Syndicate content

Affordable Housing

Mengapa Disruptive Technologies Penting untuk Perumahan Terjangkau: Kasus di Indonesia

Dao Harrison's picture
Also available in: English

  The Case of Indonesia

Big Data. Blockchain. Drone. E-Wallets. Kecerdasan Buatan (Intelegensi Artifisial).
Istilah-istilah tersebut biasanya dibahas dalam sebuah konferensi yang paling baru di Silicon Valley, bukan dalam sebuah diskusi mengenai tantangan pada perumahan terjangkau di Indonesia. Namun instilah tersebut berdengung diantara para peserta yang mengikuti acara lokakarya tentang Teknologi Disruptif untuk Perumahan Terjangkau (Disruptive Technologies Workshop for Affordable Housing) di Jakarta pada tanggal 17 September 2018. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan dukungan dari Bank Dunia melalui program National Affordable Housing Program (NAHP), dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari Organisasi Perangkat Dearah (OPD), Pengembang, Bank, dan organisasi kemasyarakatan. Lokakarya ini bertujuan untuk membahas suatu pertanyaan besar yaitu: Bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan kekuatan disruptive technologies untuk mengubah kondisi & permasalahan perumahannya?

Lima pembelajaran dari Indonesia tentang penyediaan perumahan yang terjangkau

Dao Harrison's picture
Available in english

Berkat program subsidi pemerintah, Dewi baru saja menjadi pemilik rumah untuk pertama kalinya. Tahun lalu, Dewi pindah ke rumah barunya di Yogyakarta. Ia saat itu berpikir: semuanya sempurna.

Ternyata kenyataannya tidak demikian. Rumah Dewi berjarak satu jam dari pusat kota, jauh dari daerah perkantoran,  pusat perbelanjaan, dan sekolah untuk kedua anaknya. Dua tahun setelah perumahan selesai dibangun, lebih dari setengah rumah di sana masih kosong. Karena rumah tidak terhubung dengan sistem air setempat, dua kali seminggu Dewi harus membeli air. Saat musim banjir, Dewi mengalami kesulitan untuk mencapai rumahnya.




Penyediaan perumahan yang terjangkau dan memadai telah menjadi prioritas kebijakan utama pemerintah Indonesia dengan diluncurkannya program Satu Juta Rumah (One Million Homes). Berbagai upaya sebelumnya untuk memenuhi permintaan perumahan yang terjangkau – gabungan dari adanya  permintaan  baru secara tahunan dan pemenuhan kekurangan perumahan yang belum terlaksana - belum secara efektif membawa dampak pada skala yang diperlukan.
 
 
Sumber:  Kementerian Pekerjaan Umum, Indonesia

Tapi haruskah jumlah kepemilikan rumah menjadi indikator tunggal program subsidi perumahan yang sukses? Mungkinkah ada program yang memenuhi kebutuhan Pemerintah untuk tetap efektif biaya secara fiksal maupun ekonomi, dan sekaligus dapat merespons pasar swasta dan juga kebutuhan warga?

Saat ini berbagai pilihan sedang dieksplorasi. National Affordable Housing Program Project (NAHP) yang baru disetujui misalnya, bertujuan untuk berinovasi dalam pasar perumahan yang terjangkau dengan mengatasi kemacetan dan secara aktif melibatkan sektor swasta dalam melayani berbagai segmen yang belum tersentuh. Sejauh ini, upaya dari Indonesia ini memberikan pelajaran berharga, yaitu: