Syndicate content

Revisi PDB Indonesia: Potret yang Lebih Tepat

Alex Sienaert's picture
Also available in: English



Badan Pusat Statistik telah mengeluarkan statistik triwulan nasional pada 5 Februari 2015. Biasanya data yang diterbitkan secara triwulanan akan mengundang keingintahuan yang besar (setidaknya bagi para ekonom makro dan pengamat ekonomi yang selalu haus akan perkembangan data terbaru tren pertumbuhan jangka pendek). Namun data yang dihasilkan BPS kali ini mempunyai kekhususan karena selain memberikan data triwulan  tahun 2014, juga terdapat dua revisi signifikan terhadap statistik PDB Indonesia yaitu: (1) menggeser tahun dasar perhitungan PDB dari tahun 2000 menjadi 2010, dan (2) mengadopsi metodologi dan presentasi statisik yang jauh lebih baru (yaitu memperbaharui perhitungan neraca nasional dari Sistem SNA 1993 menjadi SNA 2008).[1]

Dengan adanya revisi ini, hal baru apa yang bisa diketahui tentang perkembangan ekonomi Indonesia yang tidak kita ketahui sebelumnya? Satu perubahan yang langsung terlihat adalah: output total dengan harga nominal saat ini menjadi sekitar 4,4 persen lebih besar dibanding estimasi pada tahun 2014 (dan rata-rata 5,2 persen lebih besar pada periode 2010-2014). Hal ini merupakan perubahan yang signifikan menambah Rp 448 triliun, atau sekitar USD 35,3 milyar pada besaran estimasi ekonomi Indonesia pada tahun 2014. Menurut BPS, sekitar sepertiga output tambahan tersebut adalah hasil penyertaan beberapa aktivitas ekonomi baru di bawah SNA 2008, dan sekitar dua-pertiga berasal dari perbaikan pengukuran.

Meskipun pengukuran output yang lebih tepat menghasilan tingkat PDB yang lebih tinggi, ia juga menghasilkan tingkat pertumbuhan ekonomi sejak 2011 menjadi lebih rendah secara signifikan, sebesar 0,3 persen pada tahun 2011, sekitar 0,2 persen pada 2012 dan 2013, serta 0,04 persen pada 2014.

Secara singkat, ekonomi Indonesia terlihat lebih besar secara signifikan, dan tumbuh sedikit lebih lambat dari perkiraan sebelumnya (Tabel 1).

Perubahan-perubahan ini penting karena output ekonomi tahunan menjadi patokan penting yang menjadi tolak ukur banyak variabel ekonomi. Semua rasio dengan PDB yang direvisi akan menyusut. Berikut adalah beberapa contoh yang menunjukkan dampak dari revisi, dan untuk kasus data fiskal juga tersedia data terbaru PDB triwulan keempat 2014:

  • Defisit neraca berjalan (atau surplus belanja investasi setelah penghematan): kumulatif senilai USD 20 milyar pada triwulan 1-3 2014, setara dengan 3,1 persen PDB kumulatif pada periode tersebut, sekarang mengecil menjadi 2,9 persen PDB.
  • Hutang eksternal Indonesia: sejumlah USD 294,4 milyar pada November 2014 (data Bank Indonesia), setara dengan 34,7 persen PDB 2014, sekarang mengecil menjadi 33,2 persen.
  • Defisit fiskal Indonesia senilai Rp 227,4 triliun pada 2014 (belum diaudit), setara 2,3 persen PDB, sekarang menjadi 2,2 persen.
  • Penerimaan pajak Indonesia, senilai Rp 1,143 triliun pada 2014 setara dengan 11,1 persen PDB, sekarang menurun menjadi 10,8 persen.


Source: BPS (Statistiks Indonesia); Kalkulasi staf Bank Dunia

Seperti yang ditunjukkan oleh contoh-contoh di atas, skala perubahan rasio PDB Indonesia belum cukup untuk melakukan perubahan cara pandang kita terhadap kondisi dan risiko perekonomian Indonesia. Ini masuk akal, karena estimasi terbaik sekarang menunjukkan output ekonomi tahunan yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir, walaupun belum signifikan, dan tidak ada hal yang berubah. Selain itu, Indonesia tetap mencatat outflow neraca berjalan sebesar USD 20 milyar pada 2014 hingga triwulan ketiga, dan masih harus menutupi defisit fiskal yang sama seperti sebelumnya, dan juga pemerintah masih menghadapi tantangan yang sama untuk meningkatkan penerimaan, terlebih sekarang ini harus dimulai dari rasio pajak terhadap PDB yang lebih rendah dari sebelumnya.[2]  Sebaliknya, beberapa revisi metodologi di negara-negara lain telah menghasilkan perbedaan yang lebih besar. Pada April 2014, contohnya, revisi PDB Nigeria membuat ukuran ekonomi negara tersebut menjadi sekitar dua kali lipat, yang membuatnya melewati Afrika Selatan sebagai Negara ekonomi terbesar di Afrika!

Selain perubahan PDB yang berdampak pada berubahnya beberapa besaran rasio utama, perubahan ini juga menandai sebuah langkah penting dalam proses perbaikan berkelanjutan data statistik ekonomi Indonesia yang besar dan tumbuh pesat. Berkat metodologi yang baru ini, sekarang tersedia data sektoral yang lebih rinci, sementara perbedaan besar yang dulu sering terjadi antara PDB sisi produksi dan pengeluaran, sekarang telah mengecil. Sampai beberapa period eke depan, para ekonom dan pembuat kebijakan akan menggunakan data-data baru ini untuk melihat implikasi lain, termasuk untuk proyeksi PDB.

Sementara itu, revisi PDB Indonesia menjadi peringatan: statistik ekonomi sangat kompleks, dan dipengaruhi oleh perubahan dan revisi metodologi yang terus berlangsung. Statistik PDB memberikan serangkaian “potret” yang penting untuk memantau ekonomi dan mengukur stok dan aliaran ekonomi, tetapi karena ekonomi sangat besar, kompleks dan dinamis, potret-potret tersebut akan menjadi kurang jelas dan tidak lengkap. Kita jarang memikirkan untuk melihat bagaimana reaksi pasar finansial dan media terhadap keluarnya data baru, atau terhadap perubahan-perubahan kecil, atau perbedaan proyeksi, termasuk untuk Indonesia (bahkan sering mengacuhkan revisi yang cukup besar!). Apakah para pemerhati ekonomi bisa lebih berusaha untuk memahami, mengakui dan menginformasikan pada pemangku kepentingan mengenai keterbatasan data-data utama, meskipun secara berangsur menjadi lebih baik?
 
[1] For a general technical overview of the System of National Accounts, see http://unstats.un.org/unsd/nationalaccount/sna.asp
[2] For a recent overview, see the December 2014 edition of the World Bank Indonesia Economic Quarterly (http://www.worldbank.org/en/news/feature/2014/12/08/indonesia-economic-quarterly-december-2014).

Comments

Submitted by Nurachmat herlambang on

Revisi PDB Indonesia dgn metodologi dan presentasi statistik yg jauh lebih baru, perubahan tahun dasar penghitungan akan mempertajam evaluasi dan perencanaan yg dilakukan selanjutnya.

Submitted by james on

(yaitu memperbaharui perhitungan neraca nasional dari Sistem SNA 1993 menjadi SNA 2008).[1]
bagus< ingin tahu seperti apa metode nya< apakah hanya menggeser tahun dasar menjadi 2010 ?