Syndicate content

Thailand

การลงทุนในทุนมนุษย์อย่างเท่าเทียมเป็นเรื่องสำคัญสำหรับอนาคตของประเทศไทย

Birgit Hansl's picture
Also available in: English



ประเทศไทยได้เปลี่ยนผ่านจากประเทศที่มีรายได้ต่ำไปสู่ประเทศที่มีรายได้สูงระดับปานกลางในเพียงแค่ช่วงหนึ่งอายุคน  อัตราความยากจนลดลงเหลือร้อยละ 7.5 เมื่อปีพ.ศ. 2558 เมื่อวัดจากเส้นความยากจนของประเทศที่มีรายได้สูงระดับปานกลางโลก  การเข้าถึงการศึกษาขั้นพื้นฐาน และสุขภาพเกือบจะครอบคลุมคนไทยทุกคน แต่ถึงจะมีความสำเร็จในอดีต ความเหลื่อมล้ำยังคงเป็นเรื่องที่คนไทยทุกคนยังกังวลใจอยู่

Equitable investment in human capital is vital for Thailand’s future

Birgit Hansl's picture
Also available in: ภาษาไทย



Thailand has transitioned from a low-income to an upper middle-income country in a single generation. Poverty has declined to 7.1 percent in 2015 – as measured by the international upper-middle income class poverty line – and access to basic education and health has become nearly universal. Despite all these historic achievements, inequality remains a key concern for Thai people.

Women at work in East Asia Pacific: Solid progress but a long road ahead

Victoria Kwakwa's picture



East Asia Pacific’s (EAP) strong economic performance over the past few decades has significantly benefited and empowered women in the region, bringing better health and education and greater access to economic opportunities. To celebrate International Women’s Day, we are featuring 12 women in the region who embody the advancements women have made in EAP, despite the many barriers that remain for them at work.

Surpassing all other developing regions, EAP’s female-to-male enrollment ratio for tertiary education is currently 1.2, with the ratio of secondary education access nearly equal for girls and boys. But in the workplace, the share of women working in EAP is at 62% versus 78.9% for men, a gap that has not narrowed over the past four years.

Artificial intelligence, big data: Opportunities for enhancing human development in Thailand and beyond

Sutayut Osornprasop's picture

The use of artificial intelligence (AI) and big data can offer untapped opportunities for Thailand. Particularly, it has enormous potential to contribute to Thailand 4.0, a new value-based economic model driven by innovation, technology and creativity that is expected to unlock the country from several economic challenges resulting from past economic development models (agriculture – Thailand 1.0, light industry – Thailand 2.0, and heavy industry – Thailand 3.0), the “middle income trap” and “inequality trap”. One core aspect of Thailand 4.0 puts emphasis on developing new S-curve industries, which includes investing in digital, robotics, and the regional medical hub.

การลงทุนเรื่องความปลอดภัยทางถนนในเชิงเศรษฐศาสตร์

Dipan Bose's picture
Also available in: English

แม้ว่าประเทศไทยมีความก้าวหน้าในการบังคับใช้กฎระเบียบการจราจรและการรักษาพยาบาล แต่อัตราการเสียชีวิตจากอุบัติเหตุบนท้องถนนของประเทศไทยนั้นยังอยู่ในระดับสูงและสูงขึ้นอย่างต่อเนื่องนับแต่ พ.ศ. 2552 เป็นต้นมา  ในแต่ละปี ประเทศไทยมีผู้เสียชีวิตจากอุบัติเหตุจราจรกว่า 24,000 คน ค่าใช้จ่ายด้านการรักษาพยาบาลผู้ป่วยจากอุบัติเหตุนี้เป็นภาระของประเทศ  สื่อมวลชนได้นำเสนอการสูญเสียทรัพยากรมนุษย์และบุคคลจากอุบัติเหตุอย่างต่อเนื่อง อีกทั้งยังมีองค์กรหลายแห่งที่ออกมารณรงค์หาทางแก้ไขปัญหาที่อยู่ในความสนใจของประชาชนนี้

The economic case for investing in road safety

Dipan Bose's picture
Also available in: ภาษาไทย

Despite considerable progress in traffic enforcement and medical care, the road crash mortality rate in Thailand remains rather high and has been increasing since 2009. More than 24,000 people lose their lives on the road every year, and traffic injuries are a major public health burden for the country. The human toll and individual loss caused by this epidemic are clearly exposed by the media, and many organizations are actively advocating solutions for this important public concern.

