Syndicate content

Skills Training

Membuka Jalan untuk Ekonomi Digital yang Berkembang di Indonesia

Petra Wiyakti Bodrogini's picture
Also available in: English



Di seluruh sektor ekonomi digital di Indonesia, baik perusahaan teknologi raksasa maupun yang lebih kecil mengeluhkan sulitnya menemukan bakat digital. Obert Hoseanto dari Microsoft Indonesia menjelaskan: “Sulit sekali mendapatkan karyawan. Kami menerima ratusan lamaran untuk program magang kami tetapi kami hanya dapat menerima 5 orang.”

Para lulusan pendidikan ilmu komputer juga merasa kesulitan untuk memenuhi keinginan atasan mereka. “Saya hanya menggunakan 30% dari ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah saat saya bekerja dulu. Sisanya adalah learning by doing,” kata Natali Ardianto, dari tiket.com, sebuah perusahaan start up Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berkembang pesat.

Dalam upaya membahas kesenjangan keterampilan ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyelenggarakan sebuah lokakarya yang juga didukung oleh Bank Dunia untuk memperolah masukan dari sektor swasta, pakar pendidikan, dan praktisi global.

Paving the Way for a Thriving Digital Economy in Indonesia

Petra Wiyakti Bodrogini's picture
Also available in: Bahasa Indonesia



Across the digital economy in Indonesia, both IT giants and smaller companies have the same complain: digital talents are hard to find. Obert Hoseanto, an Engagement Manager from Microsoft Indonesia, said the company recently contracted only five people for an internship program, out of a pool of hundreds of applicants.

But those applying for jobs are also struggling, with many realizing the difficulties of meeting the needs of their employers. Natali Ardianto is learning the ropes at tiket.com, a thriving start-up, “by doing”, he said. “Only 30% of the curriculum of my education was useful for the company I joined,” he explained.

A recent workshop held by the Coordinating Ministry of Economic Affairs and supported by the World Bank strived to develop a better understanding of this skills gap, by bringing in insights from the private sector, education experts, and global practitioners.