Memahami Hasil Belajar: Pemberdayaan Orang Tua Siswa untuk Berpartisipasi dalam Pendidikan

|

This page in:

Gambar
Indonesia: A parent presented the results of the assessment on reading. Only six of 36 students were able to read their grade-level texts; the remaining students’ competence was found to be below their grades, including eight students who were unable to read.
A parent presented the results of the assessment on reading. Only six of 36 students were able to read their grade-level texts; the remaining students’ competence was found to be below their grades, including eight students who were unable to read.

Dalam beberapa dekade terakhir, siswa di Indonesia belum mencapai hasil yang baik dalam berbagai tes internasional. Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat – khususnya mereka yang miskin, dan berada di daerah perdesaan dan tertinggal – belum menyadari tantangan tersebut.

Survei yang dilakukan Bank Dunia pada 2016-2017 di 270 Sekolah Dasar (SD) sangat terpencil di Indonesia menemukan bahwa hasil pembelajaran sebagian besar siswa masih berada pada dua jenjang di bawah kelas mereka. Yang juga mengejutkan, survei yang sama menemukan 83% orang tua siswa merasa puas dengan kinerja sekolah.

Dengan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan akuntabilitas guru di daerah terpencil, melalui program KIAT Guru, Bank Dunia mendukung pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di desa sangat tertinggal.

Di Indonesia, seringkali orang tua tidak mengetahui perkembangan belajar anak mereka dibanding siswa di kelas maupun sekolah lain. Ini disebabkan tolak ukur hasil belajar hanya tersedia melalui Ujian Nasional pada jenjang terakhir sekolah dasar.

KIAT Guru mengembangkan Tes Cepat agar masyarakat dapat menilai dan memantau perkembangan hasil belajar siswa secara sederhana dan lebih rutin. Pelaksanaan Tes Cepat melibatkan orang tua untuk memahami keadaan pembelajaran siswa, dan memampukan masyarakat untuk mengambil tindakan bersama dengan pemangku kepentingan lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di desa mereka.

Tes Cepat dikembangkan berdasarkan sebuah gerakan yang dipelopori oleh Pratham di India melalui Annual Status of Education Report. Penilaian yang dilakukan  oleh masyarakat memastikan objektifitas hasil tes dapat lebih diandalkan dibanding jika penilaian dilaksanakan oleh pihak sekolah.

Melalui tampilan hasil tes yang mudah dipahami, pemangku kepentingan dapat lebih menghargai prestasi siswa SD dalam membaca dan matematika, dibandingkan dengan target kurikulum nasional. Tampilan tersebut sangat penting untuk memberikan informasi yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti oleh masyarakat, dan memberdayakan mereka untuk lebih terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai pendidikan anak-anak mereka. Meskipun tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan tes, para guru ikut serta dalam mendiseminasi hasil tes dalam pertemuan-pertemuan di desa.

Pemangku kepentingan melihat hasil Tes Cepat dalam tabel sederhana seperti di bawah. Enam murid dipilih secara acak untuk mewakili kelasnya. Jika kemampuan murid berada pada kelasnya, dia akan terhitung dalam kotak berwarna hijau. Murid yang memiliki kemampuan di bawah kelasnya akan berada di sebelah kiri kotak berwarna hijau, termasuk mereka yang belum mengenal huruf atau belum mengenal angka.

Kelas

Belum Mengenal Huruf/

Belum Mengenal Angka

Di bawah Kemampuan Dasar

1

2

3

4

5

6

Jumlah Murid

1

5

1

0

0

0

0

0

0

6

2

3

2

0

1

0

0

0

0

6

3

0

0

0

5

1

0

0

0

6

4

0

0

0

0

1

4

1

0

6

5

0

0

0

1

0

5

0

0

6

6

0

0

0

0

1

1

4

0

6

 

Dengan melihat hasil penilaian tersebut, orang tua menyadari bahwa anak mereka belum memiliki kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran di kelasnya dengan baik. Hal ini mendorong orang tua untuk menuntut kinerja yang lebih baik dari guru, dan untuk terlibat lebih aktif dalam pendidikan anaknya.

Ketika hasil Tes Cepat diumumkan kepada orang tua dan masyarakat untuk pertama kalinya, salah satu orang tua pun bertanya kepada guru, “Jika anak saya tidak memiliki kemampuan membaca dan berhitung, kenapa dia naik kelas?”

Alur penilaian Tes Cepat bersifat adaptif, sehingga memungkinkan murid untuk menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 30 menit. Murid memulai tes dengan soal yang sesuai dengan jenjang kelasnya. Jika jawaban dia benar, maka akan mendapatkan soal lebih sulit, dan sebaliknya jika salah akan mendapatkan soal yang lebih mudah. Tingkat kesulitan tes berjalan sesuai dengan kemampuan murid dan berakhir pada soal yang paling sulit yang dapat dijawab oleh anak dan menunjukkan tingkat kompetensinya.

Tes Cepat menjembatani kesenjangan informasi tentang kualitas pembelajaran antara orang tua dan guru, maupun pengawas sekolah dan pihak sekolah. Diseminasi Tes Cepat menghasilkan tindakan nyata untuk memperbaiki lingkungan belajar anak di sekolah maupun di rumah.

Berbeda dengan perangkat penilaian berbasis masyarakat lainnya, Tes Cepat tidak menyasar pada intervensi perbaikan metode pembelajaran di kelas. Hasil Tes Cepat digunakan oleh masyarakat dan sekolah untuk mengembangkan Janji Bersama, yang berisi tiga indikator berkaitan yang disepakati oleh kepala sekolah, guru, dan orang tua. Kategori Janji Bersama termasuk peningkatan kehadiran guru di dalam kelas, kegiatan pembelajaran di rumah, serta pendampingan pembelajaran remedial. Dengan Janji Bersama, guru dan orang tua dapat memonitor kinerja masing-masing tiap bulan.

Pada akhir semester, Tes Cepat kembali dilakukan untuk memantau perkembangan pembelajaran setelah Janji Bersama dilakukan, dan sekaligus memberikan input bagi perbaikan Janji Bersama untuk semester selanjutnya. Saat masyarakat memahami kualitas pendidikan, mereka pun lebih berdaya untuk bertindak dan mengajak pemangku kepentingan di sekitarnya untuk bersama-sama memperbaiki ekosistem belajar.

Setelah satu tahun berjalannya program KIAT Guru, pertemuan antara guru dan orang tua murid untuk membahas hasil belajar meningkat dari 1.8 kali ke 3 kali dalam satu tahun. Hasil belajar murid juga meningkat (12% kenaikan), untuk rerata numerasi dari 37 ke 49, sementara untuk rerata literasi dari 37 ke 50 (13% kenaikan).

 

Terkait:

Empowering Frontlines, Leveraging Technology: Basic Service Delivery in 21st century Indonesia 

Authors

Sharon Kanthy Lumbanraja

Research and Policy consultant

Indah Ayu Prameswari

Research and Knowledge Management consultant

Dewi Susanti

Senior Social Development Specialist, Social, Urban, Rural and Resilience (SURR) Global Practice

Join the Conversation