Pengarusutamaan gender di industri tambang di Indonesia

|

This page in:

“Kolega laki-laki saya umumnya menawarkan bantuan untuk pekerjaan seperti mengangkat panel baterai. ‘Kamu enggak perlu ngelakuin itu. Biar kita aja.’ Walaupun saya merasa diri saya bisa melakukan itu, sebagai cowok, mereka berpikir bahwa pekerjaan seperti itu tidak cocok untuk saya lakukan,” ungkap Gracia (bukan nama sebenarnya), seorang teknisi yang bekerja di sebuah perusahaan tambang di Indonesia.

Komentar serupa banyak ditemukan dalam wawancara kami dengan pekerja perempuan yang bekerja di industri tambang Indonesia. Wawancara ini dilaksanakan sebagai bagian dari penelitian yang sedang berjalan terkait pengarusutamaan gender di industri tambang di Indonesia. Pekerja perempuan pada umumnya dihindarkan dari pekerjaan yang bersifat fisik karena pekerjaan tersebut dianggap tidak sesuai dengan norma gender di masyarakat. Pekerja laki-laki juga pada umumnya merasa malu/risi melihat pekerja perempuan melaksanakan pekerjaan tersebut apabila masih ada pekerja laki-laki yang di sekitarnya.

 

Sudut pandang pemerintah

Pengarusutamaan gender adalah upaya melibatkan sudut pandang perempuan dan laki-laki dalam proses perencanaan dan implementasi suatu kebijakan, agar kebijakan yang dihasilkan dan program yang dilaksanakan memiliki manfaat yang setara bagi laki-laki dan perempuan.  

Sebagai sarana untuk mencapai kesetaraan gender, pengarusutamaan gender bisa menjadi salah satu solusi bagi kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di industri tambang. Sebagai ilustrasi, bedasarkan survei angkatan kerja nasional di tahun 2019, proporsi pekerja perempuan di industri tambang Indonesia tidak mencapai 10% dari jumlah keseluruhan tenaga kerja di sektor tersebut. Representasi yang rendah ini menimbulkan adanya kekhawatiran bahwa perempuan dan laki-laki tidak menerima manfaat yang seimbang dari industri tambang di Indonesia.

Kedudukan perempuan dalam masyarakat tambang sering dianggap lebih rentan pada setiap fase pertambangan, dari eksplorasi sampai penutupan tambang. Pekerjaan di sektor pertambangan pada umumnya masih dianggap sangat berisiko bagi perempuan. Perspektif ini didasarkan pada sudut pandang masyarakat terhadap peran perempuansehingga dampak kegiatan tambang menjadi berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Instruksi Presiden No.9/2000 memandatkan pengarusutamaan gender untuk dapat disertakan dalam semua proses pembangunan ekonomi. Hingga saat ini, kesetaraan gender merupakan salah satu agenda pengarusutamaan nasional yang dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Pada konteks pertambangan, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender.

“Pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan di industri ekstraktif di Indonesia dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas hidup perempuan, penguatan kelembangaan dan memberikan lebih banyak perhatian pada alokasi pembiayaan,” ungkap Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam Lokakarya “Peninjauan terhadap Pengarusutamaan Gender di Industri Ekstraktif di Indonesia.”

Female operators in a mining company
Female operators in a mining company.

 

Praktik-praktik pengarusutamaan gender

Berdasarkan temuan awal penelitian kami terkait pengarusutamaan gender di industri tambang di Indonesia yang dibiayai oleh pemerintah Kanada, pengarusutamaan gender telah diimplementasikan oleh sektor swasta dalam berbagai tingkatan. Meskipun beberapa perusahaan tambang masih menerapkan kebijakan yang buta/netral  gender, banyak dari mereka yang telah mulai mengembangkan pendekatan yang sensitif gender saat perancangan kebijakan dan menjalankan operasi perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut pada umumnya memberi akses yang sama bagi perempuan dan laki-laki, baik dalam hal rekrutmen, promosi, dan pengembangan karir.

Fasilitas dan alat pelindung diri yang ramah gender  juga disediakan oleh beberapa perusahaan agar perempuan merasa lebih nyaman bekerja di lapangan. Sebuah perusahaan bahkan telah berupaya lebih jauh untuk memperbaiki ketimpangan gender di ketenagakerjaan melalui kebijakan keberagaman. Perusahaan tersebut mendukung peningkatan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk memupuk keberagaman di tempat kerja. Strategi ini sering dianggap sebagai suatu langkah fundamental di mana kondisi ketimpangan gender masih tinggi.

“Menargetkan bahw perempuan terepresentasikan sebanyak sekian persen tanpa mengorbankan kompetensi individu penting untuk dilakukan ketika ketimpangan gender mencapai level yang mengkhawatirkan,” ungkap Jalal, seorang pakar gender dan pengembangan masyarakat.

Laki-laki juga telah dilibatkan dalam usaha mencapai kesetaraan gender, seperti melalui partisipasi dalam pelatihan yang bertujuan untuk menghilangkan bias dan pencegahan pelecehan seksual di tempat kerja. Pelatihan-pelatihan demikian bertujuan untuk memberikan pendidikan bagi laki-laki dan perempuan terkait topik yang berhubungan dengan gender.

Sebagai bagian dari usaha pendidikan bagi pekerja laki-laki, sebuah perusahaan tambang memperkenalkan cuti melahirkan yang lebih lama bagi karyawan laki-lakinya supaya mereka dapat memberikan dukungan emosional kepada istri yang baru melahirkan. CEO perusahaan tersebut menerangkan bahwa kesetaraan gender perlu didukung, baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja di industri tambang, perusahaan mulai menyadari manfaat dari adanya perempuan sebagai bagian tenaga kerja mereka. Manfaat tersebut antara lain adanya proses pertukaran ide yang lebih kreatif, proses negosiasi yang lebih efektif, rekam jejak perilaku keamanan yang lebih baik, dan, pada beberapa kasus, biaya perawatan kendaraan yang lebih rendah.

Perempuan sendiri berhasil membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama dengan mitra laki-laki dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Lebih jauh, cerita akan kesuksesan perempuan tersebut menginspirasi perempuan muda lain untuk bekerja di industri tambang.