Syndicate content

Bencana

Sekaranglah waktunya memperkuat pengendalian risiko bencana di Asia Timur dan Pasifik

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Setiap kali saya diberitahu terjadinya kembali sebuah bencana alam – tentang korban jiwa masyarakat, rumah-rumah yang hancur, matapencaharian yang hilang – saya teringat bagaimana pentingnya kita perlu bertindak guna mengurangi dampak tragedi tersebut. Kita  tidak bisa menunggu sampai bencana kembali terjadi.

Pada World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, yang akan berupaya mencari penerus Hyogo Framework for Action (HFA2) -- panduan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan internasional dalam bidang manajemen risiko bencana – peluang itu ada di tangan kita. Konferensi ini adalah peluang untuk menjadi tonggak penting dalam hal pengendalian risiko bencana dan pengentasan kemiskinan.

Biaya akibat bencana alam sudah sangat tinggi. Dalam periode 30 tahu, sekitar 2,5 juta korban jiwa dan $4 triliun hilang akibat bencana, dan hal ini berdampak pada upaya pembangunan.

Di Asia, urbanisasi yang pesat serta perencanaan yang kurang baik telah secara signifikan mempertajam kerentanan kota, khususnya perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terletak di pesisir atau tepi sungai. Lebih dari 7.350 korban jiwa jatuh akibat Badai Haiyan  di Filipina pada tahun 2013, dan bencana tersebut secara langsung mengakibatkan naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,2 persen.

Kapal tsunami: Wisata unik di Aceh

David Lawrence's picture

Available in English

Apa yang Anda lakukan kalau ada kapal seberat 2.600 ton mendarat di dekat rumah? Percaya atau tidak, ada beberapa orang yang bingung menjawab pertanyaan ini.

Tsunami yang menyapu Lautan Hindia pada 26 Desember 2004 tidak hanya membawa kerusakan dan korban jiwa. Kejadian tersebut juga menyapu PLTD Apung 1, kapal pembangkit listrik yang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh, naik ke darat. Seharusnya kapal ini menghasilkan listrik untuk beberapa dekade lagi untuk mengurangi keterbatasan listrik di Indonesia.

Get the flash player here: http://www.adobe.com/flashplayer

 

Tetapi kapal tersebut terangkat oleh tsunami hingga beberapa kilometer ke darat, tepat di tengah-tengah perumahan. Ketika saya pertama kali tiba di Banda Aceh pada tahun 2006, penduduk masih tinggal di beberapa rumah tepat di samping kapal itu. Sebuah jalan sementara dibuat mengelilingi benda besar tersebut. Di dekatnya ada kotak yang diletakkan di atas sebuah kursi, dengan tulisan tangan untuk meminta sumbangan bagi para korban tsunami. Pertanyaan yang ada di benak kami semua adalah: Apa yang akan mereka lakukan dengan sumbangan itu?

Rumah kami, desa kami, kami akan bangun kembali

Nugroho Nurdikiawan Sunjoyo's picture

Juga tersedia di English

Pada bulan September tahun ini, saya mengungjungi masyarakat beberapa desa di Yogyakarta yang tengah membangun kembali rumah dan kehidupan mereka setelah mengalami serangkaian bencana alam. Pembangunan kembali yang saya lihat merupakan contoh bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi dalam situasi pasca bencana.

Rumah kami, desa kami, kami akan bangun kembali