Syndicate content

April 2014

Investasi yang tak menentu di Indonesia

Alex Sienaert's picture
Also available in: English

Dapatkah ekonomi Indonesia keluar dari keadaan investasi yang tak menentu? Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan dalam laporan Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia dari Bank Dunia edisi bulan Maret 2014.

Mengapa pertumbuhan investasi Indonesia tak menentu? Pertama, terdapat perlambatan dalam investasi tetap, karena turunnya kondisi perdagangan dan lebih ketatnya kondisi pembiayaan luar negeri.

Kedua, sementara investasi asing langsung (FDI)—sumber pembiayaan investasi yang penting—masih tetap kuat sejauh ini, laju pertumbuhan aliran masuk FDI yang tercatat pada beberapa tahun terakhir menunjukkan tanda-tanda mendatar.

Ketiga, Indonesia tetap bergantung kepada pembiayaan luar negeri dari aliran masuk modal investasi portofolio. Aliran itu telah meningkat pada beberapa bulan terakhir, namun dapat bersifat volatil.

Akhirnya, perkembangan kebijakan terakhir telah meningkatkan ketidakpastian peraturan. Hal itu menambah kepada sulitnya memperkirakan kebijakan menjelang pemilu, yang dapat berdampak kepada seluruh jenis investasi.

Dengan ketidakpastian prospek aliran investasi global ke ekonomi-ekonomi pasar berkembang seperti Indonesia, kabar baiknya adalah bahwa neraca eksternal Indonesia sedang melakukan penyesuaian. Defisit neraca berjalan menyusut secara signifikan pada kuartal terakhir tahun 2013 menjadi 4,0 miliar dolar AS, atau 2 persen dari PDB. Penurunan ini merupakan hal yang menggembirakan karena defisit pernah mencapai catatan tertinggi sebesar 10,0 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun 2013—yang merupakan 4,4 persen dari PDB. Pasar saham kembali naik, dengan mencatat peningkatan sebesar 9 persen dalam mata uang lokal, imbal hasil (yield) obligasi turun, dan Rupiah menguat sebesar 7 persen terhadap dolar AS, selama tahun berjalan, yang menutup sebagian penurunan yang signifikan pada tahun lalu. Aliran masuk modal portofolio dan perbankan juga meningkat pada kuartal penutup tahun 2013*.

Namun sejumlah hal perlu diwaspadai. Sejauh ini penyesuaian itu terutama berdasarkan pada kebijakan moneter yang lebih ketat dan depresiasi valuta selama paruh kedua tahun 2013, dan—seperti telah disinggung—melambatnya pertumbuhan investasi. Indonesia tetap rawan terhadap kemungkinan penurunan kembali kondisi pasar dunia.