketersediaan pendidikan yang lebih tinggi dan kenyataan bahwa perempuan menikah lebih lambat dan memiliki jumlah anak yang lebih sedikit. Sebagai akibatnya, antara tahun 2000 dan 2010, pendapatan perempuan menyumbangkan sekitar 30 persen penurunan kemiskinan ekstrem di kawasan tersebut.

Revisi PDB Indonesia: Potret yang Lebih Tepat

Alex Sienaert's picture
Also available in: English



Badan Pusat Statistik telah mengeluarkan statistik triwulan nasional pada 5 Februari 2015. Biasanya data yang diterbitkan secara triwulanan akan mengundang keingintahuan yang besar (setidaknya bagi para ekonom makro dan pengamat ekonomi yang selalu haus akan perkembangan data terbaru tren pertumbuhan jangka pendek). Namun data yang dihasilkan BPS kali ini mempunyai kekhususan karena selain memberikan data triwulan  tahun 2014, juga terdapat dua revisi signifikan terhadap statistik PDB Indonesia yaitu: (1) menggeser tahun dasar perhitungan PDB dari tahun 2000 menjadi 2010, dan (2) mengadopsi metodologi dan presentasi statisik yang jauh lebih baru (yaitu memperbaharui perhitungan neraca nasional dari Sistem SNA 1993 menjadi SNA 2008).[1]

Dengan adanya revisi ini, hal baru apa yang bisa diketahui tentang perkembangan ekonomi Indonesia yang tidak kita ketahui sebelumnya? Satu perubahan yang langsung terlihat adalah: output total dengan harga nominal saat ini menjadi sekitar 4,4 persen lebih besar dibanding estimasi pada tahun 2014 (dan rata-rata 5,2 persen lebih besar pada periode 2010-2014). Hal ini merupakan perubahan yang signifikan menambah Rp 448 triliun, atau sekitar USD 35,3 milyar pada besaran estimasi ekonomi Indonesia pada tahun 2014. Menurut BPS, sekitar sepertiga output tambahan tersebut adalah hasil penyertaan beberapa aktivitas ekonomi baru di bawah SNA 2008, dan sekitar dua-pertiga berasal dari perbaikan pengukuran.

Indonesia’s GDP revision: a crisper snapshot

Alex Sienaert's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Indonesia’s national statistics agency (Badan Pusat Statistik, BPS) released quarterly national accounts statistics on February 5. Any quarterly data release creates a flurry of interest (well, at least amongst macroeconomists and economy-watchers hungry for the latest update on near-term growth trends). But this is a particularly important release because, as well as providing data for the final quarter of 2014, it also incorporates two significant revisions to Indonesia’s GDP statistics: (1) it  shifts the basis of the computation from the year 2000 to 2010, and (2) it adopts a significantly updated methodology and presentation of the statistics (updating Indonesia’s national accounts from the 1993 System of National Accounts [SNA] to SNA 2008).[1]

What do these revisions tell us about Indonesia’s economy that we didn’t know before? One change immediately stands out: total output in current prices is about 4.4 percent larger than previously estimated in 2014 (and 5.2 percent larger on average over 2010-2014). This is a significant change, adding IDR 448 trillion, or about USD 35.5 billion at the current market exchange rate, to the estimated size of the economy as of 2014. Roughly a third of the extra measured output is due to the incorporation of new kinds of economic activity under SNA 2008, and about two-thirds comes from more accurate measurements of previously-measured kinds of output, according to BPS.  

Tiga pelajaran penting dari Tsunami 2004

Abhas Jha's picture
Also available in: English



Pada dasarnya saya adalah orang yang pragmatis, mengingat awal karir saya sebagai petugas kelurahan, lanjut terus ke kecamatan, di India, ketika saya bertanggungjawab untuk banyak hal yang terjadi di lapangan, mulai dari persediaan air hingga rencana penggunaan lahan pertanian. Namun saya sangat sedih dan terpukul menyaksikan dampak dari bencana tsunami 2004. Di Indonesia saja, sekitar 220.000 orang kehilangan nyawa.

