Syndicate content

National Health Insurance

Indonesia’s Social Assistance System: Praising Reforms But More Work Ahead

Pablo Acosta's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



When the Bank did its first social assistance public expenditure review in Indonesia in 2012, the diagnosis was clear. Despite spending significant amount of resources in “welfare”, most of them were through expensive subsidies (fuel, electricity, rice) that were not necessarily benefiting the most vulnerable segments of the society. General subsidies represented 20 percent of total national budget, but household targeted social assistance programs were already making their way, increasing from 0.3 to 0.5 percent of GDP between 2004 and 2010. Still, there was an overall dissatisfaction on what had been achieved, with the Gini coefficient rose by about 6 percentage points in the period of 2005 to 2012.

With more than 27 million people still considered poor and as one of the countries in the East Asia and the Pacific region that has one of the highest income inequality levels, the coverage expansion and social assistance system strengthening is a must. Fortunately, the situation in the social assistance sector has changed dramatically.

Sistem Bantuan Sosial Indonesia: Reformasi Berjalan Baik, Namun Masih Banyak Pekerjaan Lain

Pablo Acosta's picture
Also available in: English



Ketika Bank Dunia melakukan kajian pertama terkait pengeluaran bantuan sosial di Indonesia di tahun 2012, diagnosisnya sudah jelas. Meskipun telah banyak sumber daya yang dihabiskan untuk  "kesejahteraan", sebagian besar dari upaya ini dilakukan melalui subsidi yang mahal (bahan bakar, listrik, beras) yang belum tentu bermanfaat untuk segmen masyarakat yang paling rentan. Subsidi umum mewakili 20 persen dari total anggaran nasional, namun program bantuan sosial yang ditargetkan untuk rumah tangga telah berjalan, meningkat dari 0,3 persen PDB menjadi 0,5 persen antara tahun 2004 dan 2010. Namun, dengan koefisien Gini yang meningkat sekitar 6 poin persentase pada periode 2005-2012, masih ada ketidakpuasan dalam pencapaian selama ini.  

Dengan adanya lebih dari 27 juta orang yang termasuk golongan miskin dan sebagai salah satu negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang memiliki tingkat ketimpangan pendapatan tertinggi, maka perluasan cakupan dan penguatan sistem bantuan sosial adalah suatu keharusan. Untungnya, situasi di sektor bantuan sosial telah berubah secara dramatis.