Syndicate content

Trade

Investasi yang tak menentu di Indonesia

Alex Sienaert's picture
Also available in: English

Dapatkah ekonomi Indonesia keluar dari keadaan investasi yang tak menentu? Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan dalam laporan Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia dari Bank Dunia edisi bulan Maret 2014.

Mengapa pertumbuhan investasi Indonesia tak menentu? Pertama, terdapat perlambatan dalam investasi tetap, karena turunnya kondisi perdagangan dan lebih ketatnya kondisi pembiayaan luar negeri.

Kedua, sementara investasi asing langsung (FDI)—sumber pembiayaan investasi yang penting—masih tetap kuat sejauh ini, laju pertumbuhan aliran masuk FDI yang tercatat pada beberapa tahun terakhir menunjukkan tanda-tanda mendatar.

Ketiga, Indonesia tetap bergantung kepada pembiayaan luar negeri dari aliran masuk modal investasi portofolio. Aliran itu telah meningkat pada beberapa bulan terakhir, namun dapat bersifat volatil.

Akhirnya, perkembangan kebijakan terakhir telah meningkatkan ketidakpastian peraturan. Hal itu menambah kepada sulitnya memperkirakan kebijakan menjelang pemilu, yang dapat berdampak kepada seluruh jenis investasi.

Dengan ketidakpastian prospek aliran investasi global ke ekonomi-ekonomi pasar berkembang seperti Indonesia, kabar baiknya adalah bahwa neraca eksternal Indonesia sedang melakukan penyesuaian. Defisit neraca berjalan menyusut secara signifikan pada kuartal terakhir tahun 2013 menjadi 4,0 miliar dolar AS, atau 2 persen dari PDB. Penurunan ini merupakan hal yang menggembirakan karena defisit pernah mencapai catatan tertinggi sebesar 10,0 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun 2013—yang merupakan 4,4 persen dari PDB. Pasar saham kembali naik, dengan mencatat peningkatan sebesar 9 persen dalam mata uang lokal, imbal hasil (yield) obligasi turun, dan Rupiah menguat sebesar 7 persen terhadap dolar AS, selama tahun berjalan, yang menutup sebagian penurunan yang signifikan pada tahun lalu. Aliran masuk modal portofolio dan perbankan juga meningkat pada kuartal penutup tahun 2013*.

Namun sejumlah hal perlu diwaspadai. Sejauh ini penyesuaian itu terutama berdasarkan pada kebijakan moneter yang lebih ketat dan depresiasi valuta selama paruh kedua tahun 2013, dan—seperti telah disinggung—melambatnya pertumbuhan investasi. Indonesia tetap rawan terhadap kemungkinan penurunan kembali kondisi pasar dunia.

Indonesia’s “continuing adjustment”

Alex Sienaert's picture


2013 has been a year of adjustment for Indonesia’s economy.  In the recent edition of the Indonesia Economic Quarterly report, the flagship publication of the World Bank Indonesia office, we asked the questions: what are the drivers of this adjustment and how should policy respond?

Myanmar: Thoughts Aboard the Yangon Circular Railway Train

Kanthan Shankar's picture

The Yangon Circular Railway is the local commuter rail network in Yangon, Myanmar. In this recording, World Bank Country Manager Kanthan Shankar boards the train on a three-hour ride around the city. "You see a panorama of life unfolding before you and you feel a part of the picture," he says, reflecting on the daily lives of the people in Yangon, "There's a huge opportunity for commerce and private sector growth. Yangon and Myanmar is lucky that it has basic infrastructure in place. It's a matter of rehabilitating these and aiming for a smoother ride to pave the way for commerce,"

 
Watch Kanthan's video blog:

Shoe molds and scuba divers: How natural disasters affect our supply chains

Thomas Farole's picture
Photo courtesy of ianmyles through a Creative Commons license

Available in ภาษาไทย

Like the massive earthquake in Japan earlier this year, the floods in Thailand are again exposing the vulnerabilities of fragmented global supply chains.

Last month, a team of economists from the World Bank’s International Trade Department encountered some flooding side-effects during a visit to the Indonesian production site for ECCO, a Danish company that manufactures footwear. In order to transfer production to the factory in Indonesia, the workers needed the specific shoe molds used in the Thai factory. But there was a problem: The Thai factory was under three meters of water.

แม่พิมพ์รองเท้ากับนักประดาน้ำ: ผลกระทบจากภัยพิบัติทางธรรมชาติต่อห่วงโซ่อุปทาน

Thomas Farole's picture
ภาพภ่ายโดย iamyles ผ่านการใช้ลิขสิทธิ์จากครีเอทีฟคอมมอนส์

ยังมีอีกที่: English

เช่นเดียวกับแผ่นดินไหวครั้งรุนแรงที่ญี่ปุ่นเมื่อต้นปี ภาวะน้ำท่วมในประเทศไทยได้ตอกย้ำให้เห็นอีกครั้งถึงความเปราะบางของห่วงโซ่อุปทานสินค้าของโลกที่แบ่งกระจัดกระจายอยู่ตามประเทศหรือภูมิภาคต่างๆ

เมื่อเดือนที่แล้ว ทีมนักเศรษฐศาสตร์จากแผนกการค้าระหว่างประเทศ (International Trade Department) ของธนาคารโลกได้พบเห็นปัญหาบางประการอันเป็นผลข้างเคียงจากภาวะน้ำท่วมดังกล่าวในระหว่างการเยือนโรงงานผลิตรองเท้าที่ประเทศอินโดนีเซียของบริษัทเอ็คโคจากเดนมาร์ก ในการที่จะย้ายการผลิตไปยังโรงงานที่อินโดนีเซียนั้น คนงานจำเป็นต้องใช้แม่พิมพ์รองเท้าแบบเฉพาะที่ใช้ในโรงงานที่ประเทศไทย แต่ปัญหาคือ โรงงานไทยกำลังจมอยู่ใต้น้ำระดับสามเมตร

China's import surge: standard economic theory prevails

Louis Kuijs's picture

When China’s government started to work on and implement its massive stimulus program in November last year in light of a rapid deterioration of the world economy, economists working on China had to work out what it all meant for

What are the implications of the crisis for the financial systems in East Asia?

James Seward's picture

I apologize for the lack of recent posts, but I have been traveling in the region and then getting over a cold, so I’m finally back in action.  One of the stops during the trip last month was to Jakarta to participate in our internal Economist’s Forum.  This forum was very interesting and included sessions with the Indonesian Minister of Finance, as well as the

Regional Finance Roundup – A look at Thailand after the ASEAN summit cancellation; updates on China, Singapore and Mongolia

James Seward's picture

In terms of big newsworthy events in Asia, one of the biggest has to be the anti-government protests in Thailand. A relatively small number of protesters dramatically caused the cancellation of an ASEAN+3 meeting held in Pattaya this past weekend where 10 regional heads of state were evacuated. The World Bank President, as well as the head of the IMF and UN, were turned around at the airport in Bangkok. Although the protests around the country have effectively ended after martial law was declared and two protesters died, the damage of this may be longer-lasting. Although a discussion of the politics would be interesting, let's concentrate on the finance-related issues.

Pages