Syndicate content

Add new comment

Sekaranglah waktunya memperkuat pengendalian risiko bencana di Asia Timur dan Pasifik

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Setiap kali saya diberitahu terjadinya kembali sebuah bencana alam – tentang korban jiwa masyarakat, rumah-rumah yang hancur, matapencaharian yang hilang – saya teringat bagaimana pentingnya kita perlu bertindak guna mengurangi dampak tragedi tersebut. Kita  tidak bisa menunggu sampai bencana kembali terjadi.

Pada World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, yang akan berupaya mencari penerus Hyogo Framework for Action (HFA2) -- panduan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan internasional dalam bidang manajemen risiko bencana – peluang itu ada di tangan kita. Konferensi ini adalah peluang untuk menjadi tonggak penting dalam hal pengendalian risiko bencana dan pengentasan kemiskinan.

Biaya akibat bencana alam sudah sangat tinggi. Dalam periode 30 tahu, sekitar 2,5 juta korban jiwa dan $4 triliun hilang akibat bencana, dan hal ini berdampak pada upaya pembangunan.

Di Asia, urbanisasi yang pesat serta perencanaan yang kurang baik telah secara signifikan mempertajam kerentanan kota, khususnya perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terletak di pesisir atau tepi sungai. Lebih dari 7.350 korban jiwa jatuh akibat Badai Haiyan  di Filipina pada tahun 2013, dan bencana tersebut secara langsung mengakibatkan naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,2 persen.

Sekarang kita memiliki alat-alat baru untuk mengurangi dampak tersebut. Contohnya, sistem peringatan dini di Samudera Hindia yang dibuat setelah bencana tahun 2004, bisa mengirim pemberitahuan kepada pusat-pusat peringatan dini dalam waktu 10 menit setelah gempa bumi mulai. Kemajuan tersebut membantu mengurangi korban jiwa di 28 negara.

Sebuah laporan Bank Dunia yang belum lama ini diterbitkan menggunakan citra satelit dan pemetaan geospasial untuk melacak perubahan tata guna lahan di Asia, serta memberikan data yang bisa membantu upaya perencanaan dan investasi.

Secara keseluruhan, tugas besar untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam merupakan tugas bersama pemerintah, masyarakat, komunitas internasional, serta para pemangku kepentingan lain.

The Pacific Catastrophe Risk Assessment and Financing Initiative (PCRAFI) – dengan mitra kerja seperti negara Jepang, Secretariat of the Pacific Community, Bank Pembangunan Asia, Bank Dunia, Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR), serta Uni Eropa – telah mengembangkan kumpulan informasi geospasial terbesar mengenai risiko bencana yang ada di negara-negara Kepulauan Pasifik.

Data-data tersebut berkontribusi pada Pacific Risk Insurance Pilot, sebuah mekanisme regional yang membantu negara yang ikut serta memperoleh perlindungan melalui pasar asuransi internasional, bila terjadi gempa bumi, tsunami, dan badai. Pada tahun 2013, Tonga menjadi negara pertama yang memperoleh manfaat program tersebut, dengan menerima pembayaran asuransi sebesar $1,27 juta guna pendanaan pasca Badai Ian.

Sementara, berbagai program pembangunan di Indonesia, Filipina, dan Vietnam sedang memperbaik kehidupan ratusan komunitas dengan meningkatkan akses terhadap infrastruktur lokal  dan memperkuat ketahanan jangka panjang -- melalui sistem peringatan dini, pengadaan jalur evakuasi, dan program pelatihan situasi darurat.

Bank Dunia juga meningkatkan upaya untuk membangun ketahanan terhadap bencana bagi proyek-proyeknya. Sejak 1 Juli 2014, 100 persen proyek Bank Dunia wajib menjalani proses penilaian untuk risiko iklim dan bencana, dan kemudian – berdasakan proses penilaian tersebut – menyertakan upaya-upaya mitigasi.

Untuk beberapa dekade mendatang, ketahanan perlu menjadi prioritas bagi pembangunan yang berkelanjutanan dan bertanggungjawab, dan bukan hanya sekedar slogan slogan . Tidak ada tempat yang lebih baik dari pada Sendai untuk mengakui secara penuh pentingnya serta manfaat melakukan investasi pada ketahanan.

Baca selengkapnya: Building a New Framework for Disaster Risk Reduction