Pameran Pasang Surut Urbanisasi Indonesia

|

This page in:

Photo Credit: Andres Sevtsuk, Harvard City Form Lab

Minggu lalu saya berkunjung ke Bogor, 60 kilometer dari Jakarta dan hanya perlu satu jam lima belas menit untuk menuju kesana. Namun, diperlukan waktu tiga kali lebih lama untuk kembali ke Jakarta, karena macet akibat hujan deras.

Di lokasi lain di Jakarta, banjir terjadi di beberapa tempat. Mobil-mobil terjebak semalaman di basement tempat parkir café dan restoran di Kemang – sebuah kawasan terkenal yang sering kebanjiran akibat sistem drainase yang buruk dan kurangnya ruang hijau.

Inilah secuplik kehidupan di Jakarta yang tumbuh pesat, sebuah kawasan metropolitan yang di tahun 2028 bisa menggantikan Tokyo sebagai kota Asia dengan penduduk terbanyak.
 

Belum lama ini, melalui kerjasama dengan City Form Lab Harvard University, kami mengadakan pameran  di lobi gedung Bursa Efek Indonesia dengan judul Kisah Kota Indonesia. Pameran ini dibuat berdasarkan sebuah publikasi yang mengilustrasikan berbagai tantangan yang dihadapi kota-kota di Indonesia.

Tiap hari, pengunjung pameran  diundang untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang aspek-aspek kehidupan kota.
Jawaban yang kami terima menimbulkan rasa iba juga aspirasi:

Pertanyaan: Sebutkan cara pergi ke tempat kerja. Berapa lama perjalanannya?

Mobil. Selamanya.

 
Pertanyaan: Apa yang paling kamu suka tinggal di kota ini? Yang paling tidak disukai?

Mall, macet
Akses yang mudah ke berbagai fasilitas, polusi
Internet yang lebih baik, macet
Aktivitas 24 jam, macet
Gaya hidup moderen, macet

 
Pertanyaan: Apa yang ingin kamu lihat di kota ini di masa depan?

Jakarta yang bersih dan hijau
Kota yang ramah, terutama bagi anak
Ruang publik yang lebih banyak
Sungai yang bersih untuk pariwisata
Macet berkurang

 
Jawaban-jawaban tersebut menangkap keluhan dan rasa frustrasi terhadap kota yang tidak efisien. Namun jawaban-jawaban  tersebut juga mengungkapkan apresiasi terhadap masih adanya peluang bagi kota, serta harapan bahwa ketidakefisienan bisa dan akan teratasi.

Macet dan banjir sering diperlakukan sebagai kejadian yang biasa terjadi di Jakarta, namun dampak macet dan risiko bencana alam sangat besar. Macet merugikan kawasan metropolitan Jakarta sebesar $3 milyar per tahun. Sekitar 40% lahan Jakarta berada di bawah permukaan air laut dan menghadapi risiko banjir yang serius. Hal-hal tersebut tidak akan hilang dengan sendirinya.

Indonesia sedang mengalami urbanisasi yang sangat pesar. Saat ini lebih dari setengah penduduk Indonesia tinggal di kota-kota. Dalam waktu 10 tahun, pada tahun 2025, rasio tersebut akan naik menjadi 68%. Dua pertiga dari seluruh penduduk Indonesia akan menjadi warga kota.

Sekarang pertimbangkan kota-kota yang menjadi tempat tinggal kita sekarang. Saat ini hanya 48% rumahtangga kota yang memiliki akses air bersih yang aman. Hanya 11 kota yang memiliki sistem air limbah. Hanya 2% dari penduduk kota yang memiliki akses fasilitasi sanitasi yang terpusat.

Apakah infrastruktur di atas membaik seiring bertambah luasnya kota? Untuk menanggapi pertumbuhan kota, pemerintah daearah harus memberi prioritas pembangunan infrastruktur di wilayah mereka agar bisa secara langsung mengatasi masalah macet, polusi, layanan umum yang buruk, serta risiko bencana.

Belum lama ini para pemimpin dunia bertemu di Quito, Ekuador, dalam rangka Habitat III, konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai pembangunan rumah dan kota yang berkelanjutan. Salah satu yang dibahas adalah ‘New Urban Agenda’ bagi 6 milyar penduduk yang akan tingal di kota pada tahun  2050, urbanisasi yang dikelola dengan baik penting untuk mengatasi tantangan global seperti kemiskinan dan perubahan iklim.

Kisah Kota Indonesia adalah contoh pertama upaya dari Indonesia Sustainable Urbanization (IDSUN) Multi-Donor Trust Fund. Dalam tiga tahun ke depan IDSUN dengan kontribusi $13.4 juta dari Swiss State Secretariat for Economic Affairs, akan mendukung pemerintah Indonesia menciptakan sebuah platform bagi urbanisasi yang berkelanjutan serta mengkoordinasi program nasional mengenai perbaikan kawasan kumuh dan rumah yang terjangkau, transportasi kota, air bersih kota, serta sanitasi, limbah padat, juga drainase dan manajemen risiko banjir.
 

Join the Conversation