Syndicate content

Blogs

Festival Desa Inovatif Tampilkan Ide-ide Segar Penggunaan Dana Desa

Hera Diani's picture
Also available in: English


Di siang hari yang terik itu, sejumlah jambang jongkok menyambut pengunjung Taman Budaya di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
 
Para pengunjung tersebut tidak sedang mencari jamban baru, bukan pula sedang melakukan proyek perbaikan rumah. Mereka termasuk dari 350 warga desa yang ‘berbelanja’ ide-ide dan inovasi-inovasi untuk meningkatkan layanan dan infrastruktur dasar di desa-desa asal mereka.
 
Festival Desa Inovatif 2017 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, bekerja sama dengan Program Generasi Cerdas dan Sehat dari Kementerian Desa. Festival tersebut menampilkan solusi-solusi inovatif untuk menanggulangi beberapa kendala pembangunan yang mendesak yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat desa.

Satu Peta: mempercepat administrasi pertanahan terpadu untuk Indonesia

Anna Wellenstein's picture
Also available in: English
Foto: Curt Carnemark / World Bank

Hutan-hutan primer telah lama hilang dari lingkungan desa Teluk Bakung di pinggiran Pontianak, ibukota Kalimantan Barat di Indonesia. Hal ini tampak ketika saya tiba di wilayah tersebut pada akhir November 2016, sebagai bagian dari kunjungan lapangan. Kami melihat bagaimana sebagian besar penduduk desa telah meninggalkan pertanian yang berat di lahan gambut untuk bekerja pada perkebunan-perkebunan besar kelapa sawit dan ladang kelapa sawit mereka sendiri. Yang lain memilih berinvestasi dalam produksi sarang burung yang menguntungkan. Namun mereka melakukannya di tengah-tengah tata kelola penggunaan lahan yang membingungkan: demarkasi batas wilayah kawasan hutan dan wilayah administratif tidak lengkap, sementara kelompok kepentingan masyarakat dan pihak berwenang memperdebatkan sejarah alokasi areal konsesi perkebunan. Kumpulan data publik menunjukkan keragaman penggunaan lahan dan hutan di wilayah tersebut, termasuk cagar alamnya. Namun dalam kenyataannya, hampir seluruh lahan yang ada semakin dikhususkan untuk produksi kelapa sawit. 

Pameran Pasang Surut Urbanisasi Indonesia

Gauri Gadgil's picture
Also available in: English
Photo Credit: Andres Sevtsuk, Harvard City Form Lab

Minggu lalu saya berkunjung ke Bogor, 60 kilometer dari Jakarta dan hanya perlu satu jam lima belas menit untuk menuju kesana. Namun, diperlukan waktu tiga kali lebih lama untuk kembali ke Jakarta, karena macet akibat hujan deras.

Di lokasi lain di Jakarta, banjir terjadi di beberapa tempat. Mobil-mobil terjebak semalaman di basement tempat parkir café dan restoran di Kemang – sebuah kawasan terkenal yang sering kebanjiran akibat sistem drainase yang buruk dan kurangnya ruang hijau.

Inilah secuplik kehidupan di Jakarta yang tumbuh pesat, sebuah kawasan metropolitan yang di tahun 2028 bisa menggantikan Tokyo sebagai kota Asia dengan penduduk terbanyak.
 

Mengelola kebakaran: Upaya Indonesia untuk mencegah krisis kebakaran hutan dan lahan

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: English



Berita kebakaran hutan dan lahan bukan hal baru di Indonesia. Tapi drama penyenderaan di tengah “musim kebakaran”? Ini sesuatu yang baru, dan mendominasi deretan tajuk utama pemberitaan di awal September. Setelah mengumpulkan bukti lahan yang terbakar di area konsesi kebun sawit di Rokan Hulu, Riau, tujuh petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) disandera dan dipaksa menyerahkan atau menghapus bukti yang mereka kumpulkan.

Masyarakat bersatu membangun pasca bencana alam

George Soraya's picture
Also available in: English



Setelah gempa bumi besar di Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 2006, kawasan kota dan sekitarnya harus membangun kembali atau memperbaiki sekitar 300 ribu rumah.
 
Pemerintah punya pilihan menyewa 1.000 kontraktor yang masing-masing akan membangun 300 rumah, atau mengerahkan 300 ribu anggota masyarakat untuk masing-masing membangun satu rumah, rumah mereka sendiri.
 
Dengan pemerintah sebagai pemimpin proses rekonstruksi, mengambil pilihan kedua dalam mendukung program pemerintah. Ini adalah cara kerja REKOMPAK.
 

Transformasi struktural Indonesia beri petunjuk di mana lapangan kerja yang bagus

Maria Monica Wihardja's picture
Also available in: English



Pepatah mengatakan “Hidup bagaikan roda – kadang di atas, kadang di bawah”.

Era ‘booming komoditas’ ketika harga minyak mentah, kelapa sawit dan batu bara melambung tinggi sudah berakhir. Sudah seyogyanya hal ini ini menjadi lampu kuning bagi Indonesia, karena peralihan ekonomi ini telah mempengaruhi pertumbuhan lapangan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Lalu, bagaimana Indonesia bisa terus menciptakan lapangan kerja baru untuk pencari tenaga kerjanya yang terus bertambah?

