Syndicate content

peatland restoration

Partnerships, cornerstone to achieve Indonesia’s sustainable peatland restoration targets

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
Peatland. Photo: Tempo


“Peatlands are sexy!” They aren’t words you would normally associate with peatlands, but judging from the large audience that participated in the lively discussion on financing peatland restoration in Indonesia at the “Global Landscapes Forum: Peatlands Matter” conference, held May 18 in Jakarta, it seems to be true. The observation was made by Erwin Widodo, one of the speakers in the World Bank-hosted panel discussion at the event.

For me, it was a great honor to moderate a panel comprised of several of the leading voices in the space: Kindy Syahrir (Deputy Director for Climate Finance and International Policy, Finance Ministry), Agus Purnomo (Managing Director for Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement, Golden Agri-Resources), Erwin Widodo (Regional Coordinator, Tropical Forest Alliance 2020), Christoffer Gronstad (Climate Change Counsellor, Royal Norwegian Embassy), and Ernest Bethe (Principal Operations Officer, IFC).

It was the right mix of expertise to address the formidable challenges in securing resources to finance sustainable peatland restoration in Indonesia. These include finding solutions to plug the financing gap, and identifying instruments and the regulatory framework necessary to strengthen the business case for peatland restoration. A significant amount of finance has been pledged. But one of the key issues the panel needed to address was how to redirect available finance towards more efficient and effective outcomes to reach sustainable restoration targets.

Jalinan permitraan, fondasi mencapai sasaran restorasi gambut berkesinambungan di Indonesia

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: English
Lahan Gambut. Foto: Tempo

“Gambut itu seksi!” Tentu bukan rangkaian kata yang lazim dikaitkan dengan lahan gambut. Namun dari besarnya animo peserta yang berpartisipasi dalam diskusi tentang pendanaan restorasi gambut di Indonesia pada konferensi “Global Landscapes Forum: Peatlands Matter,” di Jakarta pada 18 Mei lalu, tampaknya cetusan tersebut benar. Pengamatan jitu tersebut dicetuskan Erwin Widodo, salah satu pembicara dalam sesi diskusi yang dipandu Bank Dunia.

Bagi saya, sungguh merupakan kehormatan dapat menjadi moderator bagi panel yang terdiri dari tokoh-tokoh utama dalam bidang ini: Kindy Syahrir (Wakil Direktur Pendanaan Lingkungan Hidup dan Kebijakan Internasional, Kementerian Keuangan), Agus Purnomo (Managing Director for Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement, Golden Agri-Resources), Erwin Widodo (Koordinator Regional, Tropical Forest Alliance 2020), Christoffer Gronstad (Climate Change Counsellor, Kedutaan Besar Norwegia), dan Ernest Bethe (Principal Operations Officer, IFC).

Melihat pengalaman masing-masing, komposisi pembicara merupakan kombinasi yang tepat untuk membahas berbagai tantangan luar biasa dalam mengakses pendanaan bagi restorasi gambut berkesinambungan di Indonesia. Tantangan tersebut termasuk mencari solusi untuk menutup kesenjangan dalam pendanaan, serta mengidentifikasi instrumen dan kerangka kebijakan yang akan memperkuat dorongan dunia usaha terjun dalam restorasi gambut. Dana yang telah dijanjikan untuk restorasi gambut sesungguhnya cukup besar. Namun salah satu isu utama yang harus diurai pembicara adalah bagaimana mengarahkan pendanaan tersebut guna mencapai hasil yang lebih efisien dan tepat guna, menuju sasaran-sasaran restorasi yang berkesinambungan.