Membuka Jalan untuk Ekonomi Digital yang Berkembang di Indonesia

Petra Wiyakti Bodrogini's picture
Also available in: English



Di seluruh sektor ekonomi digital di Indonesia, baik perusahaan teknologi raksasa maupun yang lebih kecil mengeluhkan sulitnya menemukan bakat digital. Obert Hoseanto dari Microsoft Indonesia menjelaskan: “Sulit sekali mendapatkan karyawan. Kami menerima ratusan lamaran untuk program magang kami tetapi kami hanya dapat menerima 5 orang.”

Para lulusan pendidikan ilmu komputer juga merasa kesulitan untuk memenuhi keinginan atasan mereka. “Saya hanya menggunakan 30% dari ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah saat saya bekerja dulu. Sisanya adalah learning by doing,” kata Natali Ardianto, dari tiket.com, sebuah perusahaan start up Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berkembang pesat.

Dalam upaya membahas kesenjangan keterampilan ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyelenggarakan sebuah lokakarya yang juga didukung oleh Bank Dunia untuk memperolah masukan dari sektor swasta, pakar pendidikan, dan praktisi global.

Paving the Way for a Thriving Digital Economy in Indonesia

Petra Wiyakti Bodrogini's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Across the digital economy in Indonesia, both IT giants and smaller companies have the same complain: digital talents are hard to find. Obert Hoseanto, an Engagement Manager from Microsoft Indonesia, said the company recently contracted only five people for an internship program, out of a pool of hundreds of applicants.

But those applying for jobs are also struggling, with many realizing the difficulties of meeting the needs of their employers. Natali Ardianto is learning the ropes at tiket.com, a thriving start-up, “by doing”, he said. “Only 30% of the curriculum of my education was useful for the company I joined,” he explained.

A recent workshop held by the Coordinating Ministry of Economic Affairs and supported by the World Bank strived to develop a better understanding of this skills gap, by bringing in insights from the private sector, education experts, and global practitioners.

Five lessons in infrastructure pricing from East Asia and Pacific

Melania Lotti's picture
Photo: © Dini Sari Djalal/World Bank

In the infrastructure domain, “price” is a prism with many façades.
 
An infrastructure economist sees price in graphic terms: the coordinates of a point where demand and supply curves intersect.
 
For governments, price relates to budget lines, as part of public spending to develop infrastructure networks.
 
Utility managers view price as a decision: the amount to charge for each unit of service in order to recover the costs of production and (possibly) earn a profit.
 
But for most people, price comes with simple question: how much is the tariff I have to pay for the service, and can I afford it?

Untuk menggali potensi siswa, tuntut dan dukunglah guru

Michael Crawford's picture
Also available in: English

Di antara 29 negara dan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik, kita bisa menemukan beberapa sistem pendidikan paling sukses di dunia. Tujuh dari sepuluh pencetak rata-rata nilai tertinggi pada tes yang dapat dibandingkan secara internasional seperti PISA dan TIMSS berasal dari kawasan tersebut, di mana Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong, Tiongkok secara konsisten selalu berada di antara yang terbaik.
 
Namun, yang lebih penting, kita juga menemukan bahwa kinerja yang hebat tidak terbatas pada sistem sekolah di negara-negara berpenghasilan tinggi kawasan ini. Sistem sekolah di negara berpenghasilan menengah seperti Vietnam dan Tiongkok (khususnya provinsi di Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Guangdong), meskipun memiliki PDB per kapita yang jauh lebih rendah, memiliki nilai lebih baik daripada rata-rata negara OECD. Terlebih lagi, nilai dari Tiongkok dan Vietnam menunjukkan bahwa kinerja siswa miskin tidak tertinggal. Siswa dari kuintil berpenghasilan terendah kedua memiliki skor lebih baik daripada rata-rata siswa OECD, bahkan peserta tes paling miskin pun mengungguli siswa dari beberapa negara makmur. Namun demikian, seperti ditunjukkan grafik di bawah, negara-negara lain di kawasan ini belum mencapai hasil yang sama.

Pages