Syndicate content

Environment

Satu Peta: mempercepat administrasi pertanahan terpadu untuk Indonesia

Anna Wellenstein's picture
Also available in: English
Foto: Curt Carnemark / World Bank

Hutan-hutan primer telah lama hilang dari lingkungan desa Teluk Bakung di pinggiran Pontianak, ibukota Kalimantan Barat di Indonesia. Hal ini tampak ketika saya tiba di wilayah tersebut pada akhir November 2016, sebagai bagian dari kunjungan lapangan. Kami melihat bagaimana sebagian besar penduduk desa telah meninggalkan pertanian yang berat di lahan gambut untuk bekerja pada perkebunan-perkebunan besar kelapa sawit dan ladang kelapa sawit mereka sendiri. Yang lain memilih berinvestasi dalam produksi sarang burung yang menguntungkan. Namun mereka melakukannya di tengah-tengah tata kelola penggunaan lahan yang membingungkan: demarkasi batas wilayah kawasan hutan dan wilayah administratif tidak lengkap, sementara kelompok kepentingan masyarakat dan pihak berwenang memperdebatkan sejarah alokasi areal konsesi perkebunan. Kumpulan data publik menunjukkan keragaman penggunaan lahan dan hutan di wilayah tersebut, termasuk cagar alamnya. Namun dalam kenyataannya, hampir seluruh lahan yang ada semakin dikhususkan untuk produksi kelapa sawit. 

Mengelola kebakaran: Upaya Indonesia untuk mencegah krisis kebakaran hutan dan lahan

Ann Jeannette Glauber's picture
Also available in: English



Berita kebakaran hutan dan lahan bukan hal baru di Indonesia. Tapi drama penyenderaan di tengah “musim kebakaran”? Ini sesuatu yang baru, dan mendominasi deretan tajuk utama pemberitaan di awal September. Setelah mengumpulkan bukti lahan yang terbakar di area konsesi kebun sawit di Rokan Hulu, Riau, tujuh petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) disandera dan dipaksa menyerahkan atau menghapus bukti yang mereka kumpulkan.

Sekaranglah waktunya memperkuat pengendalian risiko bencana di Asia Timur dan Pasifik

Axel van Trotsenburg's picture
In PDF: Korean | Khmer

Setiap kali saya diberitahu terjadinya kembali sebuah bencana alam – tentang korban jiwa masyarakat, rumah-rumah yang hancur, matapencaharian yang hilang – saya teringat bagaimana pentingnya kita perlu bertindak guna mengurangi dampak tragedi tersebut. Kita  tidak bisa menunggu sampai bencana kembali terjadi.

Pada World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, yang akan berupaya mencari penerus Hyogo Framework for Action (HFA2) -- panduan bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan internasional dalam bidang manajemen risiko bencana – peluang itu ada di tangan kita. Konferensi ini adalah peluang untuk menjadi tonggak penting dalam hal pengendalian risiko bencana dan pengentasan kemiskinan.

Biaya akibat bencana alam sudah sangat tinggi. Dalam periode 30 tahu, sekitar 2,5 juta korban jiwa dan $4 triliun hilang akibat bencana, dan hal ini berdampak pada upaya pembangunan.

Di Asia, urbanisasi yang pesat serta perencanaan yang kurang baik telah secara signifikan mempertajam kerentanan kota, khususnya perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan terletak di pesisir atau tepi sungai. Lebih dari 7.350 korban jiwa jatuh akibat Badai Haiyan  di Filipina pada tahun 2013, dan bencana tersebut secara langsung mengakibatkan naiknya tingkat kemiskinan sebesar 1,2 persen.

Bank Sampah di Indonesia: Menabung, Mengubah Perilaku

Randy Salim's picture
Also available in: English



Bicara soal sampah: kecenderungannya adalah kita tidak terlalu memikirkan apakah sampah yang kita hasilkan itu organik atau non-organik. Kita mungkin juga tidak terlalu peduli ke mana larinya sampah itu. Sementara kenyataannya: di Indonesia, sampah rumahtangga kita akan bercampur dengan sampah jutaan rumahtangga lainnya, hingga terbentuklah gunung-gunung sampah yang tak semestinya di tempat pembuangan akhir (TPA) berbagai kota.  
 
Bicara soal pengelolaan sampah yang ideal, para pakar akan mengatakan bahwa tanggungjawabnya bukanlah milik pemerintah kota semata, tetapi milik bersama.
Jumlah penduduk terus meningkat, begitu pula pola konsumsi. Volume sampah pun kian meluap di berbagai TPA.
 
Lantas apa yang bisa dilakukan? Saat ini di Indonesia, Bank Dunia tengah mengkaji berbagai cara untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Salah satu pilihannya adalah memperbanyak jumlah bank sampah.  Belum lama ini saya bersama tim proyek pengelolaan sampah Bank Dunia  mengunjungi bank sampah di beberapa kota untuk belajar lebih banyak tentang cara kerjanya.
 

Perlu pencarian terobosan inovasi, kirim ide anda sekarang

Jean-Louis Racine's picture

Available in English

Henry Ford pernah berkata, ketika ia bertanya kepada para konsumen apa yang mereka mau, mereka menjawab kuda yang lebih cepat. Andai saja ia mendengar permintaan konsumennya, mungkin saja Ford Motor Company tidak akan pernah ada, atau ada tetapi dengan nama Ford Faster Horse Company. Pada saat itu mobil menjadi apa yang disebut “pencarian terobosan inovasi”, yang berarti secara radikal menggantikan teknologi yang ada (kuda dan kereta kuda), tidak dengan mendengar permintaan sebagian besar konsumen tapi mencoba mencari tahu kebutuhan mereka yang sebenarnya.