Syndicate content

Social Development

Lima pembelajaran dari Indonesia tentang penyediaan perumahan yang terjangkau

Dao Harrison's picture
Available in english

Berkat program subsidi pemerintah, Dewi baru saja menjadi pemilik rumah untuk pertama kalinya. Tahun lalu, Dewi pindah ke rumah barunya di Yogyakarta. Ia saat itu berpikir: semuanya sempurna.

Ternyata kenyataannya tidak demikian. Rumah Dewi berjarak satu jam dari pusat kota, jauh dari daerah perkantoran,  pusat perbelanjaan, dan sekolah untuk kedua anaknya. Dua tahun setelah perumahan selesai dibangun, lebih dari setengah rumah di sana masih kosong. Karena rumah tidak terhubung dengan sistem air setempat, dua kali seminggu Dewi harus membeli air. Saat musim banjir, Dewi mengalami kesulitan untuk mencapai rumahnya.




Penyediaan perumahan yang terjangkau dan memadai telah menjadi prioritas kebijakan utama pemerintah Indonesia dengan diluncurkannya program Satu Juta Rumah (One Million Homes). Berbagai upaya sebelumnya untuk memenuhi permintaan perumahan yang terjangkau – gabungan dari adanya  permintaan  baru secara tahunan dan pemenuhan kekurangan perumahan yang belum terlaksana - belum secara efektif membawa dampak pada skala yang diperlukan.
 
 
Sumber:  Kementerian Pekerjaan Umum, Indonesia

Tapi haruskah jumlah kepemilikan rumah menjadi indikator tunggal program subsidi perumahan yang sukses? Mungkinkah ada program yang memenuhi kebutuhan Pemerintah untuk tetap efektif biaya secara fiksal maupun ekonomi, dan sekaligus dapat merespons pasar swasta dan juga kebutuhan warga?

Saat ini berbagai pilihan sedang dieksplorasi. National Affordable Housing Program Project (NAHP) yang baru disetujui misalnya, bertujuan untuk berinovasi dalam pasar perumahan yang terjangkau dengan mengatasi kemacetan dan secara aktif melibatkan sektor swasta dalam melayani berbagai segmen yang belum tersentuh. Sejauh ini, upaya dari Indonesia ini memberikan pelajaran berharga, yaitu:

Festival Desa Inovatif Tampilkan Ide-ide Segar Penggunaan Dana Desa

Hera Diani's picture
Also available in: English


Di siang hari yang terik itu, sejumlah jambang jongkok menyambut pengunjung Taman Budaya di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
 
Para pengunjung tersebut tidak sedang mencari jamban baru, bukan pula sedang melakukan proyek perbaikan rumah. Mereka termasuk dari 350 warga desa yang ‘berbelanja’ ide-ide dan inovasi-inovasi untuk meningkatkan layanan dan infrastruktur dasar di desa-desa asal mereka.
 
Festival Desa Inovatif 2017 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, bekerja sama dengan Program Generasi Cerdas dan Sehat dari Kementerian Desa. Festival tersebut menampilkan solusi-solusi inovatif untuk menanggulangi beberapa kendala pembangunan yang mendesak yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat desa.

Satu Peta: mempercepat administrasi pertanahan terpadu untuk Indonesia

Anna Wellenstein's picture
Also available in: English
Foto: Curt Carnemark / World Bank

Hutan-hutan primer telah lama hilang dari lingkungan desa Teluk Bakung di pinggiran Pontianak, ibukota Kalimantan Barat di Indonesia. Hal ini tampak ketika saya tiba di wilayah tersebut pada akhir November 2016, sebagai bagian dari kunjungan lapangan. Kami melihat bagaimana sebagian besar penduduk desa telah meninggalkan pertanian yang berat di lahan gambut untuk bekerja pada perkebunan-perkebunan besar kelapa sawit dan ladang kelapa sawit mereka sendiri. Yang lain memilih berinvestasi dalam produksi sarang burung yang menguntungkan. Namun mereka melakukannya di tengah-tengah tata kelola penggunaan lahan yang membingungkan: demarkasi batas wilayah kawasan hutan dan wilayah administratif tidak lengkap, sementara kelompok kepentingan masyarakat dan pihak berwenang memperdebatkan sejarah alokasi areal konsesi perkebunan. Kumpulan data publik menunjukkan keragaman penggunaan lahan dan hutan di wilayah tersebut, termasuk cagar alamnya. Namun dalam kenyataannya, hampir seluruh lahan yang ada semakin dikhususkan untuk produksi kelapa sawit. 

Masyarakat bersatu membangun pasca bencana alam

George Soraya's picture
Also available in: English



Setelah gempa bumi besar di Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 2006, kawasan kota dan sekitarnya harus membangun kembali atau memperbaiki sekitar 300 ribu rumah.
 
Pemerintah punya pilihan menyewa 1.000 kontraktor yang masing-masing akan membangun 300 rumah, atau mengerahkan 300 ribu anggota masyarakat untuk masing-masing membangun satu rumah, rumah mereka sendiri.
 
Dengan pemerintah sebagai pemimpin proses rekonstruksi, mengambil pilihan kedua dalam mendukung program pemerintah. Ini adalah cara kerja REKOMPAK.
 

Pendidikan Anak Usia Dini di pedesaan, kunci untuk menghidupkan potensi Indonesia

Rosfita Roesli's picture
Also available in: English



“Lima tahun pertama akan sangat menentukan (perkembangan) 80 tahun ke depan,” filantropis dan jutawan Bill Gates, pernah berkata, terkait pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD).

Pendidikan anak usia dini kerap disebut dalam Strategi Pendidikan 2020 Bank Dunia, yang memaparkan agenda 10 tahun ke depan di bidang pendidikan, dengan tujuan “Pembelajaraan untuk Semua”. Dengan moto “investasi awal, investasi yang pintar dan investasi untuk semua,” strategi ini mengatakan bahwa investasi pendidikan anak usia dini akan menopang pembangunan dan pertumbuhan sebuah negara, terutama untuk negara perkenomian berkembang seperti Indonesia.