Memulihkan dampak penutupan sekolah di Indonesia akibat pandemi COVID-19

This page in:
Indonesian school closed during the COVID-19 pandemic in 2020. Photo: Achmad/World Bank Indonesian school closed during the COVID-19 pandemic in 2020. Photo: Achmad/World Bank

Semenjak pandemi COVID-19 pada tahun 2020, penutupan sekolah di Indonesia telah menyebabkan perubahan mendadak ke pembelajaran jarak jauh yang memberikan tantangan pembelajaran bagi 68,8 juta siswa. 

Studi oleh Bank Dunia  menemukan bahwa perubahan ini menyebabkan hilangnya kemampuan belajar atau learning loss dengan estimasi antara 0,9 hingga 1,2 tahun dan penurunan kompetensi literasi sebanyak 25 hingga 35 poin pada skor membaca dalam tes Programme for International Student Assessment (PISA) hingga Juni 2021. Angka ini diantisipasi lebih rendah sejak periode penelitian selesai, karena penutupan sekolah berlanjut hingga awal 2022.  Studi ini juga menunjukkan bahwa kondisi psikososial dan kesehatan fisik siswa terdampak pandemi COVID-19.

Setelah adanya diskusi teknis antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia (Kemendikbudristek), Kementerian Agama (Kemenag) dan perusahaan pendidikan swasta, Bank Dunia telah menerbitkan tiga catatan teknis tentang pemulihan pembelajaran Indonesia: 1) Kerangka Kerja Pemulihan Pembelajaran Selama dan Pasca Pandemi COVID-19, 2) Pembelajaran Campuran (Hybrid Learning) yang Efektif dengan EdTech, 3) Dukungan Psikososial Selama dan Pasca Pandemi COVID-19. Ketiga catatan ini merekomendasikan solusi untuk pemberian layanan pendidikan berkelanjutan dan untuk mendukung kesejahteraan psikososial bagi siswa dan tenaga pendidik. 

Seiring dengan dibukanya kembali sekolah dan madrasah untuk tahun ajaran 2022, Kemenag dan Bank Dunia telah dapat mendukung upaya dukungan pemulihan pembelajaran  melalui proyek Realizing Education's Promise - Madrasah Education Quality Reform (REP MEQR) yang sedang berjalan.  Proyek ini berupaya menjawab tantangan akibat pandemi melalui peningkatan penggunaan teknologi pendidikan dan pemulihan  kesejahteraan  psikososial bagi siswa. Proyek ini juga telah melakukan asesmen pembelajaran siswa setelah adanya penutupan madrasah. Adapun asesmen dilakukan untuk mengetahui penyesuaian aktivitas kelas yang perlu dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan siswa.

Temuan dan rekomendasi dari studi dan catatan teknis:

 

1:  Kerangka Kerja Pemulihan Pembelajaran Selama dan Pasca Pandemi COVID-19

Catatan teknis ini mengidentifikasi beberapa faktor penggerak utama dalam upaya pemulihan pembelajaran berdasarkan kerangka kerja World Bank RAPID untuk Pemulihan dan Akselerasi Pembelajaran. Hal ini termasuk melakukan penilaian pembelajaran, menyesuaikan kurikulum, dan mendukung pengembangan kapasitas guru. Pemerintah Indonesia dan sekolah/madrasah telah mengambil langkah untuk memitigasi learning loss melalui penyederhanaan kurikulum untuk kondisi tersebut; meningkatkan efisiensi pengajaran melalui program peningkatan kapasitas guru; dan meningkatkan waktu pengajaran melalui bimbingan sepulang sekolah. Untuk mengembangkan hal-hal tersebut, pemerintah pusat dan daerah sebaiknya memantau implementasi kebijakan dan mempertimbangkan berbagai pilihan yang lebih luas untuk mengurangi dampak learning loss dan untuk mempercepat pemulihan pembelajaran siswa.

 

2: Pembelajaran Hybrid (Hybrid Learning) yang Efektif dengan EdTech

Catatan teknis ini memberikan panduan tentang pembelajaran yang fleksibel dan efektif dengan menggunakan Teknologi Pendidikan (EdTech) selama dan setelah pandemi COVID-19.  Menyadari peningkatan penggunaan aplikasi EdTech seperti Rumah Belajar dari Kemendikbud,  Madrasah E-learning dari Kemenag, dan aplikasi lain yang diperkenalkan oleh perusahaan swasta atau melalui kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan EdTech swasta, catatan ini mengidentifikasi peluang untuk menggunakan EdTech  untuk pembelajaran yang fleksibel dan efektif dalam kondisi biasanya maupun situasi yang berbeda atau istimewa. Catatan teknis menyarankan bahwa mengintegrasikan teknologi dalam sistem  pendidikan melalui lingkungan belajar secara daring maupun hybrid dapat meningkatkan ekuitas dan mutu, dimana upaya ini memberikan manfaat khususnya kepada siswa di daerah terpencil.

 

3: Dukungan Psikososial Selama dan Pasca Pandemi COVID-19

Lebih dari 25.000 anak Indonesia kehilangan satu atau kedua orang tua karena COVID-19.  Jutaan lainnya mengalami isolasi dari teman-temannya, mengalami tekanan untuk belajar dari rumah dengan bimbingan terbatas, dan banyak yang kesulitan untuk berkonsentrasi. Banyak yang melaporkan menjadi mudah kesal dan mengalami masalah tidur. Dampak ini telah mengurangi  kesejahteraan psikososial mereka, terlebih untuk anak-anak dengan disabilitas dan yang berasal dari kelompok marjinal.  Kurangnya aktivitas fisik dan adanya peningkatan waktu saat melihat layar gawai dikaitkan dengan masalah kesehatan tambahan termasuk obesitas, malnutrisi, dan miopia. Selain siswa, guru juga mengalami tantangan kesejahteraan psikososial serupa selama penutupan sekolah dikarenakan beban kerja yang lebih tinggi sebagai akibat dari bertambahnya permintaan untuk interaksi online, dan banyak yang harus beradaptasi dengan teknologi pembelajaran jarak jauh tanpa dukungan yang memadai. Situasi ini telah menyebabkan meningkatnya kecemasan dan stres di antara banyak guru di Indonesia.

Saat ini, terdapat beberapa regulasi untuk mendukung layanan psikososial bagi siswa dan guru. Untuk memastikan bahwa guru dan siswa mendapat manfaat dari layanan ini, diperlukan kerangka kerja sistem dukungan psikososial yang mengajarkan resiliensi, termasuk pedoman praktis tentang dukungan psikososial untuk lingkungan sekolah.

 

Apa Langkah Selanjutnya?

Saat ini, sekolah sudah dibuka dan siswa dapat kembali belajar di dalam ruang kelas. Langkah penting berikutnya adalah menerjemahkan kebijakan pemulihan pembelajaran ke dalam tindakan.   Bank Dunia akan melanjutkan upayanya untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam memitigasi dampak learning loss melalui asesmen hasil belajar siswa, mendukung pelatihan guru yang berfokus pada pemulihan pembelajaran dan mengidentifikasi cara-cara untuk  meningkatkan meningkatkan lingkungan kelas melalui pendekatan hybrid dan mengintegrasikan  EdTech, dan melalui dukungan kesejahteraan psikososial siswa dan guru.


Join the Conversation

The content of this field is kept private and will not be shown publicly
Remaining characters: 1000