Syndicate content

Add new comment

Tujuh tahun kemudian: Mengingat tsunami di Aceh

David Lawrence's picture

Juga tersedia di English

Jumlahnya terus meningkat. Pada awalnya dilaporkan 13.000 jiwa. Keesokan harinya menjadi 25.000. Lalu dilaporkan kembali 58.000. Di penghujung minggu, pada tanggal 1 Januari 2005, jumlah korban tsunami di Asia telah mencapai 122.000. Dan jumlah tersebut terus meningkat, tidak ada satu orang pun yang tahu kapan jumlah tersebut akan berhenti meningkat.

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

 

 

 

Saya terus membaca update setiap pagi saat menuju kantor selagi duduk di kereta Metro. Tidak mungkin saya bisa memperkirakan skala kehancuran yang terjadi. Hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja, ribuan orang meninggal tanpa peringatan oleh gempa bumi dan tiga sapuan ombak yang luar biasa besar, masing-masing setinggi gedung 10 lantai. Perkiraan jumlah kematian mencapai 270.000. Bagaimana mungkin kita bisa pulih dari hal semacam itu?

 

 

Pada tahun 2006, saya memiliki kesempatan untuk mencari tahu langsung. Saya pindah ke Aceh, Indonesia, tempat sebagian besar korban berasal – sekitar 165.000 jiwa. Institusi tempat saya bekerja, International Finance Corporation, baru saja membuka kantor di sana dengan pendanaan dari Australia untuk membantu sektor swasta kembali berfungsi. Selama dua tahun berikutnya kami bekerja dengan petani udang, usaha-usaha kecil, dan pemerintah daerah Aceh untuk mempromosikan pengembangan sektor swasta dan investasi.

 

 

Ketika saya tiba di Aceh, kondisi sudah sedikit lebih baik, namun cerita-cerita seputar tragedi masih kental. Pejabat pemerintah yang kehilangan anaknya dan mengadopsi anak yatim piatu. Perempuan muda yang diselamatkan oleh orang asing, ditarik keluar pada saat dia hampir tenggelam. Bapak tua yang saya temui di tempat ikan bakar bercerita tentang seorang dokter dari Amerika yang mencabut sepotong kayu dari tengkoraknya di kapal angkatan laut.

 

 

Tsunami tidak hanya mengakibatkan kehancuran namun juga membentuk persatuan. Masyarakat Aceh telah terisolasi selama puluhan tahun karena konflik bersenjata. Tiba-tiba, Aceh penuh dengan orang asing – baik dari luar negeri maupun dari daerah-daerah lain di Indonesia – bahu membahu dalam upaya pemulihan terbesar sepanjang sejarah, yang dipimpin oleh badan rekonstruksi yang baru diciptakan bernama Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR).

 

 

 

Upaya rekonstruksi seringkali semrawut, dengan ribuan proyek berjalan bersamaan, dari pembangunan rumah tinggal hingga penyediaan pelayanan kesahatan dan kepemilikan tanah. Sangat sulit untuk melakukan koordinasi, semua perencanaan terburu-buru, urusan logistik pun sangat rumit, dan semua hal sangat tergantung pada birokrasi, mangakibatkan kemajuan sangat lambat.

 

 

 

 

Namun akhirnya berhasil juga dilakukan. Semua rekanan saya yang masih berada di Indonesia, baik orang asing maupun masyarakat Aceh sendiri bilang bahwa kehidupan kini lebih baik:

 

 

● Konflik sudah berakhir. Terpilihnya mantan pemimpin GAM, Irwandi Yusuf, sebagai gubernur Aceh pertama memastikan terciptanya perdamaian.
 

● Rekonstruksi sukses dilakukan. Daerah-daerah yang hancur akibat tsunami telah terbangun kembali, sistem jalan raya sudah jauh lebih baik, bandar udara dan pelabuhan baru telah menghubungkan provinsi Aceh dengan dunia luar.
 

● Sekolah dan universitas penuh dengan siswa, baik dari Banda Aceh maupun dari luar.

 

 

Upaya rekonstruksi juga memberikan masyarakat Aceh keterampilan baru. Amy Sjahrir, mantan pekerja LSM kini bekerja di agensi pariwisata, berkata bahwa pelatihan dan pendanaan yang disediakan oleh LSM membantu “mentransformasi Aceh menjadi masyarakat yang berwawasan lebih terbuka” yang mau menerima ide-ide baru.

 

 

 

Guido van Hofwegen, warga negara Belanda yang mendirikan perusahaan pembuat alat penyaring air bersama dengan isterinya Liese, berkata bahwa Banda Aceh kini  telah menjadi tempat yang baik untuk berusaha. “Pemerintahan kota kini bersih dan sangat mudah untuk mendapatkan izin usaha”, ucapnya. “Sekarang banyak sekali pekerja-pekerja terampil mantan pegawai LSM yang tersedia di pasar buruh”.

 

 

Namun mereka juga menyebutkan beberapa kekhawatiran. Bursa kerja masih menjadi kendala. Kesempatan kerja di daerah perdesaan masih sangat terbatas.

 

 

Biar bagaimanapun, saya optimis dengan masa depan Aceh. Pasti akan ada permasalahan yang perlu dihadapi. Namun untuk sekarang, Aceh sudah memiliki institusi-institusi dan pola pemikiran baru untuk menghadapi masalah-masalah tersebut secara demokratis dan damai. Lebih penting lagi, masyarakat Aceh telah membuktikan bahwa mereka dapat menghadapi tantangan yang luar biasa berat dan mengubah situasi menjadi lebih baik.

 

 

Apabila anda tinggal atau bekerja di Aceh, saya akan sangat tertarik untuk mendengar pandangan anda mengenai masa depan Aceh. Silakan berbagi pendapat anda di kolom komentar di bawah ini.