Syndicate content

Percontohan di Indonesia menarik minat wirausahawan untuk membawa teknologi memasak yang sehat dan hemat energi ke rumah tangga

Yabei zhang's picture
Also available in: English


Bapak Kris mengelola pabrik penghasil pelet yang terletak di dekat kota Boyolali, Jawa Tengah. Sejak pabrik dibentuk, ia telah berpikir untuk merambah pasar domestik — meskipun sampai saat ini pelet produksinya diutamakan untuk ekspor — dikarenakan mulai redanya antusiasme pasar global. Ketika Bapak Kris mendapat informasi bahwa Program Inisiatif Tungku Sehat Hemat Energi (TSHE) / Clean Stove Initiative (CSI) Indonesia telah meluncurkan program percontohan Pembiayaan Berbasis Hasil (PBH), ia pun ikut mendaftar dan berpartisipasi dalam program tersebut.

Ia menggabungkan wawasannya tentang pasar pelet lokal dengan insentif yang diberikan program percontohan untuk mengembangkan jaringan distribusi dan menguji TSHE berbasis pelet buatannya. Setiap tungku yang dijual dilengkapi 1 kilo pelet kayu yang perusahaannya berikan secara cuma-cuma. Dengan pengalamannya bergabung dalam program percontohan PBH, Pak Kris melihat adanya potensi pasar tungku masak yang bersih dan efisien. Ia berencana terus menjual TSHE dengan harapan suatu saat dapat mendirikan pabrik pelet miliknya sendiri. 

Bapak Kris bukanlah satu-satunya pemilik bisnis yang ikut terlibat dalam program ini. Percontohan PBH telah membantu 10 perusahaan untuk memulai atau mengembangkan bisnis tungku mereka di daerah-daerah baru. Alhasil, sekitar 10,000 TSHE dalam enam tipe berbeda telah terjual, baik berbasis kayu maupun pelet; dan hal tersebut memberikan dampak positif pada daerah-darah percontohan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur, yang sebelumnya tidak pernah mengenal atau dapat mengakses TSHE.

Mengapa harus PBH dan bagaimana cara kerjanya?
TSHE Indonesia yang merupakan program kolaborasi pemerintah Indonesia dan World Bank, meluncurkan percontohan PBH tahun 2014. Tujuannya adalah untuk menguji mekanisme berbasis pasar untuk mengundang investasi dari swasta dan memberikan insentif terhadap inovasi berkinerja baik. Mekanisme PBH berbeda dari pendekatan pemerintah yang selama ini menggunakan alur pengadaan-lalu-distribusi yang mana hasil akhirnya tidak selalu berhasil dikarenakan tingginya kemungkinan mismatch antara suplai dan permintaan. Hal ini terutama penting bagi sektor TSHE karena kebutuhan memasak berbeda-beda tergantung daerah, dan tidak ada solusi umum.



Mekanisme PBH memberikan insentif pendanaan untuk hasil yang terbukti dan teruji secara independen, bukan pada proyek yang masih dalam tahap pengusulan. Mekanisme ini memindahkan resiko investasi dan kinerja ke sektor swasta. Ditambah lagi memberikan kelonggaran bagi sektor swasta untuk lebih inovatif dalam merancang, memproduksi dan menjual TSHE. Konsep kerangka kerja percontohan PBH mengikutsertakan tiga aspek – definisi TSHE, insentif berbasis hasil, serta sistem monitoring and verification (M&V) – yang didukung oleh pilar penguatan institusi/capacity building tiap-tiap pemain pasar dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran agar dapat menstimulasi permintaan dari rumah-rumah. Dalam kasus percontohan di Indonesia, agar memenuhi syarat menjadi penerima insentif dengan jumlah tertentu, tungku yang bersangkutan harus diuji kinerja teknisnya perihal efisiensi, emisi (polutan udara dan karbon dioksida), keamanan, serta ketahanannya. Insentif ini kemudian dibayarkan melalui tiga fase, dan dalam tiap fase, butuh verifikasi akan stok, penjualan, maupun penggunaan tungku di rumah tangga. 

