Menulis ulang masa depan: Bagaimana Indonesia dapat mengatasi kerugian pembelajaran akibat pandemi dan meningkatkan hasil belajar untuk semua

This page in:
Photo: Husniati Salma/Unsplash Photo: Husniati Salma/Unsplash

Sebuah studi baru dari Bank Dunia menyajikan perkiraan kerugian pembelajaran anak-anak akibat penutupan sekolah terkait COVID-19 di Indonesia. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa penutupan sekolah hingga Juni 2021 telah mengakibatkan hilangnya sekitar 0,9 tahun pembelajaran dan 25 poin skor PISA siswa di bidang membaca . Jika berlanjut hingga Desember 2021, diperkirakan kerugian akan menjadi lebih besar. Menurut kalkulasi kami, jumlah pembelajaran yang hilang lebih ditentukan oleh kualitas dukungan pembelajaran terhadap siswa daripada durasi penutupan sekolah.

 

Upaya Mitigasi oleh Pemerintah Indonesia

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya besar untuk mengurangi dampak pandemi pada sistem sekolah, termasuk kurikulum darurat, TV pendidikan, dan pulsa internet untuk meningkatkan akses siswa terhadap pembelajaran jarak jauh. Namun, hasil dari upaya ini beragam. Misalnya, anak usia sekolah yang menonton TV pendidikan turun dari 56 persen menjadi 10 persen antara Mei hingga November 2020, dan pemberian pulsa internet tidak signifikan meningkatkan jumlah siswa yang mengakses pembelajaran daring, meskipun jumlah waktu yang mereka habiskan untuk pembelajaran jarak jauh setiap harinya meningkat (Survei Covid Frekuensi Tinggi 2021). Estimasi dampak pembelajaran siswa tersebut menjadi tantangan bagi sistem yang masih berkinerja rendah (Janji Pendidikan di Indonesia, 2020). Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Pemulihan Pembelajaran untuk mengidentifikasi cara-cara dalam meningkatkan respons terhadap situasi yang sangat sulit.

 

Faktor Penentu Kerugian Pembelajaran

Kami menemukan bahwa tingkat kerugian pembelajaran dan potensi pendapatan lebih ditentukan oleh efektivitas pembelajaran jarak jauh daripada durasi penutupan sekolah . Artinya, penting untuk menemukan cara yang lebih efektif dalam mendukung pembelajaran siswa secara jarak jauh, karena penutupan sekolah bisa terulang kembali akibat ancaman lain seperti risiko dampak pemanasan global. Materi pembelajaran jarak jauh yang berkualitas tinggi serta dukungan terhadap pendekatan cara mengajar baru sangat disarankan untuk mempertahankan minat siswa dan membantu mereka yang mengalami kesulitan.

Masih tingginya kasus COVID-19 saat ini memungkinkan sekolah dapat ditutup lebih lama lagi. Saat kami memperpanjang perhitungan bila sekolah ditutup hingga bulan Desember 2021, siswa Indonesia diperkirakan akan mengalami tambahan kehilangan 0,3 tahun setara pembelajaran di sekolah serta hilangnya 11 poin pada PISA (lihat gambar di bawah). Dengan proyeksi penutupan sekitar 50 persen sekolah pada tahun ajaran baru awal Juli 2021, nilai kerugian pendapatan seumur hidup untuk semua siswa Indonesia dalam perhitungan saat ini menjadi US$306 miliar , setara dengan 29 persen dari PDB 2020.
 

Gambar: Estimasi kerugian pembelajaran terhadap skor membaca PISA berdasarkan beberapa skenario antara Januari 2020 – Desember 2021

Image

 

Menuju Pemulihan Pembelajaran

Untuk mempercepat pembelajaran dan memulihkan kerugian dalam jangka pendek, sekolah dan guru perlu mengevaluasi apa yang telah dipelajari siswa selama diterapkannya penutupan sekolah, dan menggunakan pendekatan yang berbeda untuk setiap anak untuk mempercepat proses pembelajaran mereka. Agar pembelajaran jarak jauh berlangsung efektif, dinas pendidikan di tingkat kabupaten dan provinsi dapat melakukan sosialisasi ke sekolah di daerah masing-masing dan mengidentifikasi kebutuhan dukungan tambahan , terutama bagi guru yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan pengajaran jarak jauh. Dalam jangka menengah, dengan rencana pemerintah untuk membuka kembali sekolah secara bertahap setelah guru-guru divaksinasi, sekolah dapat dibantu untuk menerapkan pedoman kesehatan jangka panjang, termasuk memastikan fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan yang berfungsi bagi semua.

Dalam jangka panjang, pemerintah dapat meningkatkan ketahanan layanan pendidikan terhadap berbagai guncangan di masa depan termasuk dari pandemi, perubahan iklim, dan ancaman lainnya. Indonesia harus dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa secara keseluruhan dibanding prestasi yang dicapai sebelum pandemi, sekaligus meningkatkan ketahanan sistem pendidikannya. Ini mengacu pada rekomendasi dalam laporan yang baru saja diterbitkan, “Perjuangan Melawan COVID-19 dalam Pendidikan Indonesia: Tanggapan, persyaratan, dan kebutuhan kebijakan untuk pemulihan pembelajaran.”

Untuk lebih detil bagaimana Indonesia dapat mengatasi kerugian pembelajarannya, baca temuan dan rekomendasi lengkapnya  klik di sini

 

Dokumen terkait:


Authors

Noah Yarrow

Senior Education Specialist

Rythia Afkar

Education Economist

Join the Conversation

The content of this field is kept private and will not be shown publicly
Remaining characters: 1000