Syndicate content

Water

Lima pembelajaran dari Indonesia tentang penyediaan perumahan yang terjangkau

Dao Harrison's picture
Available in english

Berkat program subsidi pemerintah, Dewi baru saja menjadi pemilik rumah untuk pertama kalinya. Tahun lalu, Dewi pindah ke rumah barunya di Yogyakarta. Ia saat itu berpikir: semuanya sempurna.

Ternyata kenyataannya tidak demikian. Rumah Dewi berjarak satu jam dari pusat kota, jauh dari daerah perkantoran,  pusat perbelanjaan, dan sekolah untuk kedua anaknya. Dua tahun setelah perumahan selesai dibangun, lebih dari setengah rumah di sana masih kosong. Karena rumah tidak terhubung dengan sistem air setempat, dua kali seminggu Dewi harus membeli air. Saat musim banjir, Dewi mengalami kesulitan untuk mencapai rumahnya.




Penyediaan perumahan yang terjangkau dan memadai telah menjadi prioritas kebijakan utama pemerintah Indonesia dengan diluncurkannya program Satu Juta Rumah (One Million Homes). Berbagai upaya sebelumnya untuk memenuhi permintaan perumahan yang terjangkau – gabungan dari adanya  permintaan  baru secara tahunan dan pemenuhan kekurangan perumahan yang belum terlaksana - belum secara efektif membawa dampak pada skala yang diperlukan.
 
 
Sumber:  Kementerian Pekerjaan Umum, Indonesia

Tapi haruskah jumlah kepemilikan rumah menjadi indikator tunggal program subsidi perumahan yang sukses? Mungkinkah ada program yang memenuhi kebutuhan Pemerintah untuk tetap efektif biaya secara fiksal maupun ekonomi, dan sekaligus dapat merespons pasar swasta dan juga kebutuhan warga?

Saat ini berbagai pilihan sedang dieksplorasi. National Affordable Housing Program Project (NAHP) yang baru disetujui misalnya, bertujuan untuk berinovasi dalam pasar perumahan yang terjangkau dengan mengatasi kemacetan dan secara aktif melibatkan sektor swasta dalam melayani berbagai segmen yang belum tersentuh. Sejauh ini, upaya dari Indonesia ini memberikan pelajaran berharga, yaitu:

Laos: How the Nam Theun 2 dam is managed during flood events

William Rex's picture

William RexIt’s been an unusually severe rainy season in some parts of Lao PDR, with several typhoons passing over after making landfall in Vietnam.  Thailand is also severely hit, with Bangkok bracing itself for floods as I write this

Melting glaciers redistribute Asia's water

David Dollar's picture

"The glacier at Karo-la pass covered the whole rock face when our Tibetan guide began leading tours in 1996."
I spent the October holiday in China traveling across the Tibetan plateau to Qomolangma (Mount Everest) base camp. One striking impression was how much water there is there. Most of the great rivers of Asia originate on the Qinghai-Tibet plateau: Ganges, Indus, Yangtze, Yellow, Mekong, Salween, Irrawady, and Yarhung Tsangpo (which becomes the Brahmaputra in India and Bangladesh). Half the world’s population gets its water from these rivers running off the plateau. The rivers are fed by the gradual melting of the huge glaciers that cover the Himalayan peaks, as well as the melting of the annual snowpack and seasonal rain. (The name of the Himalayan peak, Annapurna, in Nepal means “full of food,” reflecting the fact that the gradual melting of snowpack and glaciers each spring and summer waters the rice crop.)

The melting of the glaciers has accelerated dramatically in recent years. This is one of the most profound effects of global warming. The glaciers have shrunk 20% over the past 50 years, with much of that in the past decade. Our Tibetan guide took us to a number of different glaciers and showed us how they had receded since he starting taking tours around in 1996. At Karo-la pass we stood on hard, dry ground that had been covered by the glacier just 12 years ago. Climate scientists project that the glaciers will be 80% gone by 2035.

Economics of Sanitation

Jaehyang So's picture

Most of us in the development community are aware that proper water and sanitation services are crucial for life and health. Proper sanitation especially can decrease the instances and spread of disease. But in making the case to Ministers of Finance, it is often the economic and financial case that we have to make in order to garner the investments needed to make a difference.

A Water and Sanitation Program report we released last month, called Economic Impact of Sanitation in Indonesia (pdf), makes that case for that country. The report says that the economic costs of poor hygiene and sanitation in Indonesia reached an estimated US$6.3 billion, or 2.3 percent of GDP in 2006.