Three key lessons from the 2004 Tsunami

Abhas Jha's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



I began my professional career as a sub-district and district level administrator in India-a position that makes one responsible for pretty much everything- from making sure the water comes out of the taps and the garbage is collected in the morning to helping pull accident victims out from horrific accidents and facing down stone-pelting mobs. This early experience of being thrown into the deep end of the pool gives me a somewhat pragmatic sense of perspective and equanimity. But I still recall the horror and overwhelming grief that I felt when the full impact of the 2004 Tsunami started becoming clear. In Indonesia alone approximately 220,000 people lost their lives.

Video Blog: World Bank Vice President for East Asia and Pacific visits Indonesia

Axel van Trotsenburg's picture
Video Blog: World Bank Vice President for East Asia and Pacific visits Indonesia


Axel van Trotsenburg, World Bank Vice President for East Asia and Pacific, travelled to Indonesia, where he visited the capital Jakarta and Makassar in South Sulawesi. He noted that Indonesia faces a large challenge in meeting infrastructure needs, in order to provide basic services and integrate a country with over 17,000 islands.
 

We Children Can Help Other Children Too

Mateo Fernandez's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



​Hi, my name is Mateo. I am 9 years old. Every night my mom reads me a story.  Many times she tells me a story about how some boys are fortunate to be born rich, and some are not. My mom always reminds me that I am among the fortunate.  My mom helps a program called the Program Keluarga Harapan that teaches less fortunate mothers to educate their kids. The less fortunate mothers work extra hard, because they want their children to have a better future than them.

Ketika Anak-Anak Membantu Sesama

Mateo Fernandez's picture
Also available in: English



Halo, nama saya Mateo. Umur saya 9 tahun. Tiap malam Ibu selalu membacakan cerita. Katanya di dunia ini ada anak-anak yang beruntung karena lahir dari keluarga mampu, ada pula yang tidak. Menurut Ibu saya termasuk di antara mereka yang beruntung. Ibu bekerja membantu sebuah program yang diberi nama Program Keluarga Harapan. Program ini membantu mengajarkan para ibu dari keluarga tidak mampu bagaimana mendidik anak-anaknya. Ibu dari keluarga tidak mampu harus bekerja ekstra keras, karena mereka mau anak-anaknya punya masa depan yang lebih baik.
 

Refleksi Reformasi Guru di Indonesia

Andrew Ragatz's picture
Also available in: English


Pada tahun 2005, saya merasa beruntung berada di Indonesia saat upaya reformasi guru dimulai. Parlemen Indonesia menetapkan sebuah undang-undang komprehensif mengenai guru disertai agenda yang besar. Program utamanya adalah sertifikasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan sekaligus kualitas guru secara signifikan. Guru yang telah menerima sertifikasi akan menerima gaji dua kali lipat. Syarat sertifikasi adalah memiliki gelar S1 serta kompetensi untuk memberikan pendidikan yang berkualitas.

Semua bahan untuk melakukan perubahan besar sepertinya tersedia. Regulasi yang bagus, dan upaya yang dipimpin seseorang yang mengepalai sebuah direktorat baru di Kementerian Pendidikan dengan mandat khusus untuk meningkatkan kualitas guru dan staf pendidik.

Reflections on Indonesia’s teacher reform

Andrew Ragatz's picture
Also available in: Bahasa Indonesia


In 2005, I had the great fortune of being in Indonesia just as its major teacher reform effort was beginning to take off.  Indonesia’s parliament had passed a comprehensive law on teachers, along with its ambitious agenda. Its signature program of certification intended to dramatically improve both teacher welfare and quality.  Certified teachers would receive a doubling of salary, and certification was to require that teachers hold a four-year degree and demonstrate possession of competencies necessary to provide good quality education.
 
The key ingredients for major change seemed in place.  Good legislation, and an effort led by a dynamic champion who headed a newly established directorate in the Education Ministry, with the specific mandate of improving the quality of teachers and of educational staff.
 

Pages