Syndicate content

sekolah

Menyediakan dana yang cukup bagi sekolah di Indonesia

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: English



Tahun ini Indonesia merayakan satu dekade pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah. Program ini bertujuan untuk memastikan agar sekolah memiliki dana yang cukup untuk beroperasi, mengurangi biaya pendidikan yang ditanggung oleh rumah tangga, serta meningkatkan manajemen berbasis sekolah. Program hibah sekolah ini berukuran sangat besar dan mencakup sekitar 43 juta siswa sekolah dasar dan sekolah menengah di seluruh Indonesia. Tiap tahun, sebuah sekolah menerima Rp 580.000 untuk tiap siswa sekolah dasar dan Rp 710.000 untuk tiap sekolah menengah pertama[1]. Secara total rata-rata jumlah hibah per tahun menjadi sekitar Rp 230 juta untuk tiap sekolah menengah tingkat pertama.

Sejak saya datang ke Indonesia, saya telah mengunjungi banyak sekolah secara teratur untuk melihat perkembangan BOS. Saya mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan orangtua dari keluarga miskin tentang bagaimana program ini telah membantu menurunkan biaya pendidikan yang harus mereka keluarkan. Para kepala sekolah juga berbagi dengan saya tentang bagaimana BOS membantu mereka dalam banyak hal untuk memberikan peluang pelatihan yang diperlukan guru untuk meningkatkan proses belajar-mengajar di kelas.

Tahun-tahun yang terbuang: Mengapa anak-anak Indonesia belajar lebih sedikit?

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: English

Sekarang, saat semua sudah tenang setelah hasil  hasil PISA keluar, mari kita coba pikirkan faktor-faktor penyebab di balik performa buruk Indonesia.  Bagi yang belum tahu, Indonesia berada di posisi lebih rendah dibanding semua negara yang berpartisipasi, kecuali Peru dalam hal matematika dan sains, serta negara kelima dari bawah dalam hal membaca. Hal yang lebih mengkhawatirkan mungkin adalah rendahnya tingkat pembelajaran yang dilaporkan untuk anak-anak Indonesia usia 15 tahun.  Dalam hal matematika, tiga perempat dari siswa berada dalam atau di bawah acuan terendah – tingkat yang diasosiasikan dengan keterbatasan kemampuan serta terbatasnya kecakapan berpikir lebih tinggi. 
 

Saya mau anak saya belajar di sekolah seperti ini

Nugroho Nurdikiawan Sunjoyo's picture
Orangtua dan masyarakat akan semakin mendukung sekolah kalau memiliki informasi mengenai sumberdaya sekolah.

Juga tersedia di English

Bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih di bangku sekolah, interaksi antara orangtua saya dengan sekolah terbatas hanya saat pembagian raport, juga beberapa kali saat saya sedang bermasalah. Itu saja. Meski anak saya baru berumur satu setengah tahun, saya sudah mulai mencari-cari sekolah yang cocok dan kalau bisa saya tidak mau ia belajar di sekolah seperti saya dulu.