Jawabannya ada di sektor manufaktur dan jasa, seperti yang sudah terindikasi oleh pola sejarah yang ada.

Dalam waktu 20 tahun terakhir (di luar era krisis ekonomi di tahun 1997-1999), sektor manufaktur dan jasa menjadi sumber penting lapangan kerja baru di tengah menurunnya jumlah pekerjaan di sektor pertanian. Dari tahun 1999-2015, proporsi pekerjaan di bidang pertanian turun menjadi 34% dari 56%, dari total lapangan kerja, sedangkan sektor jasa mengalami kenaikan menjadi 54% dari 34% dan sektor manufaktur naik dari 10% menjadi 13%. 

Dari bukti ke dampak: Menjangkau masyarakat termiskin Indonesia dengan sasaran lebih baik

Maura Leary's picture
Also available in: English



Bukti dan analisis, ketika dipakai dengan baik, bisa menjadi dasar membuat kebijakan yang efektif. Namun,  apa yang terjadi ketika sebuah laporan analitis dipublikasikan dan temuannya disebarluaskan? Pada kasus terburuk, sebuah laporan bisa saja hanya tersimpan sampai berdebu di lemari.
 
Sebaliknya, pada kasus terbaik, bukti yang kuat dan yang disiapkan dengan baik bisa membawa dampak nyata bagi mereka yang kurang beruntung. Belum lama ini kami berusaha mencari tahu bagaimana mempraktikkannya untuk kasus di Indonesia.
 
Bantuan sosial yang efektif merupakan sesuatu yang bukan saja penting untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, tapi juga untuk menjaga agar mereka tidak jatuh miskin. Namun sering kali program-program dengan tujuan yang baik tidak menjangkau mereka yang paling memerlukannya. Masyarakat miskin tetap miskin, masyarakat rentan tetap berisiko jatuh ke dalam kemiskinan karena guncangan,, dan ruang fiskal terbuang untuk program-program yang tidak mencapai tujuannya.

Naiknya kesenjangan: Mengapa ketimpangan di Indonesia naik dan apa yang perlu dilakukan?

Matthew Wai-Poi's picture
Also available in: English
In 2014, the richest 10 per cent of Indonesian households consumed as much as the poorest 54 per cent. Image by Google Maps.


Sejak tahun 1990an, ketimpangan di Indonesia naik lebih pesat dibanding negara Asia Timur manapun selain Tiongkok. Pada tahun 2002, konsumsi 10% rumahtangga terkaya setara dengan konsumsi 42% rumahtangga termiskin. Bahkan pada tahun 2014, naik menjadi 54%. Mengapa kita perlu khawatir mengenai tren ini? Apa penyebabnya, dan bagaimana pemerintah yang sekarang bisa mengatasi naiknya ketimpangan? Apa saja yang perlu dilakukan?
 
Ketimpangan tidak selalu buruk;  ketimpangan bisa memberi penghargaan bagi mereka yang bekerja keras dan berani mengambil risiko. Tetapi ketimpangan yang tinggi itu mengkhawatirkan dan bukan hanya karena alasan keadilan. Ketimpangan tinggi bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi, memperparah konflik, dan menghambat potensi generasi sekarang dan masa depan. Contohnya, riset baru mengindikasikan bahwa secara rata-rata, ketika porsi besar pendapatan nasional dinikmati oleh seperlima rumahtangga terkaya, pertumbuhan ekonomi melambat – sementara negara bisa tumbuh lebih cepat ketika seperlima rumahtangga termiskin menerima lebih banyak.

Ungkapkan suaramu Indonesia! Mengusung akuntabilitas sosial layanan kesehatan

Ali Winoto Subandoro's picture
Also available in: English

 

Untuk mengetahui bagaimana akuntabilitias sosial bisa memperbaiki kualitas layanan kesehatan di Indonesia, silakan kunjungi kawasan perbatasaan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kejadian ini berlangsung di suatu siang yang panas pada bulan Agustus 2015 di kelurahan Bijaepasu, sekitar enam jam perjalanan darat dari ibukota provinsi NTT, Kupang. Di tengah panasnya udara yang mencapai 40 derajat celcius, antrian manusia melingkari sebuah puskesmas.

Sekelompok ibu dengan bayi mereka juga para manula berdiri sepanjang dinding yang hampir roboh. Antrian panjang bergerak dengan lambat. Petugas kesehatan terlihat kewalahan melayani pasien dan hampir tidak ada peralatan medis yang memadai di puskesmas tersebut.

Pendidikan Anak Usia Dini di pedesaan, kunci untuk menghidupkan potensi Indonesia

Rosfita Roesli's picture
Also available in: English



“Lima tahun pertama akan sangat menentukan (perkembangan) 80 tahun ke depan,” filantropis dan jutawan Bill Gates, pernah berkata, terkait pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD).

Pendidikan anak usia dini kerap disebut dalam Strategi Pendidikan 2020 Bank Dunia, yang memaparkan agenda 10 tahun ke depan di bidang pendidikan, dengan tujuan “Pembelajaraan untuk Semua”. Dengan moto “investasi awal, investasi yang pintar dan investasi untuk semua,” strategi ini mengatakan bahwa investasi pendidikan anak usia dini akan menopang pembangunan dan pertumbuhan sebuah negara, terutama untuk negara perkenomian berkembang seperti Indonesia.

Pages