Syndicate content

Recent comments

  • Reply to: Refleksi Reformasi Guru di Indonesia   1 week 3 days ago

    Terimakasih buat World Bank yang telah peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, terimakasih juga buat Pemerintah (khususnya pemerintah pusat) yang telah bersusah payah meningkatkan kualitas pendidikan termasuk kualitas guru.

    Usaha pemerintah (pusat) untuk meningkatkan kualitas guru melalui sertifikasi (dan banyak lainnya) tentu patut kita hargai, meskipun banyak penelitian yang menunjukkan bahwa penguasaan guru yang telah bersertifikat dengan yang belum terhadap kompetensi yang mesti dimulikinya tidaklah signifikan. Oleh karena itu, mungkin perlu suatu proses yang lebih panjang untuk mengubah hal itu, menaikkan kemampuan guru menjadi lebih baik.

    Proses peningkatan kualitas guru tidaklah berjalan sendiri dan hanya ditentukan oleh pemerintah pusat (khususnya kementerian pendidikan), namun dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk sistem pemerintahan (otonomi), politik dan ekonomi (setuju dengan pendapat sdr. Ragatz), sistem dan mekanisme sertifikasi, serta para institusi (dan individu) yang terlibat di dalamnya.

    Oleh karena itu, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi yang menyeluruh serta mendalam terkait dengan pelaksanaan sertifikasi itu sendiri; misal, pada tataran perguruan tinggi penyelenggara, apakah para asesor atau tutornya telah memiliki kompetensi yang memadai sebagai asesor/tutor? apakah pelaksanaannya telah benar dan sungguh-sungguh? apakah materinya memang sesuai dengan kebutuhan guru? dan lain sebagainya.

    Ketika seorang guru bersertifikat kembali ke sekolah di daerahnya masing-masing, ia wajib melaksanakan pengajaran sekian jam tatap muka. beberapa fenomena yang terjadi di daerah bahwa untuk mengejar kewajiban tersebut banyak guru yang harus mengajar di beberapa sekolah (lebih dari satu sekolah). Kewajiban ini tidak bisa disubstitusi dengan kegiatan lain seperti membina siswa dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, memberikan remedial, membina siswa olimpiade, dan lainnya, sehingga menjadikan guru cenderung hanya mengejar kewajiban mengajar dan kurang peduli terhadap yang tadi. Tentu ini juga dapat berpengaruh terhadap prestasi siswa.

    Fenomena bahwa "jabatan" di sekolah juga tidak ditentukan oleh "prestasi" sang guru, tetapi lebih ditentukan oleh faktor lain yang berhubungan dengan para penguasa di tingkat Kabupaten/Kota (bupati/walikota), mungkin juga turut mengendurkan semangat para guru untuk berprestasi.

    Masih banyak fenomena lain yang terjadi dan turut mempengaruhi kualitas guru serta prestasi siswa secara keseluruhan. Hal seperti ini menandakan bahwa terlepas dari prestasi yang diperoleh, sangat diperlukan monitoring dan evaluasi yang komprehensif untuk perbaikan dari yang terjadi selama ini. selain itu juga diperlukan usaha untuk Peningkatan kualitas guru secara berkelanjutan.......... yang telah dirintis melalui UKA, UKG, dll.. beberapa tahun yang lalu...(terlalu panjang bila di bahas di sini...).

    salam,

  • Reply to: Refleksi Reformasi Guru di Indonesia   1 week 3 days ago

    Sertifikasi berhasil mengubah Gaya hidup Guru
    Ini salah satu manfaat yang sangat kentara. Hidupya lebih meningkat, positifnya banyak yg pergi haji, jadi haji Usep: uang sertifikasi, bergelar M.Pd Ser. Berganti kendaraan roda 4, Namun sayang, yg kurang bersyukur malah nikah lagi. Cari dapur baru. Tingkat perceraian guru lebih tinggi krn shock dg penghasilan lebih. Semoga kebaikan pemerintah kita balas dg kinerja yg lebih baik

  • Reply to: Refleksi Reformasi Guru di Indonesia   2 weeks 5 days ago

    Dear Sir,
    ya mungkin ini tahap awal, tapi pak sebenarnya saya tidak bermaksud mengecilkan hati atau menjelekan ide sertifikasi, ini hanya koreksi untuk perbaikan agar kita maju bahkan selanjutnya kita bisa bantu pemerintah memperbaiki keadaan. misal Meminta bantuan NGO untuk mengevaluasi keadaan seperti yang dilakukan Wold bank sebagai bahan feed back untuk pemerintah, dan atau data bisa di share ke media sebagai bahan kritik kepada pemerintah. Atau kita siap aja membantu memberikan data dan gambaran di daerah kami apa kelemahan yand bisa diperbaiki dan potensi yang bisa ditingkatkan. Bahkan pak lembaga dan pemerintah asing pun sebenarnya siap bantu kok. mungkin kita bisa minta kerjasaa G to G. Waktu saya di Australia ada orang disana dan termasuk Departement pendidikan Australia barat mau kerja sama asal proposalnya jelas. maksud saya bangsa yang besar ini sepertinya butuh bantuan pihak lain untuk memperbaiki keadaan yang kedua kan sayang potensi sumberdaya bangsa yang besar ini yang seharusnya ada harapan maju tapi ada krikil-krikil yang sebenarnya bisa kita bantu untuk menyingkirkannya. dan banyak lagi kalau kita bertemu mungkin bisa lebih real pak apa langkahnya semetara segini dulu ya pak

    choerul huda

    Master in education for sustainability

  • Reply to: Refleksi Reformasi Guru di Indonesia   2 weeks 6 days ago

    Paling tidak program sertifikasi guru telah membuat guru tidak perlu lagi mencari pekerjaan diluar pekerjaan utamanya untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Mudah-mudahan makin banyak guru yang makin mempersiapkan diri dalam memberikan pendidikan kepada muridnya.

    Di daerah pedalaman Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah ini masih banyak guru yang tidak memenuhi jam mengajar. Untuk mengatasinya, sebagian kecil guru ada yang menitipkan nama di sekolah-sekolah pedalaman untuk mendapatkan jam mengajar dengan berbagi uang sertifikasi yang didapatkan. Sebagaimana dalam dunia kesehatan, dimana meningkatnya pendapatkan tidak berjalan sejajar dengan kualitas pelayanan, kita berharap dimasa yang akan datang, impian akan adanya kualitas pendidikan yang lebih baik akan segera terwujud.

  • Reply to: Refleksi Reformasi Guru di Indonesia   3 weeks 14 hours ago

    ada lagi hal lain yang perlu disikapi yaitu sistem mekanisme kontrol dan evaluasi. seringkali pemerintah membuat ide-ide perubahan untuk peningkatan kualitas pendidikan tapi sangat lemah dalam sistem kontrol dan evaluasinya. di lapangan banyak sekali program sertifikasi yang asal-asalan tapi tak ada mekanisme untuk menegor atau menghukum sebuah pelanggaran atas kesalahan itu. ya itu memang tekanan ekonomi karena uang harus segera dikeluarkan. yang akhirnya kegiatan berbasis proyek asal proyek beres tak peduli kualitasnya.