Syndicate content

Add new comment

Submitted by Arief on
Sebelumnya saya minta maaf, karena saya kurang pandai menulis. Tapi saya akan coba untuk berpartisipasi. Ada 3 jenis kemiskinan : 1. Kemiskinan akibat kondisi 2. Kemiskinan akibat sikap/sifat 3. Kemiskinan sukarela. Tidak ada yg bisa kita lakukan dengan kemiskinan jenis ketiga. Apalagi kemiskinan jenis ketiga ini sangat kecil jumlahnya. Umumnya mereka adalah orang-orang spiritualis. Sedangkan Kemiskinan jenis kedua. Tidak perlu kita jadikan prioritas utama dari program ini. Karena tidak mungkin didunia ini semua orang menjadi kaya. Karena itulah hukum alam ada si kaya tentu ada si miskin. Golongan kedua ini jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Yang menjadi masalah adalah kemiskinan karena kondisi. Kondisi disini bisa dijabarkan lebih lanjut, antar lain, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kebutuhan. Masyarakat jenis inilah yang harus menjadi prioritas pengentasan kemiskinan. Korupsi adalah akar segala kemiskinan. Bagaimana tidak miskin, bantuan yang sampai kepada masyarakat bocor ditengah (baca : dikorup) tinggal separuh dari dana yg digelontorkan dari atas. Power tend to corrupt, tentu saja penguasalah yang cenderung melakukan korupsi. Namun demikian kekuasaan yg demokratis memungkinkan kekuasaan tetap terkontrol. Ada beberapa langkah untuk mengurangi korupsi : 1. Pengawasan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Media sangat penting keberadaanya guna melakukan pengawasan selain Lembaga pengawasan bentukan dari Pemerintah. LSM maupun Media harus ikut dilibatkan dan bersama-sama dengan Lembaga Pengawas Pemerintah melakukan tugas pengawasan. Semakin banyak yg mengawasi semakin baik. 2. Transparansi dan Akuntabilitas. Setiap penggunaan uang negara harus dilaporkan kepada publik. Sehingga Publik juga dapat menilainya. Selain itu Transparasi dapat meningkatkan kepercayaan masyaratkat terhadap pemerintah. Akuntabilitas juga harus dapat dipertanggungjawabkan. Tidak sekedar membuat proyek namun tidak ada manfaatnya. 3. Penegakan hukum. Lemahnya penegakan hukum juga cenderung menyuburkan korupsi. Bagaimana tidak, korupsi puluhan bahkan ratusan milyar hanya dipenjara 5 tahun. Sehingga tidak memberikan efek jera kepada para pelaku korupsi. Selain itu warisan sejarah orde baru mungkin masih sulit dihilangkan, karena selam 32 tahun sudah merasuk disetiap sendi kehidupan. Sehingga korupsi dianggap sesuatu yg wajar. 4. Peningkatan kesejahteraan aparatur Negara. Naif rasanya jika kita menginginkan menurunnya korupsi jika kesejahteraan para aparatur Negara masih rendah. Namun juga sesuatu yg naïf jika mengharapkan korupsi hilang jika kesejahteraan aparatur Negara sudah tercukupi. Tapi dengan memberikan insentif yg cukup terhadap aparatur Negara, kita bisa mengharapkan korupsi dapat diturunkan jumlahnya. Untuk itu Bank Dunia perlu ikut lebih mendorong lagi program-program pemberantasan korupsi di negara-negara dengan angka kemiskinan tinggi. Selain itu Bank Dunia juga harus ikut mendorong iklim demokrasi, karena demokrasi membantu mempersempit ruang gerak korupsi. Kalau kita lihat, BANYAK negara yg kurang/tidak demokratis memiliki angka kemiskinan relatif lebih besar. Mungkin sebuah pengecualian : RRC (Leadership yg kuat), Arab Saudi (Sumber Daya Alam yg kaya)

Plain text

  • Allowed HTML tags: <br> <p>
  • Lines and paragraphs break automatically.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.