Seperti apa pencapaiannya?
Semenjak percontohan ini dilaksanakan antara 2014-2016, total 10 badan usaha swasta (penyuplai tungku) telah berpartisipasi, termasuk delapan yang baru saja memulai bisnis di bidang TSHE dan lima yang dipimpin wanita. Sekitar 100.000 dolar Amerika telah diberikan untuk membiayai perusahaan-perusahaan tersebut sebagai penghargaan finansial berdasarkan verifikasi akan stok, penjualan, maupun penggunaan berkelanjutan TSHE di rumah tangga. Beberapa inovasi utama termasuk:
  • Merintis metode uji tungku kontekstual yang mempertimbangkan cara memasak setempat. Biasa dikenal sebagai Uji Pemanasan Air / Water Heating Test (WHT) Tungku Sehat Hemat Energi (CSI-WHT), metode pengujian terbaru ini mempertimbangkan variabel penting yang sangat bergantung pada konteks lokal (cth. kelembaban bahan bakar, prosedur pelaksanaan, dan jenis wadah memasak). Dengan mengembangkan metode uji teknis yang kontekstual dan holistik ini, hasil angka yang didapat tidak hanya menunjukkan informasi perihal efisiensi bahan bakar dan emisi; melainkan juga memprediksi kinerja alat di rumah tangga.
  • Merangsang desain tungku lokal dan terobosan teknologi. Di antara 15 tipe tungku yang dinilai layak untuk masuk ke percontohan, 7 tipe dirancang dan diproduksi secara lokal. Tungku-tungku yang dinilai layak ini dapat mengurangi polutan udara (PM 2.5) sebesar 90% dan menghemat 50% bahan bakar dibandingkan tungku tradisional. Secara keseluruhan, tungku pelet lebih efisien dan bersih, bukti bahwa bahan bakar proses kinerjanya lebih unggul.
  • Memberdayakan inovasi akar rumput melalui business models. Pengalaman dan ukuran bisnis yang beraneka ragam memungkinkan mereka yang berpartisipasi dalam percontohan untuk menciptakan business modelnya sendiri, yang umumnya tergantung pada apakah mereka dapat menegosiasikan metode pembayaran untuk pengadaan tungku dari produsen dan pada pembeli tungku, serta tingkat resiko yang dapat mereka tolerir. Inovasi yang ada termasuk memperluas jangkauan kredit ke konsumen melalui cicilan, bermitra dengan institusi microfinance untuk menawarkan kredit, menawarkan diskon bundling untuk tungku/bahan bakar, serta bekerjasama dengan koperasi sebagai distributor bahan bakar (pelet)
 

Percontohan di Indonesia ini menunjukkan bahwa insentif PBH yang berbasis pasar dapat menarik minat sektor swasta dan merangsang terobosan di daerah setempat. Nilai inti dari percontohan merupakaan penyediaan kerangka kerja yang dapat mempersatukan semua elemen penting untuk mengembangkan sektor tungku sehat hemat energi – kebijakan, institusi, teknologi, standar/pengujian, sokongan sektor swasta, stimulasi permintaan, dan menjembatani jurang kemampuan membeli – serta memberikan sinyal jelas ke sektor swasta perihal kinerja dan hasil yang diharapkan. Mengatur langkah intervensi agar bersatu menuju target dan hasil yang berbasis kinerja telah menghindari upaya sepotong-sepotong yang merupakan ciri khas program tungku sehat hemat energi di masa lalu.

Pelajaran dari proses desain dan implementasi percontohan PBH di Indonesia dapat berguna bagi negara lain yang sedang menimbang untuk menggunakan mekanisme ini dalam mengembangkan pasar tungku sehat hemat energi mereka sendiri. Informasi tambahan dan pelajaran lainnya dapat dilihat di laporan terbaru berjudul Incentivizing a Sustainable Clean Cooking Market: Lessons from a Results-Based Financing Pilot in Indonesia.

Ayo ikut juga bergabung dalam diskusi di Community of Practice.
 
Video


 

Add new comment