Syndicate content

Menyediakan dana yang cukup bagi sekolah di Indonesia

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: English



Tahun ini Indonesia merayakan satu dekade pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah. Program ini bertujuan untuk memastikan agar sekolah memiliki dana yang cukup untuk beroperasi, mengurangi biaya pendidikan yang ditanggung oleh rumah tangga, serta meningkatkan manajemen berbasis sekolah. Program hibah sekolah ini berukuran sangat besar dan mencakup sekitar 43 juta siswa sekolah dasar dan sekolah menengah di seluruh Indonesia. Tiap tahun, sebuah sekolah menerima Rp 580.000 untuk tiap siswa sekolah dasar dan Rp 710.000 untuk tiap sekolah menengah pertama[1]. Secara total rata-rata jumlah hibah per tahun menjadi sekitar Rp 230 juta untuk tiap sekolah menengah tingkat pertama.

Sejak saya datang ke Indonesia, saya telah mengunjungi banyak sekolah secara teratur untuk melihat perkembangan BOS. Saya mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan orangtua dari keluarga miskin tentang bagaimana program ini telah membantu menurunkan biaya pendidikan yang harus mereka keluarkan. Para kepala sekolah juga berbagi dengan saya tentang bagaimana BOS membantu mereka dalam banyak hal untuk memberikan peluang pelatihan yang diperlukan guru untuk meningkatkan proses belajar-mengajar di kelas.

Sekaranglah waktunya memperkuat pengendalian risiko bencana di Asia Timur dan Pasifik

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Setiap kali saya diberitahu terjadinya kembali sebuah bencana alam – tentang korban jiwa masyarakat, rumah-rumah yang hancur, matapencaharian yang hilang – saya teringat bagaimana pentingnya kita perlu bertindak guna mengurangi dampak tragedi tersebut. Kita  tidak bisa menunggu sampai bencana kembali terjadi.

Pada World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, yang akan berupaya mencari penerus Hyogo Framework for Action (HFA2) -- panduan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan internasional dalam bidang manajemen risiko bencana – peluang itu ada di tangan kita. Konferensi ini adalah peluang untuk menjadi tonggak penting dalam hal pengendalian risiko bencana dan pengentasan kemiskinan.

Biaya akibat bencana alam sudah sangat tinggi. Dalam periode 30 tahu, sekitar 2,5 juta korban jiwa dan $4 triliun hilang akibat bencana, dan hal ini berdampak pada upaya pembangunan.

Di Asia, urbanisasi yang pesat serta perencanaan yang kurang baik telah secara signifikan mempertajam kerentanan kota, khususnya perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terletak di pesisir atau tepi sungai. Lebih dari 7.350 korban jiwa jatuh akibat Badai Haiyan  di Filipina pada tahun 2013, dan bencana tersebut secara langsung mengakibatkan naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,2 persen.

Kenapa kita perlu #Get2Equal

Sri Mulyani Indrawati's picture
Gaji perempuan sering lebih rendah dari pada laki-laki, sementara perempuan juga mengerjakan sebagian besar pekerjaan yang tidak dibayar. © Mariana Ceratti/World Bank

Halaman ini dalam: English | Español | Français | العربية | 中文

​​Perempuan kian mengemuka sebagai suatu kekuatan besar dalam mendorong perubahan. Negara-negara yang telah berinvestasi dalam pendidikan bagi perempuan muda serta meniadakan batasan hukum yang selama ini menghalangi perempuan dalam mewujudkan potensial mereka, kini mulai merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.

Ambillah, misalnya, di negara-negara Amerika Latin. Lebih dari 70 juta perempuan telah memasuki dunia kerja dalam beberapa tahun belakangan. Dua pertiga dari peningkatan kesertaan perempuan di dunia kerja dalam dua dekade terakhir dapat diatribusikan kepada ketersediaan pendidikan yang lebih tinggi dan kenyataan bahwa perempuan menikah lebih lambat dan memiliki jumlah anak yang lebih sedikit. Sebagai akibatnya, antara tahun 2000 dan 2010, pendapatan perempuan menyumbangkan sekitar 30 persen penurunan kemiskinan ekstrem di kawasan tersebut.

