Melindungi Masa Depan Indonesia: Menjadikan sekolah lebih aman bagi guru dan murid

This page in:
Image
Anak berpartisipasi dalam latihan menghadapi gempa bumi.

Juga tersedia di English

Minggu lalu saya berpartisipasi dalam Konferensi Tingkat Menteri Asia tentang Pengurangan Risiko Bencana. Melindungi sekolah, rumah sakit, murid dan pasien dari bencana alam menjadi agenda penting konferensi tersebut. Kegiatan ini memberi peluang bagi perwakilan berbagai negara di kawasan untuk berbagi pengalaman dalam membuat sekolah dan rumah sakit menjadi lebih aman saat terjadi bencana dan sesudahnya.

Indonesia yang terletak di ‘lingkaran api’ merupakan tempat yang cocok untuk menyelenggarakan konferensi ini. Banyak angka statistik yang diangkat selama konferensi, namun saya tidak bisa melupakan salah satu presentasi yang menyampaikan bahwa Indonesia mengalami lima aktivitas gempa setiap hari. Kota penyelenggara konferensi ini, Yogyakarya, mengalami gempa bumi pada tahun 2006 yang mengakibatkan 6.000 penduduk meninggal dunia, 900 sekolah hancur total, dan 1.200 lainnya rusak berat. Di luar kerugian nyawa dan kerusakan fisik, gangguan terhadap pendidikan anak serta dampak psiko-sosial kejadian berat seperti itu tak ternilai.

Masyarakat Yogyakarta tidak tinggal diam saat gempa terjadi. Sebagai bagian dari konferensi tersebut, para peserta diajak ke Bantul yang menjadi pusat gempa dan kehilangan 90 persen fasilitas pendidikan saat itu. Madrasah yang kami kunjungi rubuh dan sangat mengganggu kehidupah para murid. Untungnya gempa terjadi saat anak-anak tidak di sekolah, tapi kepala sekolah menceritakan bagimana pendidikan murid sangat terganggu karena pelajaran terpaksa diadakan di bawah tenda. Komunitas sekolah berjanji akan lebih siap di masa depan, dan membangun kembali ruang kelas agar lebih tahan gempa serta membuat rencana agar para murid tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Antusiasme dan latihan komprehensif yang mereka lakukan menunjukkan mengapa mereka menjadi pemenang ketiga dalam lomba persiapan bencana se-Asia.

Kisah madrasah di atas mencerminkan upaya di berbagai tempat di Indonesia untuk meningkatkan mutu infrastruktur sekolah dan memperkenalkan perencanaan bencana di sekolah. Dengan dukungan dari Bank Dunia, GFDRR dan Basic Education Capacity Trust Fund, pemerintah Indonesia sudah mulai menjalankan proyek percontohan di tiga provinsi untuk memperkuat ruang kelas agar lebih tahan bencana. Proyek percontohan juga mendukung pelatihan persiapan bencana bagi ribuan murid. Meski program ini masih dalam tahap awal, sepertinya sudah mencapai keseimbangan yang tepat antara elemen struktural dan non-struktural dalam hal persiapan bencana.

Proyek percontohan ini adalah langkah yang tepat tapi perjalanan masih jauh untuk memperkuat sekitar 100 ribu sekolah di wilayah rawan bencana, dan melindungi 12 juta murid yang belajar di sekolah-sekolah tersebut. Memprioritaskan wilayah mana yang paling rawan bencana dan memperluas proyek percontohan seperti ini penting dilakukan agar di masa depan kita bisa mengurangi kerusakan dan biaya pembangunan kembali pasca bencana.

Selama konferensi ini, pemerintah Indonesia memberikan komitmen untuk membuat sekolah dan rumah sakit menjadi lebih aman. Sebuah sesi khusus oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Wakil Menteri Kesehatan mengangkat pentingnya masalah ini. Deklarasi dari konferensi ini menekankan perlunya mendukung upaya local untuk menciptakan sekolah dan rumah sakit yang aman. Jutaan murid dan guru di kawasan ini memiliki harapan besar deklarasi tersebut akan diwujudkan menjadi sebuah tindakan untuk melindungi mereka di saat terjadi bencana.

[[avp asset="/content/dam/videos/ecrgp/2018/jun-2/disaster_preparedness_starts_young_hd.flv"]]/content/dam/videos/ecrgp/2018/jun-2/disaster_preparedness_starts_young_hd.flv[[/avp]]

 


Authors

Join the Conversation

The content of this field is kept private and will not be shown publicly
Remaining characters: 1000