Syndicate content

การลงทุนเรื่องความปลอดภัยทางถนนในเชิงเศรษฐศาสตร์

Dipan Bose's picture
Also available in: English

แม้ว่าประเทศไทยมีความก้าวหน้าในการบังคับใช้กฎระเบียบการจราจรและการรักษาพยาบาล แต่อัตราการเสียชีวิตจากอุบัติเหตุบนท้องถนนของประเทศไทยนั้นยังอยู่ในระดับสูงและสูงขึ้นอย่างต่อเนื่องนับแต่ พ.ศ. 2552 เป็นต้นมา  ในแต่ละปี ประเทศไทยมีผู้เสียชีวิตจากอุบัติเหตุจราจรกว่า 24,000 คน ค่าใช้จ่ายด้านการรักษาพยาบาลผู้ป่วยจากอุบัติเหตุนี้เป็นภาระของประเทศ  สื่อมวลชนได้นำเสนอการสูญเสียทรัพยากรมนุษย์และบุคคลจากอุบัติเหตุอย่างต่อเนื่อง อีกทั้งยังมีองค์กรหลายแห่งที่ออกมารณรงค์หาทางแก้ไขปัญหาที่อยู่ในความสนใจของประชาชนนี้

The economic case for investing in road safety

Dipan Bose's picture
Also available in: ภาษาไทย

Despite considerable progress in traffic enforcement and medical care, the road crash mortality rate in Thailand remains rather high and has been increasing since 2009. More than 24,000 people lose their lives on the road every year, and traffic injuries are a major public health burden for the country. The human toll and individual loss caused by this epidemic are clearly exposed by the media, and many organizations are actively advocating solutions for this important public concern.

Pembaikan pengangkutan bandar untuk meningkatkan mobiliti sosial di Malaysia

Wei San Loh's picture
Also available in: English
Akses kepada pengangkutan adalah penting bagi memperbaik mobiliti sosial dalam kalangan komuniti berpendapatan rendah di Kuala Lumpur, khususnya bagi manfaat penduduk unit kediaman kos rendah. (Foto: Samuel Goh/World Bank)

Sejak beberapa tahun lepas, Malaysia telah mempamerkan perkembangan yang begitu ketara dari aspek peningkatan mobiliti sosial sejajar dengan usahanya untuk mencapai status negara maju. Namun demikian, kejayaan yang diperoleh tidak diterjemahkan dalam bentuk taburan yang saksama dalam kalangan populasi negara. Sebuah kajian oleh Institut Penyelidikan Khazanah pada 2016 telah menunjukkan bahawa 24% kanak-kanak yang lahir daripada ibu bapa berkemahiran rendah di Malaysia berterusan menjadi orang dewasa berkemahiran rendah. Begitu juga halnya dengan 46% kanak-kanak yang lahir daripada ibu bapa dalam kelompok 40% terbawah dari segi agihan pendapatan negara, turut kekal sebagai 40% isu rumah berpendapatan terbawah.

Improving urban transportation for upward social mobility in Malaysia

Wei San Loh's picture
Also available in: Bahasa Melayu
Access to transportation is essential for improving the upward social mobility of low-income communities in Kuala Lumpur, especially residents of low-cost public housing units. (Photo: Samuel Goh/World Bank)

Over the years, Malaysia has demonstrated great improvements in enhancing upward social mobility as the country continues to advance toward becoming a developed nation. However, this success has not been evenly distributed among the population. A 2016 Khazanah Research Institute study found that 24% of children born to low-skilled parents in Malaysia remained low-skilled as adults. Likewise, 46% of children born to parents in the bottom 40% of the national income distribution remained in the bottom 40%.

Turning ‘people problems’ into ‘government problems’: Reflection of an outgoing District Head in Indonesia

Suyoto's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
Starting a business which used to be problem faced by citizens of Bojonegoro has now become much easier. Photo: Jerry Kurniawan/World Bank


Challenges with decentralization

Seventeen years ago, Indonesia embarked on its so-called big bang decentralization. Almost overnight, responsibility to deliver many public services was transferred to local governments. This was done, in part, with the hope that the decentralization would make local government more agile and responsive to issues facing local communities. However, results have yet to materialize in many locations.

In my view, a key factor driving poor results is the central government’s approach to regulating local governments. In a decentralized environment, the central government has a legitimate role as a regulator to standardize service delivery or financial management procedures. However, in practice, they have been more focused on controlling inputs and processes, with little attention to accountability for results. This approach results in the proliferation of regulatory constraints and a fearful bureaucracy that make it difficult for local leaders to respond to citizen’s problems.