Revisi PDB Indonesia: Potret yang Lebih Tepat

Alex Sienaert's picture
Also available in: English



Badan Pusat Statistik telah mengeluarkan statistik triwulan nasional pada 5 Februari 2015. Biasanya data yang diterbitkan secara triwulanan akan mengundang keingintahuan yang besar (setidaknya bagi para ekonom makro dan pengamat ekonomi yang selalu haus akan perkembangan data terbaru tren pertumbuhan jangka pendek). Namun data yang dihasilkan BPS kali ini mempunyai kekhususan karena selain memberikan data triwulan  tahun 2014, juga terdapat dua revisi signifikan terhadap statistik PDB Indonesia yaitu: (1) menggeser tahun dasar perhitungan PDB dari tahun 2000 menjadi 2010, dan (2) mengadopsi metodologi dan presentasi statisik yang jauh lebih baru (yaitu memperbaharui perhitungan neraca nasional dari Sistem SNA 1993 menjadi SNA 2008).[1]

Dengan adanya revisi ini, hal baru apa yang bisa diketahui tentang perkembangan ekonomi Indonesia yang tidak kita ketahui sebelumnya? Satu perubahan yang langsung terlihat adalah: output total dengan harga nominal saat ini menjadi sekitar 4,4 persen lebih besar dibanding estimasi pada tahun 2014 (dan rata-rata 5,2 persen lebih besar pada periode 2010-2014). Hal ini merupakan perubahan yang signifikan menambah Rp 448 triliun, atau sekitar USD 35,3 milyar pada besaran estimasi ekonomi Indonesia pada tahun 2014. Menurut BPS, sekitar sepertiga output tambahan tersebut adalah hasil penyertaan beberapa aktivitas ekonomi baru di bawah SNA 2008, dan sekitar dua-pertiga berasal dari perbaikan pengukuran.

Tiga pelajaran penting dari Tsunami 2004

Abhas Jha's picture
Also available in: English



Pada dasarnya saya adalah orang yang pragmatis, mengingat awal karir saya sebagai petugas kelurahan, lanjut terus ke kecamatan, di India, ketika saya bertanggungjawab untuk banyak hal yang terjadi di lapangan, mulai dari persediaan air hingga rencana penggunaan lahan pertanian. Namun saya sangat sedih dan terpukul menyaksikan dampak dari bencana tsunami 2004. Di Indonesia saja, sekitar 220.000 orang kehilangan nyawa.

Ketika Anak-Anak Membantu Sesama

Mateo Fernandez's picture
Also available in: English



Halo, nama saya Mateo. Umur saya 9 tahun. Tiap malam Ibu selalu membacakan cerita. Katanya di dunia ini ada anak-anak yang beruntung karena lahir dari keluarga mampu, ada pula yang tidak. Menurut Ibu saya termasuk di antara mereka yang beruntung. Ibu bekerja membantu sebuah program yang diberi nama Program Keluarga Harapan. Program ini membantu mengajarkan para ibu dari keluarga tidak mampu bagaimana mendidik anak-anaknya. Ibu dari keluarga tidak mampu harus bekerja ekstra keras, karena mereka mau anak-anaknya punya masa depan yang lebih baik.
 

Refleksi Reformasi Guru di Indonesia

Andrew Ragatz's picture
Also available in: English


Pada tahun 2005, saya merasa beruntung berada di Indonesia saat upaya reformasi guru dimulai. Parlemen Indonesia menetapkan sebuah undang-undang komprehensif mengenai guru disertai agenda yang besar. Program utamanya adalah sertifikasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan sekaligus kualitas guru secara signifikan. Guru yang telah menerima sertifikasi akan menerima gaji dua kali lipat. Syarat sertifikasi adalah memiliki gelar S1 serta kompetensi untuk memberikan pendidikan yang berkualitas.

Semua bahan untuk melakukan perubahan besar sepertinya tersedia. Regulasi yang bagus, dan upaya yang dipimpin seseorang yang mengepalai sebuah direktorat baru di Kementerian Pendidikan dengan mandat khusus untuk meningkatkan kualitas guru dan staf pendidik.

