Syndicate content

Education

Refleksi Reformasi Guru di Indonesia

Andrew Ragatz's picture
Also available in: English


Pada tahun 2005, saya merasa beruntung berada di Indonesia saat upaya reformasi guru dimulai. Parlemen Indonesia menetapkan sebuah undang-undang komprehensif mengenai guru disertai agenda yang besar. Program utamanya adalah sertifikasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan sekaligus kualitas guru secara signifikan. Guru yang telah menerima sertifikasi akan menerima gaji dua kali lipat. Syarat sertifikasi adalah memiliki gelar S1 serta kompetensi untuk memberikan pendidikan yang berkualitas.

Semua bahan untuk melakukan perubahan besar sepertinya tersedia. Regulasi yang bagus, dan upaya yang dipimpin seseorang yang mengepalai sebuah direktorat baru di Kementerian Pendidikan dengan mandat khusus untuk meningkatkan kualitas guru dan staf pendidik.

Reflections on Indonesia’s teacher reform

Andrew Ragatz's picture
Also available in: Bahasa Indonesia


In 2005, I had the great fortune of being in Indonesia just as its major teacher reform effort was beginning to take off.  Indonesia’s parliament had passed a comprehensive law on teachers, along with its ambitious agenda. Its signature program of certification intended to dramatically improve both teacher welfare and quality.  Certified teachers would receive a doubling of salary, and certification was to require that teachers hold a four-year degree and demonstrate possession of competencies necessary to provide good quality education.
 
The key ingredients for major change seemed in place.  Good legislation, and an effort led by a dynamic champion who headed a newly established directorate in the Education Ministry, with the specific mandate of improving the quality of teachers and of educational staff.
 

Philippines: Education that Knows No Boundaries

Nicholas Tenazas's picture
Filipino pride and boxing champion Manny Pacquiao completed highschool
under the Alternative Learning System, after taking the required exam in 2007
Photo by the DepEd

My relationship with the Philippine Department of Education’s (DepdEd) Alternative Learning System is one of ignorance, humiliation and inspiration.

As a young economist joining DepEd back in 2002, I was full of ideas on how to improve the country’s education system. I was coming in as a junior staff for a World Bank-funded project focusing on elementary education in poor provinces.

At around the same time, I had been hearing about this ALS program, which was providing basic education to out of school youth and adults, but I really paid no mind to it. All I knew about it was that it was largely non-formal, that it was conducted periodically through modules and that it was too small to make any significant statistical impact on globally-accepted education performance indicators.

Tahun-tahun yang terbuang: Mengapa anak-anak Indonesia belajar lebih sedikit?

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: English

Sekarang, saat semua sudah tenang setelah hasil  hasil PISA keluar, mari kita coba pikirkan faktor-faktor penyebab di balik performa buruk Indonesia.  Bagi yang belum tahu, Indonesia berada di posisi lebih rendah dibanding semua negara yang berpartisipasi, kecuali Peru dalam hal matematika dan sains, serta negara kelima dari bawah dalam hal membaca. Hal yang lebih mengkhawatirkan mungkin adalah rendahnya tingkat pembelajaran yang dilaporkan untuk anak-anak Indonesia usia 15 tahun.  Dalam hal matematika, tiga perempat dari siswa berada dalam atau di bawah acuan terendah – tingkat yang diasosiasikan dengan keterbatasan kemampuan serta terbatasnya kecakapan berpikir lebih tinggi. 
 

Wasted years: Why do Indonesian children end up learning less?

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: Bahasa Indonesia

Now that the dust has settled around the PISA results we have been thinking about the reasons behind Indonesia's poor showing. For those of you who haven't seen them, Indonesia ranked lower than all participating countries except Peru in mathematics and science, and was fifth from last on reading. Perhaps more worrying were the low absolute levels of learning reported for 15-year-olds. In mathematics, three-quarters of students were rated at or below the lowest benchmark – a level associated with only rudimentary levels of proficiency and a lack of higher order thinking skills.

Điều gì lý giải cho kết quả ấn tượng của Việt Nam trong kỳ thi PISA 2012?

Christian Bodewig's picture
Also available in: English
Kết quả của kỳ thi PISA 2012 - Chương trình đánh giá học sinh quốc tế (Program for international Student Assessment) cho thấy hệ thống giáo dục phổ thông của Việt Nam thành công hơn khá nhiều các hệ thống giáo dục ở các quốc gia giàu có hơn,xét trên khả năng cung cấp cho học sinh những kỹ năng nhận thức cơ bản như đọc, viết và tính toán.

What explains Vietnam’s stunning performance in PISA 2012?

Christian Bodewig's picture
Also available in: Tiếng Việt
The results from the Program for international Student Assessment (PISA) 2012 show that Vietnam’s general education system is more successful than systems in many wealthier countries in providing students with strong basic cognitive skills such as reading literacy and numeracy. Participating for the first time in PISA, Vietnam’s 15 year-olds perform on par with their peers in Germany and Austria and better than those in two thirds of participating countries.

Di Indonesia, Mengatasi Ketidaksetaraan Pendidikan Melalui Tata Kelola yang Lebih Baik

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in English

Sejak Panel Tingkat Tinggi PBB mengumumkan visinya untuk agenda pembangunan pasca-2015 pada bulan Mei, banyak perdebatan berpusat pada tidak adanya tujuan terkait ketidaksetaraan diantara 15 tujuan yang diusulkan dalam daftar panel. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengomentari tentang tujuan ini di Jakarta bulan Juni yang lalu, menekankan bahwa prinsip “tanpa meninggalkan siapa pun” adalah inti dari visi Panel, dan masing-masing tujuan PBB berfokus untuk mengatasi ketidaksetaraan. Pada kenyataannya, tujuan pendidikan yang diusulkan termasuk komitmen ‘memastikan setiap anak, dalam kondisi apapun, menyelesaikan pendidikan dasar sehingga dapat membaca, menulis, dan berhitung dengan cukup baik untuk memenuhi standar pembelajaran minimal’.

Membangkitkan Generasi Emas Indonesia: Memperluas Wajib Belajar dari 9 Menjadi 12 Tahun

Samer Al-Samarrai's picture

Available in English | Cette page en Français



Belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan perpanjangan program wajib belajar dari 9 ke 12 tahun. Dibalik pengumuman ini tersirat keinginan untuk meraup keuntungan dari bonus demografi ini secara maksimal.
 
Beda dengan negara-negara sekawasannya, Indonesia adalah bangsa yang relatif muda; sepertiga dari populasinya dibawah usia 14 tahun. Jika program perpanjangan wajib belajar ini diterapkan dengan sukses, maka penduduk muda tersebut akan mendapat manfaat dari peningkatan akses pendidikan. Anak-anak ini membawa  peluang yang sangat besar. Ketika mereka bergerak menuju pasar tenaga kerja, mereka memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan per-kapita nasional sebelum usia penduduk mengalami penuaan  dan tingkat ketergantungan meningkat. Untuk meraih keuntungan dari bonus demografi ini, generasi yang disebut-sebut “generasi emas” oleh Mendikbud ini harus diberi pendidikan yang lebih baik, dan kesempatan belajar hingga sekolah menengah.

 

Pages