Membuat 'masalah masyarakat' menjadi 'masalah pemerintah': Refleksi seorang mantan Bupati di Indonesia

Suyoto's picture
Also available in: English
 
Dulu mengurus izin usaha menjadi masalah bagi masyarakat Bojonegoro, tetapi sekarang sudah jauh lebih mudah. Foto: Jerry Kurniawan/World Bank


Tantangan desentralisasi

Tujuh belas tahun yang lalu, Indonesia mengawali desentralisasi yang dilakukan secara besar-besaran. Hanya dalam waktu singkat, tanggung jawab untuk melaksanakan banyak layanan publik  dialihkan ke pemerintah daerah. Ini dilakukan dengan harapan bahwa desentralisasi akan menciptakan pemerintah daerah yang lebih dinamis dan responsif terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Namun, hasil yang diharapkan belum dapat terealisasi di banyak tempat.

Dalam pandangan saya, faktor pendorong utama dari hasil yang belum optimal adalah pendekatan pemerintah pusat dalam mengatur pemerintah daerah. Dalam lingkungan yang terdesentralisasi, pemerintah pusat memiliki peran yang sah sebagai regulator dalam menetapkan standar pemberian layanan atau prosedur manajemen keuangan. Akan tetapi, dalam praktiknya, pemerintah pusat lebih memberi fokus dalam mengendalikan masukan dan proses, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada akuntabilitas hasil. Pendekatan ini menghasilkan semakin bertambahnya peraturan-peraturan yang membatasi dan birokrasi yang kurang percaya diri, sehingga menyulitkan para pimpinan daerah untuk menanggapi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Decoding development: Insights from Singapore’s Economic Development Board

Kelvin Wong's picture

Singapore’s transformation into a trade and finance hub that leads global rankings of competitiveness often prompts observers to ask: What is its secret sauce?  We at the Singapore Hub for Infrastructure and Urban Development asked Kelvin Wong, Assistant Managing Director of Singapore’s Economic Development Board, or EDB, to share with us the country’s journey in developing its logistics sector, considered among the world’s most competitive and innovative.

Menjaga pembangunan Indonesia dari semakin bertambahnya risiko bencana

Jian Vun's picture
Also available in: English
 
Permukiman baru di kabupaten Sleman pasca-letusan Gunung Merapi.

Bayangkan bila Anda tinggal dekat salah satu dari 127 gunung berapi aktif di Indonesia, dengan kekhawatiran letusan berikutnya bisa membahayakan keluarga Anda. Bayangkan rumah Anda berada di salah satu zona seismic paling aktif di dunia, atau bahwa keluarga Anda tinggal di salah satu dari 317 daerah dengan risiko banjir yang tinggi. Ini adalah kenyataan yang sudah dihadapi setidaknya 110 juta penduduk Indonesia, dan lebih banyak lagi bisa terkena dampak akibat urbanisasi, perubahan iklim, dan penurunan permukaan tanah.
 
Negara ini dikenal memiliki 'toko serba ada' bahaya bencana. Selama dua puluh tahun terakhir saja, pemerintah Indonesia mencatat lebih dari 24.000 peristiwa bencana yang menyebabkan 190.500 korban jiwa, memuat hampir 37 juta orang mengungsi, dan merusak lebih dari 4,3 juta rumah. Kerugian total dari bencana tersebut mencapai hampir $28 miliar, atau sekitar 0,3% dari PDB nasional setiap tahun.

Safeguarding Indonesia’s development from increasing disaster risks

Jian Vun's picture
Also available in: Bahasa Indonesia
 
New settlements in Sleman district post-eruption of Mt. Merapi.


Imagine that you live near one of 127 active volcanoes in Indonesia, threatened by the next eruption that could endanger your family. Imagine that your house stands in one of the most seismically-active zones in the world, or that your family lives in one of the 317 districts with high risks of flooding. This is a reality that at least 110 million Indonesians already face, and more could be affected due to the impacts of urbanization, climate change and land subsidence.

The country is known as having a ‘supermarket’ of disaster hazards. Over the past twenty years alone, the Indonesian government recorded over 24,000 disaster events that caused 190,500 fatalities, displaced almost 37 million people, and damaged over 4.3 million houses. The combined losses of these disasters totaled almost $28 billion, or around 0.3% of national GDP annually.

Fighting HIV effectively, efficiently in Malaysia

Sutayut Osornprasop's picture
A man taking methadone, a synthetic opioid drug that treats heroin addition, at a voluntary treatment center for people who inject drugs in Kuala Lumpur. (Photo: Sutayut Osornprasop/World Bank)


Working in public health brings me close to the stories of brave patients and dedicated medical staff. Very often we also conduct quantitative and qualitative assessments of case studies. In recent years, our work in Malaysia engages a public health concern that has gripped the world – HIV. Our findings have given us hope of winning the fight against the disease.
 

Pages