Tahun-tahun yang terbuang: Mengapa anak-anak Indonesia belajar lebih sedikit?

Samer Al-Samarrai's picture
Also available in: English

Sekarang, saat semua sudah tenang setelah hasil  hasil PISA keluar, mari kita coba pikirkan faktor-faktor penyebab di balik performa buruk Indonesia.  Bagi yang belum tahu, Indonesia berada di posisi lebih rendah dibanding semua negara yang berpartisipasi, kecuali Peru dalam hal matematika dan sains, serta negara kelima dari bawah dalam hal membaca. Hal yang lebih mengkhawatirkan mungkin adalah rendahnya tingkat pembelajaran yang dilaporkan untuk anak-anak Indonesia usia 15 tahun.  Dalam hal matematika, tiga perempat dari siswa berada dalam atau di bawah acuan terendah – tingkat yang diasosiasikan dengan keterbatasan kemampuan serta terbatasnya kecakapan berpikir lebih tinggi. 
 

Investasi yang tak menentu di Indonesia

Alex Sienaert's picture
Also available in: English

Dapatkah ekonomi Indonesia keluar dari keadaan investasi yang tak menentu? Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan dalam laporan Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia dari Bank Dunia edisi bulan Maret 2014.

Mengapa pertumbuhan investasi Indonesia tak menentu? Pertama, terdapat perlambatan dalam investasi tetap, karena turunnya kondisi perdagangan dan lebih ketatnya kondisi pembiayaan luar negeri.

Kedua, sementara investasi asing langsung (FDI)—sumber pembiayaan investasi yang penting—masih tetap kuat sejauh ini, laju pertumbuhan aliran masuk FDI yang tercatat pada beberapa tahun terakhir menunjukkan tanda-tanda mendatar.

Ketiga, Indonesia tetap bergantung kepada pembiayaan luar negeri dari aliran masuk modal investasi portofolio. Aliran itu telah meningkat pada beberapa bulan terakhir, namun dapat bersifat volatil.

Akhirnya, perkembangan kebijakan terakhir telah meningkatkan ketidakpastian peraturan. Hal itu menambah kepada sulitnya memperkirakan kebijakan menjelang pemilu, yang dapat berdampak kepada seluruh jenis investasi.

Dengan ketidakpastian prospek aliran investasi global ke ekonomi-ekonomi pasar berkembang seperti Indonesia, kabar baiknya adalah bahwa neraca eksternal Indonesia sedang melakukan penyesuaian. Defisit neraca berjalan menyusut secara signifikan pada kuartal terakhir tahun 2013 menjadi 4,0 miliar dolar AS, atau 2 persen dari PDB. Penurunan ini merupakan hal yang menggembirakan karena defisit pernah mencapai catatan tertinggi sebesar 10,0 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun 2013—yang merupakan 4,4 persen dari PDB. Pasar saham kembali naik, dengan mencatat peningkatan sebesar 9 persen dalam mata uang lokal, imbal hasil (yield) obligasi turun, dan Rupiah menguat sebesar 7 persen terhadap dolar AS, selama tahun berjalan, yang menutup sebagian penurunan yang signifikan pada tahun lalu. Aliran masuk modal portofolio dan perbankan juga meningkat pada kuartal penutup tahun 2013*.

Namun sejumlah hal perlu diwaspadai. Sejauh ini penyesuaian itu terutama berdasarkan pada kebijakan moneter yang lebih ketat dan depresiasi valuta selama paruh kedua tahun 2013, dan—seperti telah disinggung—melambatnya pertumbuhan investasi. Indonesia tetap rawan terhadap kemungkinan penurunan kembali kondisi pasar dunia.

Memperkaya racikan penelitian di tingkat sub-nasional melalui Open Data

Available in English

Merupakan kesalahan besar untuk membuat teori sebelum memiliki data. Karena kita akan mulai memutarbalikkan fakta agar sesuai dengan teori, dan bukannya teori agar sesuai dengan fakta – Sherlock Holmes.”
 

Pages