Syndicate content

Disasters

Menjaga pembangunan Indonesia dari semakin bertambahnya risiko bencana

Jian Vun's picture
Also available in: English
 
Permukiman baru di kabupaten Sleman pasca-letusan Gunung Merapi.

Bayangkan bila Anda tinggal dekat salah satu dari 127 gunung berapi aktif di Indonesia, dengan kekhawatiran letusan berikutnya bisa membahayakan keluarga Anda. Bayangkan rumah Anda berada di salah satu zona seismic paling aktif di dunia, atau bahwa keluarga Anda tinggal di salah satu dari 317 daerah dengan risiko banjir yang tinggi. Ini adalah kenyataan yang sudah dihadapi setidaknya 110 juta penduduk Indonesia, dan lebih banyak lagi bisa terkena dampak akibat urbanisasi, perubahan iklim, dan penurunan permukaan tanah.
 
Negara ini dikenal memiliki 'toko serba ada' bahaya bencana. Selama dua puluh tahun terakhir saja, pemerintah Indonesia mencatat lebih dari 24.000 peristiwa bencana yang menyebabkan 190.500 korban jiwa, memuat hampir 37 juta orang mengungsi, dan merusak lebih dari 4,3 juta rumah. Kerugian total dari bencana tersebut mencapai hampir $28 miliar, atau sekitar 0,3% dari PDB nasional setiap tahun.

Masyarakat bersatu membangun pasca bencana alam

George Soraya's picture
Also available in: English



Setelah gempa bumi besar di Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 2006, kawasan kota dan sekitarnya harus membangun kembali atau memperbaiki sekitar 300 ribu rumah.
 
Pemerintah punya pilihan menyewa 1.000 kontraktor yang masing-masing akan membangun 300 rumah, atau mengerahkan 300 ribu anggota masyarakat untuk masing-masing membangun satu rumah, rumah mereka sendiri.
 
Dengan pemerintah sebagai pemimpin proses rekonstruksi, mengambil pilihan kedua dalam mendukung program pemerintah. Ini adalah cara kerja REKOMPAK.
 

Sekaranglah waktunya memperkuat pengendalian risiko bencana di Asia Timur dan Pasifik

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Setiap kali saya diberitahu terjadinya kembali sebuah bencana alam – tentang korban jiwa masyarakat, rumah-rumah yang hancur, matapencaharian yang hilang – saya teringat bagaimana pentingnya kita perlu bertindak guna mengurangi dampak tragedi tersebut. Kita  tidak bisa menunggu sampai bencana kembali terjadi.

Pada World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, yang akan berupaya mencari penerus Hyogo Framework for Action (HFA2) -- panduan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan internasional dalam bidang manajemen risiko bencana – peluang itu ada di tangan kita. Konferensi ini adalah peluang untuk menjadi tonggak penting dalam hal pengendalian risiko bencana dan pengentasan kemiskinan.

Biaya akibat bencana alam sudah sangat tinggi. Dalam periode 30 tahu, sekitar 2,5 juta korban jiwa dan $4 triliun hilang akibat bencana, dan hal ini berdampak pada upaya pembangunan.

Di Asia, urbanisasi yang pesat serta perencanaan yang kurang baik telah secara signifikan mempertajam kerentanan kota, khususnya perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terletak di pesisir atau tepi sungai. Lebih dari 7.350 korban jiwa jatuh akibat Badai Haiyan  di Filipina pada tahun 2013, dan bencana tersebut secara langsung mengakibatkan naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,2 persen.

Tiga pelajaran penting dari Tsunami 2004

Abhas Jha's picture
Also available in: English



Pada dasarnya saya adalah orang yang pragmatis, mengingat awal karir saya sebagai petugas kelurahan, lanjut terus ke kecamatan, di India, ketika saya bertanggungjawab untuk banyak hal yang terjadi di lapangan, mulai dari persediaan air hingga rencana penggunaan lahan pertanian. Namun saya sangat sedih dan terpukul menyaksikan dampak dari bencana tsunami 2004. Di Indonesia saja, sekitar 220.000 orang kehilangan nyawa.