World Bank Voices
Syndicate content

Melihat dampak kebakaran hutan di Sumatra Selatan: Pandangan dari lapangan

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: English
Indonesia, burned forest. Photo by Ann Jeannette Glauber / World Bank

Musim gugur lalu saya kaget membaca judul berita ini: Kebakaran hutan di Indonesia menghasilkan emisi gas rumah kaca setara seluruh ekonomi Amerika Serikat.
 
Judul lain berbunyi: Antara Juni dan Oktober 2015, lahan sebesar 2,5 juta hektar – atau 4,5 kali luas Bali – terbakar guna membersihkan lahan untuk produksi minyak kelapa sawit, tanaman hasil hutan non-kayu dengan nilai tertinggi, terdapat dalam, antara lain, produk makanan, kosmetik dan biofuel.
 
Belum lama ini, bersama Vice President for Sustainable Development Laura Tuck dan Indonesia Country Director Rodrigo Chaves, saya mengunjungi Sumatra Selatan, salah satu provinsi yang paling menderita akibat kebakaran hutan.
 
Kami melihat berbagai ilalang dan tanda-tanda lanskap rusak yang lain, mengganti kawasan hutan gambut yang kaya akan keanekaragaman hayati.
 
Kami berbicara dengan masyarakat setempat yang menjelaskan bahwa mereka menutup pintu dan jendela dengan handuk basah agar mengurangi asap. Keluarga mereka termasuk dari setengah juta warga yang menderita gangguan pernapasan serta sakit kulit dan mata akibat kebakaran hutan. Anak-anak mereka termasuk diantara 4,6 juta siswa yang tidak bisa sekolah, bahkan selama beberapa minggu, akibat kebakaran hutan.
 
Namun walaupun banyak keluarga kehilangan pemasukan karena usaha mereka terpaksa  tutup sementara, ada juga yang mengatakan api itu memperbaiki kondisi  tanah setempat.

Pertanyaan yang Mendunia: Apa yang Diperlukan untuk Mengakhiri Kemiskinan?

Jim Yong Kim's picture

Read this post in English, Español, Français, عربي


Tidak setiap hari kita melihat sebuah video dalam taxi di New York yang meminta orang untuk mengirim tweet bagaimana cara menghentikan kemiskinan global. Meski data terakhir mengatakan bahwa kemiskinan global sudah menurun, masih mengejutkan bahwa faktanya ada 1,3 milyar orang yang hidup dengan US$1,25 per hari.

Itu setara dengan setengah tarif awal taxi di Manhattan. Ini tidak benar.

Video di taxi, yang disiarkan minggu ini selama Sidang Umum PBB, adalah bagian dari sebuah percakapan baru yang diluncurkan Bank Dunia. Kami memberi pertanyaan sederhana: Apa yang diperlukan untuk mengakhiri kemiskinan?